
Mobil inilah yang Shelly lihat di parkiran khusus pemilik restoran.
Dan mobil itulah awal mula bertemunya Shelly dan Sean, sebuah kenangan berharga yang seharusnya tak ia buang. Pikir Shelly.
Ia tahan rasa sesak itu sebisa mungkin.
"ekhem.. jadi, posisi apa yang anda inginkan?" tanya Edrik sedikit berkeringat.
"Yah.. paling bagus di manajemen administrasi, paling tidak waitress. Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak berniat lama" jawab Shelly mantap. Seringai miringnya masih tampak pada bibir seksinya.
Edrik jadi penasaran, ada hubungan apa antara Sean dan gadis ini.
"Baiklah, jika itu yang kamu mau. Administrasi, itu tugasmu. Karena aku tak menjamin jika restoran ini akan baik baik saja jika kamu menjadi waitressnya. Kapan saja kamu siap, kamu bisa langsung kerja" jelas Edrik yang sebenarnya ingin mengenal lebih jauh tentangnya, oleh sebab itu Shelly ditempatkan di bagian administrasi, bagian back office. Bisa ricuh restorannya jika di tempatkan sebagai waitress, karena terlalu cantik.
Sebuah alasan klasik yang Shelly sering dengar selama part time job.
"Ok, that's great. Aku akan mulai besok saja" ucapnya lantas bangkit dan berbalik hendak melangkah pergi, namun ditahan oleh Edrik.
"Apa kita tidak akan bersalaman dulu?" sergah Edrik.
__ADS_1
Shelly menghentikan langkahnya kemudian perlahan berbalik karena tidak boleh bergerak tiba tiba.
"Apa itu perlu?" tanya Shelly cuek.
Edrik menaikan sebelah bahunya. Namun Shelly tetap melenggang pergi.
"Fuuhh.. wanita yang menarik. Pantas Sean mewanti wanti. Tapi... apa yang pernah wanita itu lakukan hingga mobil keren seperti itu bisa.." monolog Edrik terpotong kala matanya menatap mobil yang terparkir di sebrang jendelanya.
Tampak Shelly mendekati mobil itu, lalu terlihat memindai sekelilingnya. Tanpa Edrik duga, Shelly menggoreskan bongkahan batu sebesar genggaman tangannya pada bagian samping mobil itu.
Edrik dan Sean mengangakan mulutnya. Sedangkan Shelly menitikan air mata.
Sean hendak keluar dan ingin langsung menghampirinya, ingin memeluknya, meminta maaf lagi dan lagi atas luka yang ia torehkan.
Dia berfikir jika Shelly tengah memutar ulang memori pertemuan dengannya pertama kali.
Lagi lagi dia salah.
Seharusnya mobil itu tak ia biarkan diutak atik Edrik.
Selain kado dari sang nenek, mobil itu yang mengantarkannya pada musibah berujung indah, namun karena kecerobohannya, indahnya buah dari musibah itu harus layu.
__ADS_1
Sean menyeka air mata yang luruh di pipinya lantas kembali mengirimkan pesan pada Edrik.
"Aku ambil kembali mobilnya" ketik Sean membuat Edrik mengumpat sendirian.
Bagaimana tidak, dia sangat menginginkan mobil itu, karena jika dia beli meskipun seken, tetap saja harganya selangit untuk gaya hidupnya yang boros.
"Aku bayar 3x lipat dari biaya perbaikan" lanjut Sean yang tak mau dibantah.
Edrik menghela nafas kasar. Dia bisa apa. Toh mobil itu belum menjadi miliknya karena Sean saat itu tak berniat menjualnya.
Sean memerintahkan anak buahnya untuk menarik Aventador yang menyimpan kenangan paling berharga.
Menyimpannya di mansion milik Rosie lalu mengembalikannya ke kondisi semula.
Sean berteriak sembari menghantamkan pipa besi pada atap mobil berkali kali, lalu pindah ke samping mobil dan kembali menghantamkannya beberapa kali.
Teriakan yang mengiringi hantaman itu menciptakan suasana sedih bagi sekelilingnya.
Rosie dan para art yang hanya bisa menyaksikan Sean me-museum-kan mobil itu saling menyeka air mata dalam persembunyiannya.
"Maafkan aku.. maafkan aku.." lirih Sean bekali kali.
__ADS_1