Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 5


__ADS_3


Allah memberikan ujian, bukan karena Dia membenci. Melainkan penciptamu hanya ingin menguji seberapa besar kesabaran yang kau punya. ~Khali Mateen~


****


Di sebuah ruangan tertutup yang dipenuhi lemari buku, sebuah meja kerja dengan kursi kerjanya. Terdapat dua orang pria tampan tengah berbicara begitu serius. 


Terlihat sekali jika di antara mereka tengah membahas sesuatu hal yang begitu penting. Bahkan dilihat dari dua wajah tanpa senyuman tak mengurangi kadar ketampanan itu bisa ditebak begitu jelas. Siapa lagi, jika bukan Raja Khali dengan Asistennya, Ibrahim. 


Semenjak status seorang Raja tersemat di namanya. Pekerjaan seakan terus menggunung. Bahkan bisa Khali tebak, jika dirinya selalu berkutat dengan banyak berkas dan pertemuan, hingga waktu liburan bersama istrinya berkurang. 


Jika diingat, sebelum dia menjabat sebagai Raja, hampir setiap hari mereka liburan berbalut bulan madu ke semua negara. Tapi sekarang, sudah hampir beberapa tahun belakangan ini, mereka hanya keluar untuk perjalanan bisnis. 


Akan tetapi, setelah kejadian tadi pagi, Khali terpikirkan untuk melakukan liburan. Dirinya merasa Aqila pasti begitu bosan dan tertekan di dalam Istana. Apalagi Khali akui, jika dia selalu meninggalkan istrinya sendirian untuk bekerja. 


Untung saja, Khali mulai tersadar. Jika apa yang dilakukannya selama ini adalah salah. Karena pekerjaan, dia sampai lupa tanggung jawab akan kebahagiaan batin istrinya. Walau Aqila tak pernah mengeluh kepadanya, seharusnya seorang suami harus begitu peka. 


Betul bukan?


Semoga para pria yang berstatus suami baca novel ini jadi ikut tersadar yah, hehehe. 


"Kamu urus saja semuanya, Ibra. Aku ingin mengajak istriku ke Indonesia," ujar Khali sambil menyandarkan punggungnya.


"Baik."


"Tolong atur semua pekerjaan selama aku pergi. Aku tak mau waktuku diganggu ketika bersama istriku," tegas Khali yang langsung dijawab oleh Ibrahim tak kalah tegas.


"Apakah Anda yakin, jika Ratu tak akan merasa tertekan ketika pulang kesana?" tanya Ibra dengan sopan.


Ibra yang selalu berada di samping Raja, tentu mengetahui alasan kenapa Khali tak pernah membawa Aqila pulang. Selain karena jadwal kerjanya padat, sebenarnya Khali hanya ingin menjaga istrinya.


Asal kalian tahu, walau Khali berada di Brunei. Semua berita yang ada di Indonesia dan masih berhubungan dengan sang istri pasti dia ketahui.


Dari kelahiran anak dari pernikahan James, mantan Aqila.


Serta Kehamilan kakak iparnya yang tak lain, istri Axel saudara kandung sang istri, tentu Khali tahu.


Semua itu pasti membuat jiwa Khali bersiaga. Dia tak mau istrinya bersedih. Namun, sepertinya takdir sedang mengajaknya berjuang sekali lagi.


Tadi siang, mertuanya menghubungi dia mengabarkan jika istri dari Axel sudah melahirkan. Mama Angel juga meminta tolong untuk memberitahu Aqila dan meminta Khali membawa putrinya ke Indonesia. 


Maka dari itu, Khali berinisiatif mengajak istrinya berkunjung sekaligus berlibur. Dia akan mengalihkan kesedihan Aqila dengan mengajaknya bulan madu setelah dari rumah Mama Angel. 


"Aku sangat yakin, Ibra. Aku tak mungkin terus menutupi semua dari istriku," ucap Khali memejamkan matanya.

__ADS_1


"Baiklah. Saya akan menyiapkan semua surat izin penerbangan dan perlengkapan, Anda."


"Terima kasih."


Ibra langsung pamit undur diri, meninggalkan Khali yang masih sama dengan posisinya semula. Dia tak berniat untuk beranjak. Kepalanya begitu sakit memikirkan semua yang terjadi. 


"Semoga kamu mau menerima alasanku, Sayang. Aku hanya ingin menjaga perasaanmu selama ini." Doa Khali dengan hembusan nafas berat. 


****


Adzan Magrib mulai terdengar membuat semua umat muslim saling berebut mengerjakan kewajibannya. Begitu pula dengan Khali, pria itu segera bergegas menghadap sang Illahi. Dia ingin menumpahkan segala kegundahan dalam hatinya pada sang Rabbi.


