
Sean menarik dan memepet tubuh Shelly di balik tembok ruangan itu. Dia lantas membekapnya agar tak bersuara.
Shelly menatap manik mata yang dia rindukan, tapi dia tak boleh lemah. Belum saatnya dia berkata jujur.
"Apa anda ingin bunuh diri dengan terang terangan merekam di luar pintu seperti itu?" tanya Sean berbisik sambil menatap lekat mata indah milik istri amnesianya ini.
Sebelah tangannya ia gunakan untuk menumpu tubuhnya agar tak menekan calon buah hati mereka.
Shelly melepas tangan Sean yang membekap mulutnya.
"Setidaknya aku berusaha menegakkan keadilan" tukas Shelly dengan mata menyorot.
"Mmm.. ada yang nyoba jadi Sailormon ya..'dengan kekuatan bulan.."
"Berisik" ketus Shelly memotong cicitan Sean yang mengejek dirinya.
Sean terkekeh dengan kejutekan istrinya ini.
Shelly lantas berbalik dan pergi dengan rasa dongkol. Bisa bisanya dia digoda suami sendiri disaat seperti ini.
"Apa maksudmu Sean sudah menikah? dia gak pernah bilang udah nikah, bahkan keluarga besar kami juga belum mengadakan pesta apapun untuk.. tunggu.. ada.. waktu itu memang ada pesta, tapi aku sibuk denganmu. Tapi.. apa mereka mengumumkan secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya?" tanya Edrik lebih pada dirinya sendiri.
"Kamu gak tahu siapa istrinya?" tanya Evi memastikan.
"Mungkinkah wanita itu?" Edrik tampak berfikir dan tersadar akan sesuatu.
"Aku juga samar samar liat istrinya. Tapi dia mirip seseorang" Evi turut terfikirkan akan sesuatu.
"Jangan jangan Cindy" tebak Edrik. Evi mengernyit. "Siapa Cindy?" tanya nya kemudian.
"Wanita yang sedari dulu selalu mengejar Sean namun selalu tak digubris. Apa kamu ingat waktu sekolah dulu, saat kalian ada kerja kelompok di rumah Sean. Aku ada di sana waktu itu, dan gadis itu datang bersama dengan ayahnya lalu membuntuti Sean kemanapun" tukas Edrik memutar kembali memori masa sekolah Evi dahulu.
"Ah, gadis itu.. apa mungkin? tapi.." Evi tampak ragu karena jika memutar kembali memorinya dan mengingat sosok wanita yang dahulu selalu mengekori Sean kemanapun tidaklah sama dengan sosok wanita yang mana adalah istri Sean dan memergoki mereka tempo hari.
Edrik menangkap bayangan hilir mudik dibawah pintu. Dia lantas memberi kode pada Evi untuk diam.
jeglek
__ADS_1
Edrik membukanya tiba tiba untuk mengejutkan orang yang dia sangka tengah menguping pembicaraan mereka.
"Lo ada disini? dari tadi gue cariin. Ngapain disitu?" cecar Sean yang seolah sedari tadi mencarinya.
Sebenarnya Sean tengah mencari Shelly, namun takut istri yang dia yakini tengah amnesia itu menjauhinya. Namun siapa sangka jika sang istri tengah menguping pembicaraan Edrik dengan seseorang di ruangan itu.
"Ssstt.." Edrik menempelkan telunjuk di bibirnya tanda jangan berisik.
Sean mengerti karena dalam proses produksi yoghurt haruslah di ruangan yang tenang dan jauh dari kebisingan. Atau hasilnya akan gagal. Menurut penuturan Edrik yang seorang chef. Siapa yang tahu jika selama ini keterangan itu dia sampaikan untuk membodohi sepupu nya ini.
Sayangnya sepupu yang ia bodohi ini tengah mengumpulkan bukti kecurangannya yang ia kira seorang yang jujur.
Edrik lantas segera menutup pintu agar Evi tidak diketahui keberadaannya oleh sasarannya ini.
