Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Menghapus Jejak


__ADS_3

"Dasar bodoh. Sudah kubilang dia itu milikku. Aku hanya menyuruhmu untuk mengetahui aktifitas rutinnya dan mencari tahu mengenai asal usulnya, bukan merampasnya dariku. Idiot" sarkas Erlan yang kesal dengan tingkah Rendi.


Dia mengatakannya sambil mengobati luka yang diderita Rendi. Tak perduli jika Rendi mengaduh karena kesakitan.


Rahangnya berhasil di geser kembali ke tempat semula. Analisanya, pelaku bukanlah orang biasa meski menurut penuturan Rendi bahwa yang melakukannya adalah seorang wanita yang sudah berusia lanjut.


Mana Erlan percaya.


"Bukan rencanaku seperti itu auh.. pelan pelan napa.. mana aku tahu kalo dia penyewa baru kamar itu. Cewek sialan itu kabur bawa uangku, dasar sundal a a a ah.. sakit bang.." keluh Rendi tentang kekasih randomnya.


Rendi yang berjanji akan memberi segala informasi mengenai Shelly diberi kepercayaan untuk mengurus tempat kos milik Erlan, salah satu jenis usaha yang dia kelola saat membeli tempat kos itu dengan sangat murah karena pemilik sebelumnya terlilit hutang.


Bukan karena apa, Erlan hanya tak mau Rendi menumpang di rumahnya karena karakter nya yang selengean juga suka sembarang bercocok tanam dengan dalih suka sama suka. Biarlah dia mengorbankan tempat kos itu sebagai sarang bercintanya Rendi. Toh dia juga tak ada waktu untuk mengurusinya.


"Lalu kenapa kamu melanjutkan nafsu bejatmu saat mengetahui kalau itu bukanlah lacurmu" lanjut Erlan masih dengan kekesalannya.


"Aku dipengaruhi obat, oke. Aku sendiri tak bisa menahannya. Otak ku hanya memerintahku untuk menyalurkannya. Ada ikan depan mata, ya udah sikat aja au.. ampun bang.." Rendi memberi alasan.


"Lagian, ngebet banget sih sama si jalu. Bar bar gitu apa gak takut disiksa tiap malem" lanjut Rendi mengompori Erlan. Niatnya mulai menginginkan Shelly untuk dirinya sendiri. Setelah dia mengeksplore tubuh sintal Shelly yang selama ini hanya bisa dia lihat lengkap dengan pembungkusnya, namun tangan yang sudah menyentuh kelembutan dan kekenyalan tubuh Shelly menginginkannya lagi dan semakin penasaran.


"Itu urusan gue, dan elu jangan coba coba mendekatinya lagi. Atau aku jamin rahangmu akan hilang" ancam Erlan yang sedikit mencurigai jika setelah kejadian malam tadi, bukannya tidak mungkin jika Rendi akan berusaha untuk mencari kesempatan lagi.


Pagi ini Sean tak sedetikpun meninggalkan Shelly yang murung dan terisak semalaman.


Wajah lebam itu Sean kompres dengan bantal pengompres. Sungguh Sean sangat ingin mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya ini. Tapi dia takut rasa penasarannya membuka luka yang baru tertoreh.


Sean menahan mati matian tangannya yang sudah kesemutan karena dijadikan bantal oleh sang istri.


Tak lupa dia merapalkan mantra agar sang jagoan tahu diri dan tidak bangkit untuk meminta jatah.


Semalaman penuh Sean membiarkan Shelly menumpahkan kesedihannya. Menangis tergugu di pelukannya. Memeluknya erat seolah tak ingin ditinggalkan.


Tak ada percakapan diantara mereka. Hanya suara isakan Shelly. Hingga dia terlelap dengan sendirinya lalu terbangun karena terkejut.

__ADS_1


Mungkin dia mimpi buruk, pikir Sean.


Sean kembali menenangkannya dengan mengusap lembut rambutnya.


"Ssshhh... tenanglah.. ada aku disini.." ucap Sean dengan lembut. Dia sungguh mengasihani Shelly yang terpuruk seperti ini. Dia lega jika dirinyalah yang kini berada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya.


"Kak.." akhirnya Shelly bersuara. Kepalanya menengadah agar bisa menatap Sean.


