
Itu seperti ilusi. Namun, terasa nyata di depan mataku. ~Aqila Kanaira~
****
Dini menjerit histeris. Di depan matanya sendiri dia menyaksikan mobil yang dikendarai sahabatnya terbalik dengan begitu hebat. Kecelakaan itu terjadi dalam sekejap dan tentu menyisakan sebuah sakit yang tak dapat dibayangkan.
Dini masih mematung di dalam mobil. Dia shock bukan main. Bahkan wajahnya sampai memucat ketika melihat mobil sahabatnya sudah berhenti berguling dan dalam keadaan berbalik.
Oksigen di sekitarnya seakan sesak. Dia dengan linglung mulai turun dan hampir jatuh jika tak ditangkap oleh salah satu pengawal kerajaan.
"Anda tidak apa-apa, Nona?"
"Aqila," panggil Dini dengan air mata mengalir.
"Kita harus segera membantu Ratu, Nona. Apa anda bisa berdiri sendiri?"
Dini mulai menetralkan emosinya. Dia berpegangan pada pintu mobil dan menenangkan rasa shocknya. Trauma yang muncul ditambah adegan mobil terguling membuat bayangan itu bermunculan.
Tapi ini bukanlah hal yang tepat.
Menarik nafas berat, Dini mulai menguatkan hatinya. Dia berjalan menuju mobil yang terbalik dengan sejuta harapan semoga sahabatnya baik-baik saja.
****
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil yang sudah kacau balau. Pecahan kaca terlihat berserakan. Bahkan kepala Aqila mulai berdenyut kuat hingga membuat gadis itu membuka matanya walau sedikit.
Pandangannya mengabur. Ia merasakan basah di area kepalanya hingga membuatnya tak tahu harus melakukan apa. Kakinya seperti terjepit dan membuatnya tak bisa bergerak.
Nafasnya bahkan mulai sesak. Aqila memilih memejamkan matanya ketika kepalanya terasa begitu sakit.
"Allah." Hanya kata itu yang muncul di mulutnya.
Hingga perlahan, matanya kembali terbuka dan...
Deg.
Sepasang anak sedang bergandengan tangan di dekat mobilnya. Anak perempuan dan laki-laki itu menatapnya dengan wajah datar. Namun, Aqila masih bisa melihat wajah dua anak itu yang melihat ke arahnya sampai dia berbalik dan membuatnya ingin menyusul.
"Jangan pergi!" serunya pelan bahkan nyaris tak terdengar.
****
Tak memperdulikan apapun. Dini segera mendekat dan melihat para pengawal mulai membuka pintu mobil yang terbalik dengan paksa.
"Cepat buka pintu itu!" ucap Dini dengan begitu cemas.
Matanya menatap wajah sahabatnya yang penuh luka dengan darah mengalir dari kepalanya. Wajah Aqila sudah pucat hingga membuat Dini begitu takut.
Setelah melakukan percobaan dua kali. Akhirnya pintu itu terbuka.
__ADS_1
"Minggir. Aku yang akan membawa Ratu Aqila keluar!" sentak Dini.
Dia segera mengulurkan tangannya. Membuka seatbelt yang melingkar di tubuh sahabatnya dengan hati-hati. Dengan doa yang selalu ia panjatkan dalam hati. Akhirnya Dini berhasil menarik tubuh Aqila keluar dari mobil.
Tak memperdulikan apapun. Dini segera menyobek gamis bagian bawahnya untuk menjadi penutup di kepala Aqila.
"Bertahanlah, La! Jangan tinggalkan aku!" lirihnya ketakutan.
Mobil pengawal mulai mendekat. Dengan sekuat tenaga dan dibantu para pengawal, Aqila mulai dimasukkan ke dalam mobil berbantalan paha Dini. Dia sudah tak memperdulikan apapun, yang terpenting saat ini mereka harus segera ke rumah sakit.
"Cepat, Pak!" teriak Dini dengan air mata yang mengalir deras.
Dia begitu kalut saat ini. Apalagi melihat kain sobekan yang dijadikan perban untuk menyumbat kepala Aqila mulai berubah merah. Yang menandakan jika darahnya terus mengalir dengan deras.
"Aku mohon bertahanlah, La. Ingat masih ada suamimu yang pasti akan menyesal jika kau meninggalkannya seperti ini," bisiknya sambil memeluk kepala sahabatnya.
Kejadian ini benar-benar terjadi begitu cepat dan tak terduga. Semua orang benar-benar tak percaya jika satu mobil asing yang berhasil kabur itu mampu lolos dari terjangan mobil sang Ratu yang berguling tanpa terkena goresan sedikitpun.
Hal ini tentu sudah direncanakan, dan Dini yakin jika target mereka adalah Aqila Kanaira.
~Bersambung~
Ini emang udah alurnya yah. Mon maap, hiks.
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Follow instagram aku @ini_jblack
kalian boleh DM buat tanya-tanya kelanjutan buku ini.