
Akan ada pertemuan kita yang selanjutnya setelah pertemuan pertama kita berakhir. ~Ibrahim~
****
Di Ruang Kerja Istana.
Terdapat seorang pria yang tengah bersiap-siap menuju rumah sakit atas perintah Tuannya. Ibra tak mau menunda lagi, dia harus gerak cepat jika perihal kesehatan Ratunya sendiri.
Bergegas, Ibra keluar dari Istana dan memasuki mobil miliknya. Dengan kekuasaan sebagai orang kepercayaan Raja, membuat Ibra memiliki kekuasaan hampir sama seperti Khali.
Tujuannya saat ini adalah rumah sakit tempat Aqila dulu bekerja. Dia akan menyusuri satu per satu tempat dengan tanggung jawabnya sendiri, untuk memastikan semua yang terbaik bagi istri Tuannya.
Memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit. Ibra segera melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit besar itu. Saat hendak menuju resepsionis. Tiba-tiba tubuhnya disenggol oleh seseorang hingga membuatnya sedikit terhuyung.
"Kamu!" keduanya saling menatap tajam dengan telunjuk saling menunjuk.
"Cih. Bahkan kita bertemu kembali dan kau kembali menabrakku," ungkap gadis yang tak lain adalah Dini.
Dia segera memunguti satu persatu berkas yang jatuh di lantai dengan mulut tak henti menggerutu.
"Astaga." Khali memijat pelipisnya saat mengetahui wanita yang begitu tidak dia sukai ini. "Siapa yang menabrak dan siapa yang mengomel?" sindirnya membuat Dini tak menggubris.
"Biar kita impas!" setelah mengatakan itu, Dini segera menyerahkan beberapa berkas ke resepsionis.
Setelah semua urusannya selesai. Gadis itu segera meninggalkan tempat dan berjalan untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Tapi tunggu dulu!
Kenapa dia merasa diikuti. Berbalik, mata Dini membola melihat musuhnya itu ternyata mengikutinya.
"Mau ngapain ikut-ikut?" tanya Dini dengan melototkan kedua matanya.
"Aku ingin kau membantuku sekarang!"
"Cih. Di alam mimpi." Dini hendak berjalan meninggalkan Ibra, hingga perkataan pria itu membuatnya mematung.
"Aku mohon, bantuanmu kali ini untuk sahabatmu sendiri."
Deg.
Degupan jantung Dini begitu kuat. Dia segera berbalik dan menatap Ibra dengan sorot mata penuh tanya. Siapa yang dimaksud olehnya, berpikir, Dini berusaha mengingat hingga satu nama yang membuatnya tersadar.
Tangan Dini menggoyang lengang Ibra hingga tanpa sengaja kedua kulit itu saling bersentuhan menghantarkan getaran aneh dalam diri Ibra.
"Lepaskan tanganku dan aku akan menceritakannya"
Mengetahui kesalahannya, Dini segera melepaskan tangannya dan mengikuti Ibra menuju salah satu tempat duduk ruang tunggu.
Perlahan Ibra mulai bercerita pada Dini dan mengatakan niatnya menuju kesini. Sungguh semua penjelasan Ibra membuat Dini terkejut sekaligus shock.
Gadis itu sampai menutup mulutnya dan menggeleng karena tak percaya akan penjelasan pria di depannya. Namun, melihat raut wajah Ibra yang serius membuatnya mau tak mau harus menerima kenyataan ini.
"Jadi ini serius?" tanya Dini untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Ya," sahut Ibra mencoba sabar. "Maka dari itu, tolong antarkan aku dan carikan Dokter Kandungan yang terbaik disini."
"Oke."
Akhirnya dengan bantuan Dini. Ibra menyelesaikan semua urusannya dengan cepat. Bertemu Dokter dan melakukan rencana janji temu semua berjalan lancar dengan ditemani suster cantik di sampingnya.
Hingga setelah semua urusan selesai. Ibra segera mengirim pesan pada Tuannya dan sedikit menghembuskan nafas lega.
Tanpa banyak bicara. Ibra segera meninggalkan Dini yang duduk di depannya tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu tentu membuat gadis yang sedikit lelah mencibir akan tingkah lakunya itu.
"Untung ganteng. Kalau gak ganteng sudah ku tendang setelah pergi tanpa mengucapkan terima kasih," gerutunya hingga membuat matanya membulat menyadari perkataannya sendiri.
"Ih ganteng dari mana sih. Nyebelin yang ada dan cueknya ya ampun."
~Bersambung~
Ternyata Dini kalau lagi gini lucu juga yah, hihi. Ibra minta digetok kepalanya, Din.
Team siapa nih?
Team Dini Ibra
atau
Team Aqila Khali
Jangan lupa vote dan like ya guys~~~
__ADS_1