
Sean segera mengambil handuk besar yang terlipat rapi dalam lemari khusus handuk didalam kamar mandinya lalu membungkus tubuh polos Shelly sambil memalingkan wajah agar tak membuatnya menderita insomnia.
Sean lantas membimbing Shelly kembali kedalam kamar dan mendudukannya di bibir ranjang. Membuka laci nakas dan mencari sesuatu yang ia butuhkan.
"Bisa buka tanganmu?" pintanya lembut sembari berlutut dihadapannya.
"Panas om... sakiiit.. huhuuu..." Shelly masih merintih, enggan untuk membuka tangannya.
"Pelan pelan ya, yuk aku lihat dulu seberapa parah luka nya. Ga pa pa, aku punya salep buat luka bakar, nih, lihat?" bujuk Sean mengangkat tube berisi 10gr yang berupa obat untuk menangani luka bakar ringan.
Shelly menghentikan rintihannya lalu sedikit mengintip diantara sela jarinya. Namun dia enggan untuk membuka tangannya.
"Kenapa? ayo buka. Gak pa pa, aku bakalan ngelakuinnya pelan pelan aja ya" tanya Sean seraya membujuk.
"Aku.. aku malu om" gumam Shelly masih menutup wajahnya.
"Gak pa pa, aku gak akan ngejek atau ngetawain kok. Ini harus segera ditangani. Abis ini kita ke dokter ya"
"Bukan malu sama luka" sanggah Shelly membuat Sean melipat keningnya.
"Om udah liat semuanya" lanjut Shelly mencicit.
blush
Seketika wajah Sean kembali memerah kala diingatkan pada kondisi polos istri kontraknya.
"Hah?.. liat.. eng.. enggak.. aku gak liat apa apa" bohongnya terbata. Sungguh Sean sedikit ingin menyemburkan tawa.
"Boong.." cicit Shelly lagi.
"Dikit.." lirih Sean yang tak berani membohongi Shelly.
"Tuh kaaaan... momyyy... huuu.. Shelly di intipin om om, huhuu..." Shelly kembali merintih membuat Sean gemas tersenyum.
"Udaaah.. anggap aja ngasih sedekah sama aku. Sekarang kita obatin dulu ya, nanti melepuh kulitnya" Sean kembali membujuk dengan lembut.
Shelly perlahan menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Lantas mengeratkan lilitan handuk agar tak melorot karena dia tak mengenakan apapun lagi didalamnya.
Shelly menggigit bibir bawahnya menahan malu.
Sean memperhatikan satu per satu luka yang tampak kemerahan pada pipi, rahang, leher, turun ke...
__ADS_1
glek
Sean tahu arah bawahnya itu apa.
"Apa.. apa kamu bisa mengobati bagian lain? aku bisa mengoles yang di wajah kamu, tapi di.." ucapannya dipotong Shelly.
"Sama aku aja" sergah Shelly yang langsung meraih tube itu. Namun dia melupakan pegangan pada handuknya.
deg
Sean membulatkan matanya pada dua benda bulat nan kenyal.
"MESUUUM..." pekik Shelly sambil melayangkan telapak tangannya.
plakk
Pagi menyapa, Rosie tengah menunggu kawanan anak domba di ruang makan.
"Mana kakak mu?" tanya Rosie pada Axel yang muncul lebih dulu.
Ada yang aneh dengan mood Axel pagi ini. Tidak seperti biasanya yang ceria, awal hari ini lelaki berusia nanggung itu tampak tidak bersemangat. Yang tadinya selalu bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan menu baru yang dibawanya dari mimpi, kini dia enggan untuk menyentuh spatula sedikitpun.
"Hhh... lagi bikin pasukan" jawabnya ngasal.
"Pasukan kodok nek" jawabnya lagi membuat Rosie semakin melipat dalam keningnya. Dia lantas tak mencari lebih jauh lagi karena melihat kekesalan di wajah Axel.
Shelly turun terlebih dahulu dengan pakaian yang membungkus rapat tubuhnya di pagi yang terik.
Sean menyusul di belakang sambil mengusap rahang dan membuka lalu mengatupkan rahang beberapa kali.
