Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Papa Juga Sayang Mama


__ADS_3

Sean mengerucutkan bibir karena tak mendapat bagian untuk berduaan dan meluapkan rasa rindunya juga menyampaikan rasa syukur karena telah memilih bertahan meski harus kehilangan calon buah hati mereka.


"Udah, gak usah cemburu. Masa sama anak kecil aja cemburu. Gimana mau di kasih amanat anak kalo kek gitu. Itung itung latihan lah" tukas sang papa menepuk pundaknya membesarkan hati sang anak.


"Kan beda, pa. Kalo anak sendiri kan kita urus dari masih merah, kita ajarin ini itu bareng bareng, lah ini, tau tau udah gede, mana manggil 'papa' nya sama orang laen, eh Sean gak boleh deketin Shelly pula. Gimana gak kesel coba. Shelly baru sadar udah dikuasai, mana mau ikut pulang ke rumah segala lagi, trus bapaknya disuruh ngikut pula. Berasa jadi kotoran cicak tau, pa" gerutu Sean kesal.


"Berbesar hati lah. Ingat kalau dia baru kehilangan calon anak. Anggap saja kehadiran Mario sebagai pelipur lara" pesan bijak sang mama sambil menuang teh panas.


Sean menunduk, memainkan bibir cangkir.


"Tapi Sean juga sedih kehilangan anak kita. Sean bahkan ingin menjadi pelipur lara nya. Tapi kehadiran Sean bahkan seolah tak berarti. Sean juga butuh sandaran" timpal Sean yang langsung pergi meninggalkan cangkir teh yang masih mengepul.


Tiara merasa tak adil pada Sean, sang anak. Memintanya untuk bersabar dan memaklumi kondisi Shelly, namun ternyata dia juga tengah menyimpan rasa duka yang mendalam.


Tiara lupa jika perasaan seorang lelaki bisa lebih rapuh dibanding wanita.


Terry memang tak ikut pulang ke mansion Rosie. Dia hanya mengantar Mario dan suatu saat akan menjemputnya jika dirasa Mario sudah cukup puas meluapkan rasa rindunya pada Shelly.

__ADS_1


Dia berharap Mario bisa lebih mengerti. Cukuplah dia seorang sebagai orang tua pengganti bagi Mario.


Kalau pun harus ada sosok lain yang harus dia panggil 'mama', haruslah yang menjadi pasangan Terry kelak.


Shelly merasa terhibur dengan kehadiran Mario. Sudah seminggu lebih anak itu menemani Shelly dari mulai bangun tidur di pagi hari hingga tidur pada malam hari.


Namun ada hal yang membuat Shelly merasa kurang. Padahal rasa duka karena kehilangan calon anaknya sudah terobati. Mungkin karena anak itu belum lahir, ditambah celotehan Mario yang mengalihkan perhatiannya dari rasa duka.


"Mama, Lio kangen papa. Napa papa nda tinggal dicini cama kita, ma" tanya Mario sendu. Tampak gurat kantuk pada matanya ditambah beberapa kali menguap.


"Karena papa Mario bukan suami mama" jawab Shelly sambil tersenyum. Lantas meraih tubuh mungil nan lebih berisi dibanding saat bertemu di rumah sakit. Mungkin pada saat itu dia baru sembuh dari sakitnya jadi berat badannya menurun.


"Suami mama itu ya om Sean" jawab Shelly menoel hidung mungil Mario.


Sean..


Nama itu lantas terlintas di pikirannya.

__ADS_1


"Kemana ayang gue? kok beberapa hari ini gak keliatan ya?" tanyanya membatin. Rasa rindu tiba tiba menyerangnya.


"Cuami itu apa, ma?" tanya lagi.


"Suami itu laki laki yang mama cintai dan sayangi, juga yang mencintai dan menyayangi mama, dan berjanji buat nemenin mama sampe tua" jawab Shelly yang seketika merasa tenggorokannya tercekat.


Menemani..


Kata itu menjadi topik pertanyaan Shelly dalam hatinya.


Kemana suaminya pergi, kenapa dia tak menemaninya saat tengah terpuruk.


"Lio juga cayang cama mama. Apa Lio bisa jadi cuami mama?" lanjut bocah itu dengan polosnya.


Shelly terkekeh lalu memeluk kepala mungilnya dan mengecupnya sayang.


"Anak kecil mana boleh jadi suami mama" sanggah Shelly mencubit hidung Mario gemas.

__ADS_1


"Napa ga cama papa aja, ma. Papa kan juga cayang cama mama" lanjut Mario membuat Shelly terkesiap.


__ADS_2