
"Dasar rese. Napa sih, akhir akhir ini ketemu orang orang rese. Perasaan bukan hari sial gue deh" gerutu nya kesal.
Shelly melangkah memasuki mobil untuk pergi ke perusahaan tempatnya magang. Dia izin datang terlambat karena ingin menanyakan alamat dosen, namun staff administrasi masuk pukul 8, dan dia datang 1 jam lebih awal, jadilah mengikuti kelas statistik terlebih dahulu untuk memanfaatkan waktu daripada klantang kluntung berkeliaran gak jelas. Tapi tetap saja bertemu orang gak jelas.
Kecewa karena tak mendapat apa yang dia butuhkan, Shelly memutuskan untuk kembali lagi besok pagi.
"Nyet.. mo kemana?" pekik Axel masih menjalankan motornya masuk pekarangan kampus.
"Magang lah" jawab Shelly terlihat kesal.
"Trus ni vitamin gimana?" tanya Axel mengangkat kantong kresek putih berlogo kan apotik 24 jam.
"Lo tambulin aja lah. Males gue" balas Shelly yang lantas melajukan jeep mewahnya ke perusahaan.
"Yee.. dasar jalu gak jelas. Tadi aja lemes. Baru juga dibeli vitaminnya udah badas aja. Apa lagi kalo diminum?" gerutunya yang lantas memarkirkan motor dan masuk ke kafetaria untuk menunggu kelas selanjutnya.
Shelly tiba di perusahaan. Netranya menangkap mobil yang sangat ia kenal.
"Mau apa nenek ke sini?" batinnya sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
Shelly turun dan mengunci mobil. Lalu berlari kecil kearah lobby menyerahkan bungkusan berisi nasi padang pada pak Kimung dan satu sekuriti lain.
"Pak, ni buat makan siang sama rekan bapak" ucapnya bersahabat pada pak Kimung yang disambut haru.
"Aduuuh neng.. meni baik banget si eneng. Tiap hari beliin makan siang buat bapak. Nanti buat bayar kontrakan eneng gimana?" tukas Kimung.
Setiap hari Shelly selalu membelikan nasi bungkus untuk mereka untuk makan siang karena dia tahu jika waktu makan mereka kadang tidak sempat untuk membeli makan meski harus bergantian berjaga. Karena para tamu yang selalu datang saat makan siang.
Dengan keberadaan Shelly dan inisiatifnya, mereka sangat berterimakasih. Selain menghemat waktu, mereka juga tak pernah menahan lapar lagi kala siang hari.
"Nenek.. " seru Shelly saat melihat Rosie berjalan tertatih dengan tongkatnya diikuti sang ajudan.
Rosie perlahan menoleh lalu ekspresinya berubah cerah kala melihat kedatangan Shelly menghampirinya.
"Nenek mau ke ruangan Tian" jawab Rosie.
"Kenapa lewat sini?" lanjut Shelly terheran karena Rosie berjalan berlawanan arah dengan lift.
"Ah, iya lift nya rusak. Ya sudah, nenek mau lewat tangga" jawab Rosie lagi.
__ADS_1
"Hah, tangga? serius nenek mau lewat tangga? ke lantai 10?" Shelly memberondong Rosie dengan pertanyaan tang membuat Rosie berkeringat.
Rosie tak menjawab.
"lantai 10?" bathinnya.
"Kenapa gak telfon aja nek?" lanjut Shelly yang membimbing Rosie duduk di kursi lobby.
"Ponselnya gak diangkat. Lagipula kata resepsionis Tian lagi rapat. Jadi nenek putuskan menunggu di ruangannya. Tapi lantai 10..." ucapannya menjeda.
"Tunggu sebentar, nek" pintanya yang langsung melesat kearah lift yang memanglah bertuliskan sedang diperbaiki.
Shelly pun bertanya pada resepsionis dan membenarkan papan pengumuman itu.
Shelly lantas meminta izin untuk menggunakan lift khusus direksi dengan alasan mengantar ibu presdir.
Namun lift tersebut juga sama.
"Halo, kak. Bisa tunggu aku di tangga darurat lantai 3?" tanya Shelly pada Sean. Fia berniat menggendong Rosie hingga lantai 3 dan bergantian dengan Sean sang suami untuk 3 lantai barikutnya.
__ADS_1
"Tangga darurat? oh iya. Kita belum pernah main di tangga darurat" ucap Sean senyum senyum kala merasa ide Shelly cukup menantang adrenalin dalam bercinta.
🤦🏻♀️