
Saat Shelly dinyatakan sudah siuman, semua orang mengucap syukur.
Shelly lantas dipindahkan ke ruang rawat VVIP saat tim dokter menyatakan kondisi Shelly sudah stabil.
Sean segera masuk untuk menemui dan memeluk istri tercintanya.
"Syukurlah kamu sudah bangun, sayang.." ucap syukur Sean mengecupi tangan dan wajah Shelly sambil tersedu.
Shelly menepis wajahnya. Meski lemah, namun mampu membuat hati Sean teriris karena penolakannya.
Tak masalah, pikirnya. Yang penting Shelly sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"Air.." pinta Shelly dengan suara lirih.
Sean segera mengisi air kedalam gelas yang ada diatas nakas disamping ranjang lalu menyodorkan sedotan melengkung kearah mulutnya.
Shelly meminumnya sedikit. Hanya sekedar membasahi tenggorokannya yang kering.
"Maaf, tuan. Bisa bicara sebentar?" tanya dokter meminta waktu Sean, suami pasien untuk menjelaskan beberapa hal.
Sean lantas pamit pada Shelly yang masih tampak belum normal kesadarannya.
Matanya kadang ia pejamkan cukup lama lalu ia buka kembali. Lalu sedikit menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan.
Sean mengikuti langkah dokter kearah ruangannya.
__ADS_1
"Saya turut senang dengan sadarnya nyonya Shelly Michael Andromeda. Namun ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Dan ini sangat penting demi kesembuhan istri tuan.
Nyonya Shelly mengalami trauma kepala yang cukup parah karena benturan yang cukup keras. Ada kemungkinan dia mengalami amnesia traumatik"
degg
Penjelasan dokter hingga kalimat itu membuat Sean tersentak.
"Amnesia ini merupakan yang lazim dialami korban kecelakaan. Namun amnesia ini bisa bersifat sementara, atau permanen" lanjut dokter.
Sean membelalakan mata.
"Maksud.. nya.." tanya Sean terbata.
"Kami minta maaf. Apa yang dialaminya bukanlah kuasa kami. Kami akan memberikan suplemen otak dan memberi perawatan terbaik kami. Hanya saja kami, khususnya saya menyarankan agar anda dan keluarga besar anda membantu dalam proses penyembuhannya. Dalam artian, jangan memaksanya untuk mengingat terlalu keras karena itu mungkin akan mencederai otaknya lebih parah. Karena memaksa memutar memori melibatkan syaraf pada otaknya. Terlebih dia sedang mengandung anak kalian. Jadi.. saya mohon kerja samanya agar nyonya cepat pulih" dokter menjelaskan panjang lebar. Namun seolah tak masuk dalam otak Sean karena dia terus menatap kosong pada satu arah.
Semoga dia tak melupakanku, melupakan cinta kita" harapnya berderaian air mata.
Dokter menepuk perlahan pundaknya untuk memberinya kekuatan.
Sean berjalan gontai kearah ruang rawat Shelly.
Setelah seminggu berlalu, Shelly tetap menolak mengenalnya. Kini kondisinya sudah sedikit membaik. Sudah bisa duduk sedikit tegak.
"Mama.. mama.. ini tatit nda... nang ni tatit nda.. pala na tatit nda..." saat Sean baru masuk ruangan, terdengar celotehan bocah itu.
__ADS_1
Tentu saja disertai kekehan kedua orang berbeda gender.
"Ekhem.." Sean mendehem untuk menginterupsi mereka. Rasa cemburu dan kesal ia tahan sebisa mungkin.
Ketiga orang itu berhenti tertawa dan langsung menoleh pada asal suara.
Terry yang tahu diri segera mundur lalu meraih Mario turun dari ranjang agar mengikutinya keluar ruangan.
"Sayang, kamu mau aku belikan apa?" tanya Sean yang mendekat dengan menampilkan senyum terbaiknya.
"Mas, mau kemana?" tanya Shelly pada Terry sembari meraih tangannya saat Terry hendak mundur.
"Mas?" heran Sean dan Terry bersamaan dengan alis yang sama sama diangkat sebelah.
"Kita mmm.. keluar dulu" jawab Terry tergagap.
"Siapa dia, mas. Kenapa kamu ninggalin aku sendirian sama dia?" tanya Shelly membuat Sean seketika bagai disambar petir.
"Kamu.. masih gak ingat aku?" tanya Sean tercekat.
Shelly menggeleng.
"Aku suamimu, sayang. Mana mungkin kamu-"
"Maaf, anda salah. Dialah suamiku" jawab Shelly menunjuk Terry dengan matanya, memotong ucapan Sean.
__ADS_1
JEDDEERRR