"Hn?" jawab Sean tanpa menunduk. Jakunnya bergerak naik turun, dan Shelly sedikit terhibur karenanya. Garis bibirnya melengkung keatas lalu telunjuknya menyentuh jakun yang bergerak itu membuat Sean terkesiap dan menunduk untuk melihatnya.


Kini mereka saling bersitatap. Mendalami ketulusan yang ada dalam mata masing masing.


"Apa kakak masih mau bersamaku?" tanya Shelly tiba tiba dengan suara yang mulai tercekat.


"Apa maksudmu?" Sean mengerutkan alis. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap lembut wajah Shelly yang bengkak di beberapa bagian.


"Aku.. aku sudah disentuh orang lain.." lanjut Shelly terisak sambil kembali menunduk. Dia tak mau melihat kekecewaan dari mata Sean.


Namun Sean kembali meraih dagunya agar bisa meyakinkannya jika rasa sakit yang dirasa istrinya merupakan rasa sakit untuknya pula.


"Apa itu sebuah ancaman?" Shelly lanjut bertanya. Manik mata berwarna coklat nya bergerak menilik bola mata Sean yang penuh dengan ketulusan.


"Itu bukan ancaman. Tapi pengumuman. Seandainya bisa kuumukan di depan para peserta upacara-" kilah Sean mencoba mencairkan suasana hati Shelly yang ternyata cukup berhasil karena Shelly terkekeh dengan candaan Sean.


"Kakak tahu?" tanya Shelly setelah menertawakan kekonyolan Sean yang cukup garing namun cukup menghiburnya.


"Tentu saja aku tahu" jawab Sean mantap. Membuat Shelly kembali terkekeh namun dibarengi cubitan di perut kotak Sean.


Sean mengaduh lalu meraih tangan Shelly dan membawanya ke bibirnya untuk dikecup.


"Aku serius" rengek Shelly.


"Oke oke. Tell me, what should I know" (baiklah, apa yang harus kuketahui). Sean mengalah.

__ADS_1


"Aku beruntung punya teman seperti kakak" lanjut Shelly, membuat Sean kembali menunduk.


"Hanya teman?" tanya Sean menaikan sebelah alisnya.


"He em. Teman" jawab Shelly mantap dan cuek.


"Teman segalanya" lanjut Shelly berbisik.


Sean menatap lekat mata sembab nan bengkak itu. Perlahan mendekatkan wajahnya untuk meraih bibirnya. Ada rasa takut jika Shelly trauma.


Mata Shelly menatap bibir Sean yang perlahan mendekat pada bibirnya lalu memejamkan mata. Menyerahkan dirinya pada pasangan halalnya.


Dahinya sedikit berkerut kala mata sembab itu terpejam.


Sean menghentikan niatnya untuk menciumnya. Dia takut trauma Shelly menyakitinya. Sean yakin sesuatu terjadi terkait hubungan intim. Sean yakin jika Shelly telah dilecehkan karena kondisinya saat datang dibopong Axel dalam keadaan polos dan hanya dibalut selimut.


"Kenapa kak? apa kakak jijik denganku?" tanya Shelly yang menyadari jika Sean menghentikan niatan menciumnya.


Shelly sedikit terisak. Dia yakin jika Sean tak mau menyentuhnya karena dia sudah disentuh lelaki lain. Sean pasti jijik dengannya. Pikir Shelly yang kemudian kembali terisak.


"Mana mungkin aku jijik padamu. Aku hanya takut menyakitimu" ucap Sean sendu yang merasa serba salah.


Shelly menggeleng cepat.


"Sentuhlah aku, kak. Tolong hapus jejak sentuhannya..." pinta Shelly menghiba sambil menitikan air mata.


"Aku mau kakak yang pertama mendapatkan mahkota ku.." lanjut Shelly sesenggukan.


"Apa kamu yakin? aku mungkin gak bisa berenti-" ucapan Sean dibungkam Shelly dengan ciuman basah.


Shelly mengangguk kemudian.


"Lakukan, kak. Aku siap" lanjut Shelly meyakinkan. Satu hal yang terlintas dalam benaknya saat Rendi melecehkannya adalah menyesal jika Shelly belum sempat memberikan pertama kalinya pada pasangannya yang sudah sah namun terus mereka tunda karena ketakutan Shelly.

__ADS_1


LANJUTIN NDILI MAN TEMAN🤭


__ADS_2