Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Terpesona


__ADS_3

Rosie berjalan tergopoh gopoh sambil mendorong kursi roda kosong di lorong rumah sakit dibantu sang asisten yang setia.


"Nyonya, kursinya di duduki saja, biar saya yang dorong" saran sang asisten yang terlihat khawatir.


"Oh, iya. Kenapa gak ngomong dari tadi" ketus Rosie yang lantas menjatuhkan bobot tubuhnya pada kursi roda.


"Gooow..." pekik Rosie mengacungkan kepalan-nya kearah depan, memerintahkan sang asisten agar bergegas ke klinik ibu dan anak tempat Shelly memeriksakan kehamilannya.


Betapa Rosie sangat cemas kala mendapat kabar jika Shelly mengalami pendarahan dan segera dilarikan ke rumah sakit.


"Mana cucu ku? Shelly.. Shellyyyy..." seruan Rosie menggema di seluruh penjuru lantai khusus ibu dan anak tersebut dengan khawatir.


Kepala Shelly menyembul dibalik para pasien yang mengantri menunggu panggilan sesuai nomor urut.


"Nenek?" cicit Shelly terheran dengan kedatangan nenek tercinta.


"Aku yang kasih tau" tukas Sean yang mengerti akan kebingungan istrinya.


"Apa yang kakak kasih tau?" tanya Shelly penasaran dengan apa yang disampaikan sang suami sehingga Rosie sang nenek tampak begitu khawatir.

__ADS_1


"Kamu.. berdarah?" jawab Sean, namun seperti bertanya apakah apa yang dia sampaikan pada sang nenek merupakan hal yang salah?


plak


Shelly menampar lengan atasnya membuat Sean mengaduh lalu mengusapnya karena rasa panas yang diakibatkan tamparan sang istri.


"Auh.. pedes ih, yang.." tukas Sean.


"Pantesan nenek kek yang kebakaran jenggot gitu" gemas Shelly dan langsung berdiri menyambut sang nenek.


"Nenek, pelan pelan. Nanti jatuh malah Shelly yang dimarahin ayang dokter" kelakar Shelly membuat Rosie yang tadinya ingin memeluknya malah mencubit gemas pipinya.


"Kenapa gak pake kursi roda? kenapa ada disini? bukannya langsung ke IGD ya?" cerocos Rosie memberikan serentetan pertanyaan.


"Kamu juga, dasar cucu kurang ajar. Udah bikin hati Shelly hancur, malah mau nyingkirin cicit nenek. Mau kamu apa hah, dasar cucu ga ada ahlak" geram Rosie pada Sean dan memukulinya dengan tas tangannya. Tak ada yang luput dari sapaan tas tangan mahal Rosie. Mulai tangan, kaki, lengan, bahu, kepala. Dan Shelly menambah bumbu kekesalan Rosie pada Sean.


"Terus nek, pukulin aja terus tuh cucu kurang ajar. Seenaknya ngehamilin anak gadis udah gitu dibiarin kelaperan lagi" sindir Shelly yang juga kesal dengan tingkah sang suami yang tak mau melepaskannya untuk turun dari ranjang.


Rosie semakin geram dengan aduan Shelly dan hal itu sukses membuat para pengantri mengulum tawa.

__ADS_1


"Nyonya Shelly" seru seorang perawat memanggil namanya.


"Iya sus, hadir" timpal Shelly.


Sean langsung berdiri dan bersembunyi di belakang tubuh Shelly.


"Mau kemana kamu" sentak Rosie karena belum puas memukuli sang cucu.


"Mau periksa lah nek. Jangan jangan Sean jadi oon gini gara gara dipukulin terus sama nenek" tukas Sean yang langsung mempercepat langkahnya mendahului Shelly masuk ke ruangan dokter kandungan yang..


"Duileh cakep tenaaan.." Shelly reflek mengomentari penampilan sang dokter yang kelewat tampan.


"Pantesan pasiennya bejibun. Pada ngedadak banyak keluhan kali yak" komentar Shelly tak bisa ia simpan sendiri dalam hati, membuat sang dokter dan perawat mengulum senyum karena gumaman Shelly yang terlampau keras.


"Sayang, kamu ngomong apaan sih? cakepan aku kemana mana lah" cebik Sean yang tak suka jika sang istri terpesona oleh lelaki lain.


"Yee.. kakak gimana sih. Mending ngomong di depan langsung daripada diem diem dateng sendirian kesini trus ngedrama bilang 'suami saya sibuk dok, saya kemana mana ga da yang nganter. Di rumah juga sendirian, kesepian'" cicit Shelly menirukan suara falset.


"Kok ibu tau?" tanya sang dokter sambil tersenyum, membenarkan sangkaan Shelly.

__ADS_1


"Ya kalo saya sih pasti bakalan gitu" timpal Shelly enteng dan cuek.


__ADS_2