
Sahabat adalah orang kedua setelah keluarga yang akan peduli pada kita. ~Aqila Kanaira~
****
Dengan penuh kesabaran, Aqila, Khali dan Ibra menunggu di ruang tunggu. Mereka sama-sama gelisah dengan keadaan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Aqila sendiri, yang diceritakan kondisi Dini oleh Ibra pun menuai banyak pertanyaan di kepalanya.
Hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya pintu yang semula tertutup rapat mulai bergerak terbuka. Dari dalam, muncullah seorang dokter wanita bersneli putih yang sedang mengusap rambutnya agar terlihat rapi.
Sontak baik Ibra, Aqila maupun Khali mendekat dengan sejuta pertanyaan yang ingin mereka tanyakan langsung.
"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?"
Bukannya menjawab. Dokter tersebut malah terdiam mematung saat mengetahui siapa gerangan yang berdiri di depannya dengan dekat.
"Dokter," panggil Aqila dengan pelan namun tak berhasil membuat perempuan bersneli putih itu tersadar.
"Dokter!" seru Ibra dengan suara tinggi dan berhasil mengejutkan Dokter tersebut.
"Maaf, Tuan, Nyonya. Saya begitu terkejut saat mengetahui jika di depan saya adalah Anda," ucap Dokter tersebut setelah menenangkan dirinya yang gugup.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dokter. Bagaimana keadaan teman saya?" tanya Aqila mengulang pertanyaannya.
"Jika dilihat dari memar dan luka yang ada di wajahnya, saya meyakini jika teman anda adalah korban penyiksaan. Dugaan kuat juga ditambah dengan adanya luka di tubuhnya, Nyonya," ujar Dokter membuat mata Aqila terbelalak.
Jantungnya mencelos dan dia seperti sesak napas hingga membuatnya sedikit oleng. Namun, dengan sigap Khali melingkarkan tangannya di bahu sang istri hingga membuat Aqila tetap berdiri tegak.
"Berarti lukanya itu di seluruh tubuh, Dokter?"
"Iya, Nyonya."
Kabut air mata mulai merambat di pelupuk matanya. Aqila merasakan sakit di hatinya mendengar kabar dari sang Dokter. Selama ini, yang ia tahu Dini baik-baik saja. Bahkan saat mereka melakukan panggilan, suara Dini selalu terdengar bahagia. Namun, yang terjadi sekarang malah membuatnya berpikir berulang kali.
"Tidak perlu cemas, Tuan. Tak ada yang fatal dari semua titik lukanya, saya akan memberikannya obat dan salep agar lukanya cepat hilang. Namun, saya harus memeriksa tekanan mentalnya. Saya takut penyiksaan ini akan menimbulkan tekanan dan trauma dalam dirinya."
"Kalau begitu, lakukan yang terbaik, Dokter. Semua akan saya tanggung, tapi yang pasti, tolong sembuhkan teman istri saya," ucap Khali tegas dengan sorot mata tajam.
"Tanpa diminta saya akan melakukannya, Tuan Khali. Baiklah, pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat. Anda mengisi administrasinya dulu." Setelah mengatakan itu, Dokter tersebut pamit undur diri.
Setelah kepergian sang Dokter. Khali membawa istrinya yang terisak untuk duduk dan Ibra sendiri langsung mengurus administrasi wanita yang sudah membuatnya gelisah. Khali sendiri saat ini mencari cara untuk menenangkan Aqila, karena memang dirinya harus tetap menjaga kesehatan istrinya itu. Walau keadaannya memang tak memungkinkan, tapi apapun harus sesuai dengan instruksi Dokter, pikir Khali.
"Apa yang terjadi pada Dini, By? Kenapa dia tak pernah cerita padaku jika memiliki masalah seperti ini?" tanya Aqila dengan suara serak di pelukan suaminya.
__ADS_1
Aqila merasa menjadi sahabat yang tak berguna. Disaat sahabatnya susah, dia tak mengetahui apapun. Namun, elusan lembut di punggung serta bisikan kata menenangkan dari Khali sukses membuatnya tak gelisah seperti tadi.
Khali memang sosok suami andalan dan istimewa. Apapun keadaan sang istri, dia mampu menempatkan dirinya.
Tak lama, sebuah brankar keluar dari UGD dan didorong oleh dua orang suster. Melihat jika itu adalah sosok Dini yang lemah, wajah banyak luka lebam dengan mata terpejam, membuat ketiganya segera mengikuti langkah suster.
Sesuai dengan perintah Khali, ruang perawatan Dini adalah yang terbaik. Dia tak mau sahabat istrinya ini merasa tak nyaman. Ditambah, Khali yakin jika istrinya akan meminta menemani Dini sampai wanita itu tersadar.
"Istirahatlah dulu, Sayang. Nanti jika Dini sudah sadar, aku akan membangunkanmu," ucap Khali ketika Dini sudah selesai diletakkan di ranjang pasien.
Aqila mengangguk. Dia memang merasakan lelah. Ditambah nyeri haidnya yang tadi sempat terlupakan karena rasa cemasnya kini mulai terasa.
Dengan penuh hati-hati, Aqila merebahkan dirinya di sofa yang sudah disediakan. Sofa yang begitu luas dan panjang itu mampu menjadi tempat tidur sementara untuk Aqila. Hingga tak lama, terdengar tarikan halus dari dirinya dan menandakan bahwa wanita itu sudah terlelap dengan cepat karena terlalu lelah.
~Bersambung~
Maaf baru update yah. Jangan lupa di like dan komen oke.
Yang nunggu Aqila hamidun, sabar yee. Tenang.
Kalau cari Rafiena kemana, dia tersangkut di pohon toge sementara, hHaha.
__ADS_1