"Pagi nek" sapa Shelly yang tampak sedikit tenang dibanding hari biasanya sambul menarik kursi di sebelah kanan Rosie disusul Sean yang menyapa dan menarik kursi di sebelah Shelly.
Rosie membalas sapaan kedua orang yang baru bergabung dengan menundukkan kepala.
Mereka lalu mulai memakan sarapan mereka dengan diam tak sepertu biasanya yang ramai.
Rosie tak menyukai suasana sepi seperti ini. Terasa dingin. Bagaikan tinggal dengan mahluk astral.
prak
Rosie menyimpan kasar sendoknya pada meja.
__ADS_1
"Ada apa dengan kalian, hah?" tanya Rosie menggema di ruang makan yang luas dan sepi.
Ketiga orang itu terperanjat.
"Biasa, nek. Orang abis tarung bikin pasukan ya gitu. Liat aja jejak pertarungannya" ketus Sean sambil menarik turun kaos rajut model turtle neck milik Shelly yang menutup rapat luka merah itu.
"Axel.. bego lu ya.." pekik Shelly yang terkejut akan tindakan tiba tiba ponakan rasa kembaran nya itu.
"Sel, pelan pelan dong. Jangan kasar kek gitu bisa kan?" hardik Sean pada Axel karena khawatir luka Shelly mengelupas.
Rosie melihat sekilas warna kemerahan di leher Shelly, lalu menautkan kesepuluh jari nya sambil berfikir. Menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi lalu bertanya.
"Kalian.." Pertanyaan yang akan Rosie layangkan langsung dipotong Sean.
"Sean yang salah, nek. Harusnya Sean lebih kenceng lagi teriaknya. Jadinya gitu deh. Maaf.. tapi abis ini kita mau periksa ke dokter kok. Moga aja gak kenapa napa" harap Sean yang merasa bersalah karena tidak tegas dan jelas memberitahu Shelly pasal keran yang rusak itu.
"Periksa? memang udah berapa kali?" tanya Rosie.
"Baru sekali ini, nek. Tapi Sean janji bakalan lebih hati hati lagi" ucap Sean sembari mengacungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Baru sekali aja kalian langsung ke dokter? ya mana bisa langsung tokcer. Eh.. tapi banyak juga ya remaja yang kejadian sekali langsung tokcer. Yaudah, makan yang banyak biar sehat. Nenek tunggu berita baiknya" tukas Rosie yang langsung menaruh beberapa menu kedalam alas makan Shelly.
"Stop.. stop.. nek. Ini nenek mau ngalasin tukang gali, apa. Banyak bener kek gak nemu makan seminggu" sergah Shelly yang panik kala alas makannya menggunung karena ulah Rosie.
"Biar sehat, jangan banyak protes. Gendutan dikit badannya biar gak dibilang busung lapar" tukas Rosie sembari terus menambahkan lauk pada piring Shelly.
"Iya, gak kayak orang busung lapar, tapi kek buto ijo yang ada" gerutu Shelly yang meneruskan makanan berlebih itu pada Sean.
"Loh loh.. kok dikasiin ke aku, Shell" tolak Sean namun sudah terlambat.
"Om kan harus kerja, biar gak lemes kalo lembur" tukas Shelly yang disalah artikan oleh Axel.
"Emh yang udah di unboxing mah ngomongnya lembur teroooos" sindir Axel.
"Pa an sih, lo. Gajelas amat. Udah yu om, berangkat sekarang aja. Ngeladenin anak bau kencur bikin ati dongkol tau gak" cerocos Shelly sembari menarik paksa Sean yang akan menyantap sarapannya.
"E eh.. Shell.. mubazir itu, makan dulu" sanggah Sean yang berhasil ditarik paksa Shelly.
"Males ah. Pen nyari bubur ayam" celetuk Shelly masih menarik tangan Sean yang hampir tersungkur karena ditarik paksa Shelly.
"Ikutin aja mau nya, om. Kesian tar ileran" cibir Axel.
__ADS_1
"Lo gakan ikut, nyet?" teriak Shelly yang sudah hampir sampai di pintu masuk mansion.
"Hah.. gua diajak? ikooooot" Axel antusias jika diajak pergi Shelly kemanapun itu.