
Aku tak akan mengusik siapapun bila tak diusik duluan. Kalian sudah berani menyakiti istriku, maka aku akan membalasnya dengan hal yang setimpal. ~Khali Mateen~
****
Tidak perlu waktu lama, berita ini pun menyebar begitu luas. Semua wanita yang begitu menginginkan kedudukan sebagai istri Khali, tentu mendatangi kolom komentar sosial media milik Aqila.
Banyak hujatan dan umpatan yang dituding untuk wanita itu. Namun, Khali yang sudah paham akan kejadian seperti ini, tentu langsung meminta ponsel istrinya saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Dia tak ingin Aqila bersedih, Khali juga tak mau istrinya banyak pikiran dan akan mengacaukan segala usaha mereka sampai di titik ini. Bagaimanapun menurut Dokter Syifa, Aqila diperintahkan untuk banyak membayangkan hal-hal yang membahagiakan agar hormonnya selalu stabil.
Setelah keduanya sampai di Istana. Tentu Umi Mayra langsung memeluk menantunya. Dua orang paruh baya itu, sudah mendengar kabar menggegerkan ini. Mereka tak menyangka jika ada orang yang membuat kabar buruk seperti ini dan memanfaatkannya.
"Urus semuanya, Nak! Abi percaya sama kamu," ucap Abi Malik menepuk bahu anaknya.
"Aku pasti menyelesaikan semuanya, Abi," ujar Khali lalu menatap uminya. "Tolong jaga istriku, Umi."
"Tentu."
Umi Mayra langsung menarik tangan menantunya dan mendudukkannya di sofa ruang tamu. Dia menyerahkan segelas air putih agar Aqila mulai tenang.
"Jangan pikirkan mereka, Nak. Yang tau kehidupan kita, hanyalah kita sendiri," ucap Umi mengelus punggung Aqila.
__ADS_1
Aqila menghembuskan nafas berat. Dia meletakkan gelas itu lalu mengusap wajahnya.
"Apakah aku benar-benar akan menjadi wanita mandul, Umi?" tanya Aqila dengan tatapan sayu.
Perempuan itu tentu akan terguncang hatinya. Siapa wanita yang tak sakit hati, bila dirinya disebut wanita mandul?
Apalagi saat ini dirinya sedang menjalani program hamil dan juga penyembuhan akan penyakitnya.
Tentu pemikiran dan persepsi berita itu, mempengaruhi pikiran dan mental dari seorang Aqila Kanaira.
"Kamu gak mandul, Nak. Kamu sehat dan bisa hamil," ujar Umi pelan sambil menghapus air mata Aqila.
"Tapi aku pernah membaca berita bila orang yang terkena penyakit seperti aku, itu bisa saja mandul, Umi," ujarnya terisak.
Aqila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu begitu tertekan hingga terus menangis. Tak tega, Umi memeluk menantunya erat hingga membuat Aqila mendapatkan sedikit kekuatan.
"Maafkan aku yang masih lemah ini, Umi. Aku melupakan jika apa yang ada di dunia ini akan ada keajaiban dari Allah," ucap Aqila mulai menghentikan tangisnya.
"Kamu adalah menantu Umi yang kuat. Kamu adalah menantu Umi yang tegar, dan Umi yakin. Tak lama lagi, kamu bakalan diberikan hadiah oleh Allah atas segala perjuanganmu."
"Aamiin."
****
__ADS_1
Sedangkan di ruangan kerja Khali.
Dua pria tampan itu, dengan banyak koneksi langsung menghubungi semua anak buahnya. Khali yang wajahnya merah padam tentu tak sabar ingin mengetahui siapa dalang dari semua masalah ini.
Tak ada lagi pengampunan.
Tak ada kata maaf untuk semua ini.
Semua air mata istrinya harus dibalas dengan sempurna.
Dia tak rela Aqila menangis sedikitpun, karena selama menikah, Khali selalu berjuang untuk membahagiakan istri yang begitu dia cintai karena Allah.
"Aku ingin semuanya cepat berada di tanganku, Ibra. Semua masalah ini tak boleh sampai merembet di telinga Kerajaan Arab. Jika sampai tau, aku tak bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh paman dan kakeknya istriku," ucap Khali yang mengingat bila dua pria penjaga Aqila masih sehat bugar.
Raja Salim, yang merupakan adik dari papanya Aqila, tentu masih sehat walau umurnya tak lagi muda. Apalagi, Kakek Abdullah, pria tua yang merupakan orang tua dari papanya Aqila, masih sehat wal'afiat. Walau memang umurnya sudah begitu tua. Namun, dia tetap bisa mengoceh dan marah jika ada yang menyakiti cucu kesayangannya, Aqila.
"Dapat, Tuan," ucap Ibra tiba-tiba yang membuat Khali menghentikan pekerjaan.
Pria itu segera mengambil laptop yang berisi laporan dari orang kepercayaan mereka dan matanya menelisik pesan yang ada disana.
Nafas Khali memburu. Tangannya mencengkram pinggiran laptop dengan mata tajam.
"Aku sudah memperingatimu, tapi kau tak mengindahkannya. Jangan salahkan aku, bila aku menghancurkan segalanya."
__ADS_1
~Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote yah~~~