Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 83


__ADS_3


Sebuah perbuatan maka ada pertanggung jawaban. Maka apapun itu, dia harus siap untuk menanggungnya. ~JBlack~


****


Suara tawa bahagia begitu memekakkan telinga terdengar di seluruh ruangan. Seorang perempuan tengah bertepuk tangan dengan keadaan sedikit mabuk. Uhh benar-benar bahagianya semakin besar setelah mendapatkan kabar bila rencananya berhasil dengan sempurna.


Bukankah ia pernah bilang. Jika apapun yang Rafiena rencanakan pasti akan berhasil. Lalu sekarang? Terbukti bukan.


Dia kembali menenggak minuman beralkohol itu sambil berjalan menuju sound kecil yang biasa dipakai memutar musik. Setelah tangannya menekan salah satu tombol. Akhirnya suara musik mulai terdengar. 


Menggerakkan tubuhnya. Ia mulai bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tangan memegang sebotol minuman. Hidupnya seakan ringan sekarang. Lawannya sudah lenyap dan Rafiena tak sabar untuk menghadapi hari esok.


Dia sudah membayangkan besok akan muncul pengumuman jika Ratu Brunei meninggal dalam sebuah kecelakaan. Pikiran-pikiran itu seakan terbayang bercampur dengan otaknya yang mulai berhalusinasi. 


"Hahaha. Aku akan memakai gamis hitam dan kerudung hitam besok. Lalu aku akan menangisi kuburanmu," ucapnya sambil mengangkat botol minuman dengan kepalanya bergerak. 


Benar-benar Rafiena berharap Aqila mati di tempat. Dia sudah tak sabar untuk meraih pangerannya, belahan jiwanya dan pemilik hatinya.


Khali Mateen, pria yang akan ia miliki sebentar lagi. Akan ia peluk, ia kecup dan ia kurung di dalam kamar untuk menjadi boneka kesayangannya.

__ADS_1


Hingga tak lama, terdengar suara gedoran pintu membuat wanita itu berhenti bergoyang. Dia mengerutkan keningnya dengan bibir mengerucut.


"Berani-beraninya ada yang merusak kebahagiaanku," serunya sambil meletakkan botol minum di meja dengan kasar. 


Berjalan dengan sedikit sempoyongan. Rafiena segera berjalan menuju pintu apartemen. Ia buka pintu itu hingga menyembullah tubuh seorang pria tegap dengan wajah rupawan.


"Oh, Cintaku. Kau disini? Ingin berpesta?" ucapnya pada pria yang selalu menghangatkan ranjangnya. Lebih tepatnya dia yang menjadi budak nafsu pria itu. 


Saat tangannya hendak menyentuh rahang tegasnya. Tiba-tiba tanpa diduga, pria itu mencekik leher Rafiena hingga membuat tubuh wanita itu terbentur di dinding. 


"Dasar wanita bodoh! Tidak tahu diri! Apa yang kau lakukan?" teriak pria itu di depan wajah Rafiena.


Terdapat banyak kemarahan di wajah pria tampan itu. Bahkan sorot matanya tajam dan aura membunuh begitu jelas kentara.


Wajah wanita itu sudah memerah dengan dada yang sudah kembang kempis. Rafiena benar-benar sudah merasakan aliran darahnya berhenti hingga membuat pandangannya mulai mengabur.


Cekikan pria itu benar-benar menyakitkan hingga ia yakin pasti akan meninggalkan bekas merah.


"Kau ingin menghancurkanku, 'heh?" tanya pria tampan itu dengan wajah yang begitu dekat. 


"A...pa mak..sut...mu?" tanya Rafiena dengan suara yang sudah lirih. 

__ADS_1


"Kau menggunakan mobilku untuk menabrak mobil Aqila. Meninggalkan jejak dan tak mematikan kamera jalan. Kau ingin memberitahukan Khali siapa dalang di belakangmu, 'kan?" teriaknya kencang membuat telinga Rafiena sakit. 


Rafiena sudah tak mampu menjawab. Nafasnya sudah hampir habis. Hingga pria itu melemparkan tubuh lemah itu sampai terbentur lantai.


Uhuk uhuk.


Suara batuk terdengar dengan nafas tak beraturan. Rafiena, wanita itu tak berdaya di atas lantai apartemen. Dia memegang lehernya yang sakit dengan hidung berusaha menghirup oksigen begitu banyak.


Pria itu berjalan mendekati Rafiena. Dia berjongkok dan menatap wajah itu penuh kebencian. Ditariknya rambut panjang itu hingga membuat wajahnya mendongak dengan rintihan kesakitan.


"Lepaskan! Ini begitu sakit…" ucapnya dengan mata terpejam. 


"Apa sangat menyakitkan?" bisik pria itu pelan penuh penekanan.


"Ya. Tolong lepaskan aku," rayu Rafiena.


"Jangan harap!" sentak pria itu melepaskan kepala Rafiena hingga terkantuk di lantai. "Aku sudah tahu rencanamu, Jalang." 


~Bersambung~


Lah lahh iya toh.

__ADS_1


Dibilangin lawannya dia gak sepadan, hehehe.


Jangan lupa like dan komen.


__ADS_2