"Ada apa lo nyari gue? perasaan bukan jadwal lo nge cek pembukuan deh" sergah Edrik yang selalu merasa tak nyaman dengan kedatangan si pemilik resto.
"Yee, terserah gue dong mo dateng kapan aja" cebik Sean yang berharap akan ada kemunculan Shelly. Mereka ada di area resto, meja khusus pemilik resto yang di tempatkan di lantai atas menghadap void resto bawah.
"Gue mo minta kunci cadangan mobil gue" tukas Sean yang sebenarnya hanya alasan nya semata.
"Ck, lo gak butuh cadangannya kali" cebik Edrik yang merasa kecewa. Bahkan memiliki kunci cadangannya pun dia tak bisa. Setidaknya saat dia sedang iseng berkunjung ke rumah Rosie, tempat Sean menyimpan mobil idamannya itu, dia bisa membawanya kabur sesekali untuk sekedar dipamerkan pada wanita lugu korban penyaluran hasrat seksualnya.
"Maksud lo apaan?" tanya Edrik mengernyit.
"Maksud gue, lo kalo mo ewokan tuh modal dikit napa, sewa hotel kek. Malah di mobil gue. Inget ya. Itu masih mobil gue. Biaya perbaikan yang elo keluarin ga sebanding dengan harga pintunya doang" terang Sean, dengan kesal.
"Ewokan apaan? gue ga pernah gituan di mobil" sanggah Edrik.
"Lah terus, pejuh siapa dong yang tumpah di mobil gue? Sarap lo ya. Minjemin mobil sama sembarang orang" tukas Sean kecewa.
"Sialan" desis Edrik kala teringat jika mobil itu hanya pernah sekali ia pinjamkan pada orang lain. Dan itu adalah Evi.
Dan bayi yang dikandungnya yang lantas keguguran juga berarti belum tentu berasal dari benihnya.
"Dasar ular" geram Edrik dalam hati.
Tiba tiba terdengar kegaduhan dibawah sana.
__ADS_1
Edrik yang tak merasa kondisi tersebut biasa terjadi di restoran yang dikelolanya ini segera turun untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Karena sekilas terlihat dari atas, kegaduhan tersebut berasal dari meja kasir.
Sean tak langsung turun. Dia ingin mengetahui secara jelas dari atas.
Melihat jika sang istri tengah memiting lengan seorang wanita yang tampak tak asing baginya.
Sean lantas memutuskan untuk turun agar mengetahui duduk permasalahan lebih jelas karena ini menyangkut istrinya yang tengah mengandung anaknya.
"Ada apa ini?" tegur Edrik dengan suara tegas.
"Edrik, wanita ini.. bilang padanya siapa aku.. auh.." adu Evi sambil mengaduh.
"Aku sudah tahu siapa kamu. Kamu adalah pencuri berkedok teman kencan wakil bos, bukan?" sergah Shelly sambil menekan pitingannya.
"Shelly, lepaskan dia" titah Edrik dengan lembut.
"Melepaskan pencuri? heh.. not that easy, bos" (tidak semudah itu, bos).
"Itu hanya uang receh Shelly, lepaskan dia" Edrik memintanya lagi.
"Uang receh? apa segini adalah uang receh bagimu? " timpal Shelly meraih dan melempar sejumlah yang dirampasnya dari tangan Evi.
prakk
Uang pecahan 100 ribu an itu berhamburan.
Semua orang menganga dibuatnya.
"Lalu kenapa dengan itu? apa hak mu berbuat seperti itu, hah. Ingat kalo kamu hanyalah.."
"Istriku" Sean mengungkap jati diri Shelly, memotong ucapan Edrik yang meninggi.
"Haaah..." seru semua orang mengangakan mulut mereka. Sedangkan Shelly hanya memutar bola matanya.
Sean yang berseru lantang dari belakang para karyawan melangkah mendekat, lalu terkejut dengan penampakkan miris di depannya.
__ADS_1
"Apa kau mengenalnya, sayang?" sindir Shelly.