
"Nek, Sean pulang ke apartemen dulu malem ini. Mama mau bawain calon istri buat Sean. Menurut nenek gimana?" tanya Sean meminta pendapat Rosie melalui sambungan telpon.
"Apa? calon istri? lalu Shelly mau kamu kemanain? gak.. gak bisa.. masa kamu mau ngeduain Shelly?" protes Rosie.
"Ya justru itu masalahnya. Sean baru bilang udah punya pacar tapi mama keukeuh maunya Sean nikah sama pilihan mama. Apa Sean terus terang aja gitu ya?" keluh Sean. Baru kali ini dia curhat dan minta pendapatnya membuat hati Rosie menghangat.
"Ya sudah, kamu terus terang saja. Kalau perlu bantuan nenek, tinggal bilang. Pokoknya nenek gak mau Shelly disakitin apalagi diduain. Nenek potong bebek kamu" saran Rosie diakhiri ancaman.
"Yahh, nenek.. bebek Sean udah jadi soang, nek. Main sosor teruss" kekeh Sean menggoda sang nenek.
"Kam.. udah ketularan Shelly kamu ya.. dimana tuh anak, nenek kangen. Udah, nenek mau nyari cucu mantu nenek dulu. Inget kamu jangan sampe ngambil keputusan yang bikin Shelly sakit hati"
Rosie langsung mematikan sambungan telpon membuat Sean menggelengkan kepala.
"Nenek ini suka aneh kalo nyangkut tentang Shelly. Gimana mau ketemu, orang Shelly nya aja sekantor sama aku" monolog Sean sembari terkekeh.
Beruntung dia bertemu Shelly meski diawali dengan tragedi lalu berakhir nikah paksa.
Semoga mama mau nerima Shelly apa adanya seperti nenek. Harap Sean.
Sungguh Sean tak mau hari berakhir.
Dia tak mau pulang ke apartemen dan bertemu dengan orang yang akan mama nya bawa.
"Apa aku kabur aja ya" monolognya berjalan mondar mandir di ruangan kantornya.
"Ha.. mending aku ajak Shelly aja. Kalo gak mau, ya aku paksa. Aaayyy... ayem kamiiing..." Sean segera meraih tas kerja dan keluar ruangan, berharap Shelly belum pulang.
"Kamu berani ngelawan aku, hah? kamu pikir dengan penampilan kamu pak Sean bakalan mau sama cewek murahan kek kamu, hah?" sarkas Meli menunjuk wajah Shelly yang terlihat tenang.
Yap
Sean mendapati Shelly tengah bersitegang dengan Meli si karyawati senior yang menjanda karena kedapatan selingkuh.
Itu menurut rumor yang keluar dari ghibahan karyawati lain yang menamakan dirinya 'Meli Setiawati yang tidak setia'.
Shelly meraih kerah rendah Meli dan mencengkeramnya.
"Lo pikir lagi kalo mo ngatain orang murahan. Heh, murahan teriak murahan. Ngaca lo" tegas Shelly menghempas tubuh Meli ke kursi kerjanya.
Dia tak peduli kalo sekarang tengah disaksikan para karyawan lain. Dia tak bisa di intimidasi.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Sean memutuskan melerai mereka. Dia tak mau terjadi sesuatu pada istrinya.
"I.. ini pak.. anak magang ini kedapatan godain pak direktur" ucap Meli terbata, membuat Sean seketika membulatkan matanya.
"Sialan lo, ngomong sembarangan. Siapa yang godain" Shelly merangsek hendak menjambak rambut Meli. Namun berhasil Sean tahan.
"Kendalikan dirimu. Ingat, kamu bawa nama kampusmu" bujuk Sean yang lantas disalah artikan oleh Shelly yang tengah emosi.
"Jadi bapak ngebela dia? lebih percaya sama mulut bau dia? waaahh.. luar biasa.. perusahaan ini ternyata lebih memilih membela yang salah karena status pekerjaan mereka" ucap lantang Shelly sembari bertepuk tagan karena kesal.
"Bukan itu maksud saya. Semua bisa diselesaikan dengan tenang, oke. Jangan mempermalukan dirimu seperti ini" bujuk Sean.
