Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 23


__ADS_3


Yang aku inginkan hanya bisa bersamamu. Meski aku harus menyingkirkan wanitamu, pasti akan aku lakukan. ~Rafiena Yuwana~


****


Selama perjalanan menuju Brunei, hanya satu orang yang terlihat begitu senang. Siapa lagi jika bukan si gadis cantik, Rafiena. Mengetahui bahwa hari ini mereka jadi ke Brunei, tentu membuat perasaannya tak karuan.


Bersama Kakak dan wakil perdana menteri Malaysia, mereka akan menemui Raja Khali untuk membahas tentang kerja sama dalam bidang ekonomi. Biasanya yang hadir dalam pertemuan seperti ini, cukup wakil perdana menteri saja. Namun, mengingat bahwa ini juga perihal sang adik, maka Ammar meluangkan waktu agar Rafiena bisa mengejar cintanya.


Mungkin terlihat salah memang, tetapi yang namanya Kakak selalu ingin adiknya bahagia. Apalagi sejak Rafiena kecil, apa yang dia inginkan akan terpenuhi. Hingga sebesar ini pun, akhirnya kata itu melekat.


"Apakah nanti aku bisa berduaan dengan Rajaku, Kak?" tanya Rafiena kesekian kalinya.


Gadis itu benar-benar sudah tak sabaran hingga tanpa sadar bertanya hal yang sama sebanyak tiga kali.


"Kamu pasti bisa bertemu dengannya. Namun, jika untuk berduaan sepertinya sulit," ujar Ammar memberikan pengertian. 


"Ih aku gak mau tau, Kak. Aku maunya bisa mengobrol berdua," ketus Rafiena dengan wajah cemberut. 


Ammar menoleh ke arah sang adik yang duduk di sampingnya. Dia mengelus kepala Rafiena dengan lembut dan mengangguk.


"Kakak usahain kamu bisa berduaan dengan Khali yah."

__ADS_1


"Nah gitu dong." Rafiena bertepuk tangan. "Aku sayang, Kakak."


"Aku juga menyayangimu, adikku." 


Setelah melakukan penerbangan. Akhirnya mereka telah tiba di Bandara Brunei. Di sana ternyata sudah ada mobil milik Kerajaan Brunei yang menunggu kehadirannya. 


Ibra juga turut serta menyambut tamunya itu dengan baik. 


"Selamat datang di Tanah Brunei," sambut Ibra sambil menundukkan kepalanya sedikit.


Perdana menteri bernama Datuk Wan menjabat tangan Ibra dengan senyuman mengembang.


"Rasanya berada disini begitu damai."


Mereka segera meninggalkan Bandara dan melesat menuju Istana Brunei. Sepanjang jalan, Rafiena sudah duduk dengan gelisah. Bahkan tangan gadis itu berkeringat dingin merasa gugup untuk bertemu dengan kekasih hatinya.


Beberapa kali membenarkan duduknya. Hingga Ammar menarik telapak tangan sang adik dan menggenggamnya.


"Tenanglah. Sebentar lagi pasti ketemu," ujar Ammar membuat Rafiena diam dan mengangguk.


Iring-iringan mobil yang membawanya mulai memasuki gerbang Istana. Dari dalam mobil, Rafiena bisa melihat sang pujaan hatinya berdiri disana. Namun, matanya beralih ke arah tangan yang melingkar pada pinggang seorang wanita yang sudah diyakini sebagai istri dari cintanya itu. 


Sekarang kau yang disana. Nanti, aku yang akan ada disana menggantikanmu, batin Rafiena sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


Setelah dibukakan pintu mobil. Ammar dan Rafiena keluar dari mobil. Berjalan dengan anggun, mereka mulai menghampiri posisi dua orang paruh baya yang dulunya menjabat sebagai Raja dan Ratu sebelum digantikan oleh putranya.


"Selamat datang, Raja Ammar," ucap pria paruh baya yang begitu Ammar tahu sebagai ayah dari Khali.


"Terima kasih, Tuan Malik. Atas penyambutannya," ucap Ammar sambil berjabat tangan.


Rafiena awalnya masih diam. Tiba-tiba mendengar suara seorang wanita paruh baya membuatnya mendongak.


"Wah coba lihat, siapa yang ikut?" Rafiena tersenyum canggung.


"Perkenalkan, adik saya bernama Rafiena Yuwana," ucap Ammar mengenalkan.


Segera gadis yang disebut namanya itu mendekat dan bersalaman. Bergantian, dia menuju ke arah istri dari pria tampan yang mencuri hatinya dan keduanya bersalaman.


Mata Rafiena tak berhenti mencuri pandang ke arah Raja Khali. Ya, pria yang mampu menggaet hatinya sampai dia memilih jomblo sampai sekarang adalah Khali Mateen.


Pria yang sudah beristri itu tentu tak membuat Rafiena gentar. Dia semakin berusaha untuk mencuri kesempatan dalam kesempitan agar bisa bersama dengan Raja dari Brunei itu. 


Tanpa Rafiena sadari. Jika gelagatnya sejak tadi sudah dilihat oleh seorang gadis cantik yang berdiri di samping suaminya. Menatapnya penuh dalam hingga membuatnya faham apa arti tatapan Rafiena sendiri.


~Bersambung~


Kaborr dulu, takut diamok warga TeamAqilaKhali, hihihi.

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like yah~~~


__ADS_2