
Mendidik seorang anak memang bukanlah hal mudah. Namun, kepribadian anak tentu menjadi tanggung jawab seorang orang tua. Terlepas dia adalah anak angkat atau kandung, tugas orang tua tetap sama. Mendidiknya hingga menjadi seseorang yang berhati baik. ~JBlack~
****
Sebuah tamparan mendarat dari tangan Abi Raden yang sejak tadi diam. Tamparan itu juga membuat pelukan Rafiena dari istrinya terlepas.
Pria itu sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Rafiena saat ini. Dia sudah ketahuan salah, kenapa tetap membela diri.
"Dasar tidak punya harga diri. Kamu harus sadar, jika pria yang kamu sukai sudah memiliki istri," ujar Abi Raden dengan suara tinggi. "Dia itu suami orang, Rafiena. Dan kamu jangan pernah berpikir untuk menjadi pelakor di antara mereka."
"Aku bukan pelakor, Abi," ucap Rafiena membela diri.
Gadis itu menguatkan dirinya untuk berdiri di hadapan keluarganya. Keluarga yang dulu menyayangi dan menjaganya. Namun, sekarang semua berubah dan Rafiena menganggap ini karena ulah berita dari Aqila itu.
"Lalu kalau bukan pelakor, apa sebutan pantas untuk seorang wanita yang menyukai suami orang?" sindir Umi Raida.
Rafiena diam.
"Seharusnya sekarang kamu itu sadar, kalau yang kamu lakukan itu salah. Tapi ternyata kamu tetaplah kamu. Gadis jalanan yang tidak punya malu dan harga diri."
__ADS_1
Emosi Rafiena sudah di ubun-ubun. Dia sampai mengepalkan tangannya kuat hingga memutih. Tanpa pikir panjang, dia mendorong Umi Raida sampai wanita itu hampir terjatuh ke lantai kalau tidak ditangkap Ammar dengan cepat.
"Rafiena!" teriak Ammar dan Abi Raden Murka.
"Lihat Abi! Dia sudah menunjukkan keaslian sikapnya sekarang," ucap Umi Raida kepada suaminya.
"Abi gak habis pikir sama kamu. Abi dan Umi mengajari kamu agar menjadi seorang putri yang berhati baik. Namun, semua itu salah."
"Jangan salahkan aku, Abi. Salahkan istrimu yang mulutnya begitu pedas."
Plak.
Tamparan kedua kalinya jatuh hingga membuat sebagian wajahnya memerah. Rasa panas menjalar hingga membuat Rafiena menatap wajah-wajah keluarganya dengan kebencian mendalam.
Dia sudah tak melihat sisi baik dan manja seorang Rafiena dalam dirinya. Abi Raden tak melihat kelembutan lagi di dalam diri gadis itu.
Rafiena benar-benar sudah berubah menjadi wanita kasar karena kesalahannya sendiri, dan lebih hinanya. Dia tak mau menerima dan mengakui kesalahannya di hadapan mereka.
"Itu belum cukup, Abi. Wanita itu memang pantas mendapatkan itu dariku," sahutnya menatap sinis ke arah Umi Raida.
"Diam!" akhirnya Ammar yang sejak tadi diam mulai bersuara.
__ADS_1
Pria yang dikenal menyayangi adiknya itu melangkah ke depan mendekati Rafiena. Tatapan keduanya terkunci dengan arti berbeda.
Bila Rafiena, gadis itu menatap kakaknya dengan amarah yang terkumpul. Tapi tidak dengan Ammar, pria itu menatap iba dengan kondisi adik angkatnya ini.
Jujur, Ammar saja baru tahu kenyataan tentang adiknya. Dia baru mengetahui bila adik yang selalu dia sayang bukanlah adik kandungnya. Sebenarnya sampai detik ini, dia tetap menyayangi Rafiena layaknya seorang adik.
Namun, melihat sikap gadis itu yang sudah diluar kendali. Ammar tak mau mengambil resiko. Dia juga tak menyangka bila pernah menyetujui rencana adiknya itu. Tapi jujur, dia ingin menggunakan cara yang sehat. Bukan macam cara milik Rafiena.
Tapi semua sudah menjadi bubur dan tak bisa diperbaiki. Tak mau semakin membuat masalah. Akhirnya Ammar mencengkram pergelangan tangan Rafiena hingga membuat gadis itu kesakitan.
"Sakit, Kak," ringisnya sambil mencoba melepas cengkraman kakaknya.
"Kamu sudah keterlaluan, Rafiena. Sikapmu sudah di luar batas. Lebih baik kamu angkat kaki dari Istana ini. Pergi!"
~Bersambung~
Gimana gimana?
Apa masih kurang balasannya?
Jangan lupa like dan komen yah~~~
__ADS_1
Votenya juga hehe