Hanya kepadaNya, tempat curhat terbaik yang dia punya.


Hanya berdoa kepadaNya, semua kesulitan dalam hatinya perlahan hilang. 


Bersujud dihadapan Allah meminta ampunan dan perlindungan selalu dia ucapkan dalam doanya. Menengadahkan kedua tangan, mencurahkan segala kepenatan dalam dirinya agar sedikit merasa lega.


"Ya Allah. Berikan kekuatan pada kami untuk melewati segala ujian yang engkau berikan."


"Aamiin."


Setelah menyelesaikan kewajibannya. Khali segera menuju ke kamar utama untuk menemui istri yang sudah dia rindukan.


Menekan handle pintu begitu pelan dan didorongnya tanpa suara agar tak mengejutkan seseorang yang ada di dalam. Tatapan Khali tertuju pada sosok hatinya yang sedang bersimpuh memanjatkan doa pada Allah. Suara serak tanda istrinya menangis terdengar di telinganya. 


"Ya Allah, By. Kenapa gak ucapin salam?" tanya Aqila saat melepaskan mukena dari kepalanya.


"Hubby tak ingin mengganggu wanita cantik yang tengah memanjatkan Doa."


Aqila tersenyum dan dia segera mencium tangan sang suami. Setelah melihat istrinya telah selesai, Khali segera membawa Aqila menuju sofa yang ada di kamar. Mendudukkannya dipangkuan dan dengan sigap, Khali melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Ada apa, By?" tanya Aqila mengusap rambut sang suami.


"Kita akan ke Indonesia," ucap Khali dengan suara tertahan.


"Hah?" Aqila menjauhkan kepala sang suami dari tubuhnya. "Beneran, By?" 


"Iya, Sayang."


"Memang ada perjalanan bisnis ke sana?" tanya Aqila menatap wajah sang suami.


Khali menggeleng hingga membuat kening Aqila mengerut. 


"Lalu?" tanya Aqila yang bingung.

__ADS_1


"Kita ke Indonesia karena ingin menjenguk seseorang," ujar Khali membuat tubuh Aqila menegang.


"Menjenguk siapa, By? Mama sakit? Kak Adel sakit? Atau ponakanku Taqy?" tanya Aqila beruntut.


"Ustt pelan-pelan, Sayang." Khali tersenyum. Dia mencium bibir sang istri yang menurutnya begitu menggemaskan jika seperti ini.


"Terus siapa yang sakit?" 


"Gak ada yang sakit, tapi kita ke Indonesia untuk menjenguk ponakan barumu."


"Ponakan baru? Maksud Hubby apa?" 


"Istrinya Kak Axel telah melahirkan."


Deg.


Degupan jantung Aqila begitu kencang. Apa katanya barusan. 


Melahirkan?


Itu jadi selama ini kakak iparnya hamil? Tapi kenapa dia tak tahu kabar itu.


"Sayang." Khali mengusap pipi sang istri membuat perhatian Aqila kembali terarah kepadanya.


"Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?" tanya Aqila menutupi rasa sedihnya. 


Kesedihan yang dia rasakan tentu tertutupi akan kebahagiaan yang baru saja dia dengar. Namun, ada sedikit rasa kecewa ketika mengetahui bahwa berita ini sepertinya sengaja di tutupi darinya. 


"Maafkan, Hubby. Hubby yang meminta semua diam untuk menjaga perasaanmu," ucap Khali menunduk.


Dia menyesal telah menutupi semuanya, tapi apa yang harus dilakukannya sekarang. Toh semua telah terjadi dan Khali tentu akan bertanggung jawah atas apa yang sudah dia lakukan.


Aqila mengangkat wajah sang suami dan memberikan senyuman terbaiknya. "Aku sudah begitu kuat mendengar kabar seperti itu, By."


"Aqila gak sedih, By. Aqila malah bahagia mendengar kabar kakak ipar hamil dan sekarang melahirkan. Ayo kita pulang, By! Aku ingin melihat wajah ponakan baruku," ucap Aqila membayangkan wajah lucu ponakannya nanti.


Khali ikut bahagia. Dia tak menyangka jika istrinya tak marah dan mengerti akan alasan yang dia berikan. Segera Khali kembali memeluk istrinya begitu erat.


"Semoga kebahagiaan mereka segera kita raih juga, Sayang. Allah hanya sedang menguji kesabaran kita sekarang."


"Aamiin."


~Bersambung~


Ehemm Jangan lupa tekan likenya yah. Biar performanya stabil.

__ADS_1


Berikan komentar terbaik kalian.


__ADS_2