
"Suka ngegampangin kamu mah. Kalo dia bunuh diri disitu gimana?" gerutu Rosie.
"Ya tinggal kuburin aja nek" timpal Shelly yang lantas menutup kedua pipinya agar tak kembali menjadi sasaran jemari Rosie.
"Lagian, nih ya. Gak mungkin dia berani bunuh diri. Masa nenek kalah gertak sama anak bau kencur gitu sih" lanjut Shelly menenangkan Rosie.
"Shelly benar. Memang Cindy gak mungkin bunuh diri beneran, mi. Tapi kita juga gak bisa menyepelekan kemungkinan kecil lain. Mungkin.. jalan satu satunya.." ucapan Sabastian langsung dipotong Shelly.
"Serius mau dijadiin istri ke dua? Shelly gak setuju.. maaf kalo Shelly egois. Dari pada gitu, mending Shelly bunuh diri aja" sanggah Shelly yang lantas mendapat cubitan dikedua pipinya oleh Rosie yang gemas dengan tingkahnya.
"Napa ikut ikutan mo bunuh diri. Kalo nyontek tuh yang bener napa" gemas Rosie yang kembali membuat Sabastian terkekeh.
"Lagian papa belum selesai bicara, Shelly" ucap Sabastian yang masih terkekeh.
"Napa gak ngomong kalo belom selesei" sungut Shelly mengusap kedua pipinya.
"Makanya jan suka motong kalo orang lagi ngomong. Heuuuh.. bisa bisa nenek yang mati duluan sebelum kalian bunuh diri" kesal Rosie.
Shelly lantas meraih sebelah tangan Rosie dan menempelkan di pipi merahnya dengan sayang.
"Jangan dulu mati dong, nek. Nanti siapa yang Shelly kerjain kalo nenek gak ada" bujuknya sendu.
Sabastian tergelak dengan tingkah Shelly yang tak hentinya menggoda sang bunda.
__ADS_1
Sabastian pun melanjutkan menjelaskan pemikirannya. Itu hanya sarannya saja, tapi semua ia kembalikan pada Rosie dan Stella.
"Terus nasib Shelly gimana, om" keluh Shelly.
"Papa" Sabastian meralat panggilan Shelly untuknya.
"Om papa" ralat Shelly.
🤦🏻♂️
🤦🏻♂️
🤦🏻♂️
"Dasar manja. Dableg pula" gerutunya kala keluar dari ruangan Sabastian dengan membawa kekesalan.
Bagaimana mungkin dia berjauhan dengan sang suami demi menyingkirkan kunti amatiran.
"Shelly.." seru Rosie dari pintu ruangan Sabastian.
Shelly menoleh kebelakang masih bersungut.
"Nenek gimana pulangnya?" tanya Rosie kala baru terfikir jika dia harus menuruni tangga sepanjang 10 lantai.
__ADS_1
"Pake parasut aja. Shelly lagi gak mood" timpal Shelly merajuk.
"Anak itu.." geram Rosie menggigit bibirnya sendiri.
"Maksudnya apa, Mi?" tanya Sabastian.
"Ya bukannya lift nya lagi rusak? Mami gimana mau turun 10 lantai, tadi aja naik sini digendong Shelly gentian sama Sean. Punya ajudan sama sama udah rempo ya mana bisa gendong" gerutu Rosie melirik pada ajudannya yang tengah menunduk dalam.
"Lift rusak? lalu bagaimana tamu Tian bisa naik turun tadi?" Sabastian balik bertanya lantaran bingung.
"Hah? maksudmu.. tamu tamu kamu naik dan turun pake lift?" Rosie memastikan pendengarannya.
"Hn" Sabastian mengangguk pasti.
"Kurang asem. Kamu kumpulin orang teknisi. Sembarangan ngasih pengumuman ngerjain orang. Untung ada Shelly sama Sean. Coba kalo gak ketemu mereka, bisa copot satu per satu persendian mami di tangga" geram Rosie yang mendadak ingin mengunyah kepala orang.
Sabastian berhasil menemukan orang yang dengan sengaja menempel pengumuman tanpa sepengetahuan orang yang sedang berlalu lalang di lantai dasar.
Dan itu adalah ulah Meli Setiawati Yang Tidak Setia, yang ketahuan melalui rekaman cctv.
Niatnya ingin menjahili Shelly yang ia lihat baru memasukan mobilnya ke area kantor, namun bersamaan dengan sang ibu presdir karena Meli Setiawati Yang Tidak Setia terlanjur masuk lift setelah menempel pengumuman yang ia print di kertas dan segera menuju lantai tempatnya bekerja.
"Mampus kau Meli" bisik setan jahil bernama Shelly di telinga kiri Meli Setiawati Yang Tidak Setia sambil berlalu dan tertawa lirih, saat Meli Setiawati Yang Tidak Setia ditegur manajer di tempat.
__ADS_1