Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 49


__ADS_3


Aku tak menyangka jika semua usahaku harus hancur, karena dosa kecilku berniat membantu adikku merusak rumah tangga orang lain. ~Tengku Ammar Yuwana~


****


Kedatangan utusan dari Kerajaan Brunei tentu membuat seisi Istana Malaysia gempar. Pria yang menjadi tersangka utama itu segera turun menemui utusan itu. Hatinya sungguh diselimuti ketakutan yang akan terjadi selanjutnya.


Bagaimanapun Ammar tak lupa bila Kerajaan Brunei menjalin sebuah kerjasama besar dengan Kerajaan Arab. Bahkan pernikahan Khali dan Aqila menjadi pernikahan yang juga menyatukan dua kerajaan tersebut. 


Kerajaan yang besar semakin besar dan kuat karena kinerja Khali dan keluarga Abdullah dalam bekerja sama. Hingga hal itu tentu membuat nyali Ammar sedikit menciut bila apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi.


"Mohon maaf, Raja Ammar. Bila kehadiran saya mengganggu waktu istirahat, Anda," ujar utusan Brunei dengan hormat.


"Tidak apa-apa. Ada apa?" tanya Ammar dengan menormalkan detak jantungnya.


Utusan itu maju dan mengeluarkan map coklat dari dalam tasnya lalu dia letakkan di atas meja.


"Apa ini?" tanya Ammar dengan kening berkerut.


"Itu berkas dari Raja Khali untuk, Anda." 

__ADS_1


"Baiklah. Apakah hanya ini?" tanya Ammar menatap utusan di depannya dengan sorot mata tajam seperti biasanya.


"Raja Khali menitipkan pesan, bahwa beliau dan keluarga menunggu permintaan maaf dari Putri Rafiena langsung."


Deg.


Jantung Ammar berdetak kencang. Dia menelan ludahnya paksa entah suaranya seperti tercekat. Ingatannya berputar ke kejadian kemarin saat dia mengusir gadis yang menjadi adiknya itu, dan sekarang, entah dimana Rafiena berada. 


"Baik. Berikan kabar jika kami akan segera terbang ke Brunei." 


"Iya, Raja. Terima kasih. Saya pamit."


Setelah utusan itu undur diri. Ammar segera membuka berkas yang diletakkan didalam amplop coklat besar. Dia membukanya tak sabaran hingga akhirnya berkas itu bisa dibukanya.


Sungguh Ammar tak menyangka bila isi dari surat itu adalah pembatalan kerja sama besar mereka. Bahkan disana juga ditulis, jika Khali tak akan menjalin hubungan lagi dengan Malaysia mulai detik ini. 


Jika seperti ini, masalah ini sudah begitu besar. Ammar tak bisa berdiam diri. Pria itu harus bisa menyelesaikan semuanya dan meredam ocehan orang-orang diluar sana. 


Mungkin sebagian orang sudah teralihkan dengan berita tentang Rafiena. Namun, tak sedikit masih ada orang yang menghujat Aqila sampai mengatakan jika dia harus rela dimadu. 


Uhh sungguh jejak digital ini begitu jahat. Apalagi orang lain hanya bisa mendengar dan melihat berita tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maka dari itu, Ammar semakin dibuat pusing oleh permasalahan ini.

__ADS_1


Tak mau mengulur waktu. Dia segera berjalan menuju ruang kerjanya dan memanggil orang kepercayaannya. Ammar harus hari ini juga ke Brunei. Dia harus menyelamatkan Kerajaan Malaysia dan harus bisa mendapatkan maaf dari Khali dan keluarganya. 


****


Di tempat lain.


Di sebuah ruangan kamar yang begitu luas, terdengar bunyi decitan ranjang dan desahan yang nyaring disana. Terlihat seorang wanita sedang bergerak liar di atasnya. Sepertinya keduanya sedang mengejar kepuasan masing-masing hingga berakhir dengan jeritan indah dari bibir mereka.


Nafas yang tersengal-sengal menandakan keduanya sudah berpacu dengan cepat. Mereka mulai mengakhiri permainan ini dan si perempuan berguling ke sisi prianya.


"Apakah kamu yakin ingin membantuku?" tanya perempuan itu dengan jari bermain di atas dada pria itu.


"Tentu saja aku akan membantumu. Tapi ada syarat yang harus kau bayar," bisik si pria dengan tak lupa menjilat telinga wanitanya dengan sensual.


"Tentu saja. Aku akan menuruti segala syarat yang kau berikan. Tapi, kau harus bisa membantuku untuk mengambil cintaku dari tangan wanita mandul itu." 


"Tentu saja, Baby. Kau akan mendapatkan cintamu itu. Yang penting, tubuhmu ini akan selalu menjadi milikku." 


~Bersambung~


Hujat besar-besaran yok, kabor.

__ADS_1


Jangan lupa di like, komen dan vote yah~~~


__ADS_2