"Dia yang mempermalukan saya, pak. Saya gak terima dituduh godain atasan, padahal dia yang terang terangan ngerayu atasan. Semua orang juga lihat kan?" Shelly membela diri seraya bertanya pada para penonton opera sabun cuci.
Namun mereka hanya terdiam. Membungkam mulut mereka serapat rapatnya.
"Realy? kalian takut sama sundal satu ini? heh.. amazing.. Maaf pak, saya mundur magang disini. Saya berniat nyari ilmu, tapi lingkungan toxic kek gini yang ada malah bunuh diri saya" Shelly melempar keras name tag nya ke atas meja lalu meraih tas nya dan berjalan meninggalkan ruangan.
"Shelly ku.." batin Sean yang merasa seketika hampa.
Dia lantas mengejar Shelly tanpa berfikir panjang. Dia tak mau hubungan mereka yang jadi taruhan.
"Shelly.. Shelly tunggu.." seru Sean yang berhasil meraih tangan Shelly.
Sean langsung menariknya dalam pelukan. Dan itu sukses membuat orang orang yang tengah berhamburan pulang menutup mulut mereka dengan sebelah tangan karena tak percaya dengan apa yang dilakukan sang manajer operasional idola mereka.
"Jangan marah, please" bisik Sean ditelinga Shelly.
Shelly pun terkejut dengan sikap Sean. Dia lantas meronta agar Sean melepaskannya. Namun Sean semakin mengetatkan pelukannya.
"Jangan pergi dariku. Aku gak sanggup kalo kamu ninggalin aku" lanjut Sean lirih membuat Shelly terenyuh akan sikapnya.
"Kita bisa disalah pahami orang orang, pak" timpal Shelly sedikit tenang.
"Aku bahkan akan mengumumkan tentang kita bila perlu" tukas Sean membuat Shelly mengulum bibirnya.
"Tapi belum saatnya, pak" lirih Shelly.
Sean melonggarkan pelukannya lalu memundurkan tubuhnya seraya memegang kedua pundaknya.
"Aku tahu, tapi aku minta kamu tenang. Jangan sampai kamu keluar dari sini dan jauh dari aku. Aku gak sanggup" tambah Sean.
__ADS_1
"Ck, om bucin" cebik Shelly yang dibalas cubitan di pipi.
"Apa? bilang sekali lagi, aku umumin sekarang nih" gemas Sean.
"Ampun.. ampun pak" Shelly mengaduh mengusap usap pipinya.
"Nasib pemagang oooh pemagang, gini amat" keluhnya bersungut.
"Dah, yok. Masuk" titah Sean yang membuka pintu penumpang depan.
"Tapi pak-" sanggah Shelly yang langsung mendapat pelototan Sean.
"Gak boleh membantah" sergah Sean langsung memotong sanggahan Shelly dan mendorongnya masuk ke mobil, mengabaikan tatapan tanya para karyawan.
Sean menyunggingkan senyum. Biar saja mereka menduga duga. Karena percuma menyanggahpun pasti mereka tetap pada sangkaan mereka.
"Kita mau kemana, pak?" tanya Shelly yang sadar jalurnya berbeda dengan arah mansion.
"Ke apartemen" jawab singkat Sean.
"Apartemen bapak?" lanjut Shelly.
"Bisa berenti manggil aku bapak? kita udah keluar dari kantor" tukas Sean yang jengah mendengar panggilan untuknya yang seolah jauh lebih tua.
"Pak.. pak.. pak.. pak.. pak.." ejek Shelly yang membuat Sean seketika membanting stir dan menghentikan mobilnya. Membuka seat belt lalu menyergap Shelly dan menjajal mulut dan bukit teletubiesnya.
Shelly lagi lagi kena hukuman nikmat yang membuatnya ketagihan, meskipun menurutnya salah tempat karena Sean selalu menghentikan aksi nikmatnya saat Shelly sedang nanggung.
"Kakak benar benar menyiksaku" tukas Shelly bersungut karena Sean lagi lagi membuatnya nanggung.
Sean hanya terkekeh. Itulah akibatnya jika bermain main dengannya.
Mereka tiba di kawasan apartemen Sean.
Naik ke lantai tempat unitnya berada sambil tak melepas genggamannya dengan Shelly.
tit
Kunci pintu terbuka.
"Mama?"
__ADS_1
JEMPOLNYA DIGOYAAAANG😆