Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Tak Sanggup


__ADS_3

Dikarenakan aktifitas panas mereka selesai hampir fajar, pukul 11 mereka masih bergelung dalam selimut.


Sean membuka matanya terlebih dahulu. Menoleh ke sampingnya, dan istrinya masih terlelap.


Sean menghela nafas lega. Dia bersyukur jika yang terjadi dengan indahnya tadi malam bukanlah mimpi atau rekayasa jahat seseorang.


Telunjuknya menyusuri wajah blasteran sang istri yang sangat dia gilai.


"Gak kebayang kalo aku bener bener tidur sama perempuan jahat itu, hatimu pasti akan hancur se hancur hancurnya, dan aku juga akan ikut hancur" lirihnya sendu bermonolog.


"Maka kakak akan kubuat sengsara" cicit Shelly dengan mata terpejam.


Sean mengecup hidung bangirnya.


"Sudah bangun ternyata" lanjut Sean yang lantas memepetkan tubuhnya pada tubuh Shelly.


"Kak, ihh.. jauh jauh sana.." tolak Shelly mendorong dada polos Sean.


"Gak mau, aku gak mau jauh lagi dari kamu. Takut ada setan cabul" tukas Sean yang semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Kondisi masih polos seperti ini membuatnya nyaman.


Gesekan antar kulit dibalik selimut tipis membuat kadar kenyamanan bertambah.


"Emang kakak bener bener gak sadar lagi ******* sama dia?" tanya Shelly dengan nada sedikit kecewa.


"Aku bener bener liat kalo itu kamu, tapi.. rasanya beda" jawab Sean meyakinkan.


Sean lantas mengecup dan ******* bibir Shelly.


"Bibirnya gak se enak bibir kamu.. karna dia pake obat sialan itu, aku gak mikir dua kali. Akal sehatku seolah ditarik keluar. Tapi sumpah, hanya kamu dalam bayanganku yang ada didepanku, makanya aku langsung pengen nuntasin. Aku gak curiga karena awalnya cewek sundal itu sudah pamit duluan" lanjut Sean. Dia meraih tangan Shelly yang tersemat cincin cantik dengan ornamen berbentuk setengah hati itu lalu mengecupnya penuh cinta.


"Gimana kalo kejadian itu menimpaku. Aku yang dijebak, dan kakak yang menyaksikan pergumulanku dengan lelaki yang aku sangka adalah kakak?" balas Shelly menatap iris mata Sean itu dengan dalam.


"Sayang, kenapa ngomong kek gitu?" Sean menghiba. Dia tahu jika Shelly sakit hati dibuatnya karena menyaksikan pergumulan yang tak disengaja itu.


"Atau begini saja. Anggap aku percaya kalo yang kakak katakan hanyalah alasan untuk mendapatkan maaf dariku dan mengulanginya lagi dengan alasan klasik yang sama. Khilaf.. Dan biasanya namanya manusia itu sekali dikasih kesempatan ke dua, dia akan mengulangi kesalahan lagi dan meminta kesempatan ke tiga dan seterusnya. Kakak pikir kita lagi main monopoli? Gimana kalo aku melakukan hal yang sama? mata dibalas mata. Bukankah itu adil?" cerocos Shelly mulai menegang. Tatapan matanya tak lagi sendu. Sean frustasi dibuatnya. Tak tahu harus berkata apa untuk meyakinkannya.


Jika kembali bersuara, hanya akan menyatakan secara tak langsung jika dia tengah membela diri.

__ADS_1


"Aku memang salah" akhirnya hanya itu yang bisa ia katakan. Sean menundukkan kepala. Entah hukuman apa yang akan Shelly lakukan padanya. Yang pasti dia tak akan sanggup jika Shelly menjauhinya.


Tapi..


Kepala Sean kembali mendongak. Menatap mata yang kembali terpejam.


"Kalo aku ngehamilin Shelly, berarti kita gak bisa pisah, kan?" benak nya bertanya.


Sean lantas mengecup lembut bibir Shelly yang tengah memejamkan matanya.


Shelly terkejut, sedikit memundurkan tubuhnya, namun Sean semakin memajukan tubuhnya.


"Kak.. hmmp.." Shelly tak Sean beri kesempatan untuk protes.


"Kakak mau apa?" pekik Shelly panik kala Sean sudah siap melesakkan cula nya kembali.


"Ngehamilin kamu, biar kita gak bisa pisah" jawabnya membuat Shelly menganga tak percaya.


"Ini aku udah hamil, gimana sih? lagian emoh ah ewokan lagi, ni udah dower kak" panik Shelly.

__ADS_1


__ADS_2