
"Loh, sayang.. kamu.. kamu udah wisuda?" tanya Sean terkejut dengan kemunculan Shelly yang tiba tiba tanpa memberi kabar padanya.
Shelly mengangguk cepat dengan senyumnya, dan setitik cairan disudut matanya.
Sean mendekat lalu memeluknya.
"Selamat ya sayang. Aku bangga" ucapnya.
"Kamu.. kamu masuk aja ke rumah, aku buru buru mau ada meeting. Kamu gak buru buru pulang kan?" titah Sean diakhiri pertanyaan.
Shelly menjawab dengan menggeleng cepat.
Sean mengecup bibirnya sekilas lalu pamit pergi dan melambai padanya dengan senyum manis.
Shelly membalas lambaian tangannya. Dan tawa itu kembali terdengar kala mobil mulai melaju.
Entah kenapa batu besar bersarang di dadanya.
Terasa sesak dan berat.
Shelly berusaha menenangkan diri dan berfikiran positif.
__ADS_1
Melangkah masuk kedalam rumah yang kini terasa sepi dan asing. Diiringi setitik cairan yang kembali lolos dari pelupuk.
Segala pemikiran tentang siapa yang menemani hari hari sang suami selama dirinya berjuang menyelesaikan pendidikannya, tak bisa ia enyahkan begitu saja.
"Hahhhhh... semangat Shell. Kuasai dirimu" monolognya menyemangati diri sendiri.
Shelly berniat menyibukkan diri dengan membersihkan rumah dan belajar memasak.
Niatnya berangkat sepagi mungkin agar bisa sarapan dengan sang suami sebelum pergi bekerja. Tapi mood nya tiba tiba menguap. Rumah pun tampak bersih dan rapi hingga ke sudut ruangan. Bahkan debu pun enggan menempel pada foto di dinding yang menampilkan foto sang suami seorang.
Tanpa dirinya.
Padahal banyak moment kebersamaan yang selalu mereka abadikan.
"Sabodo ah. Mending nyari bubur ayam" lanjutnya.
Yang Shelly ketahui, tak jauh dari rumah minimalis Sean ada sebuah lapangan yang dijadikan tempat berjoging para penghuni komplek saat week end. Disanalah kang bubur kesukaannya mangkal setiap pagi.
Karena jaraknya cukup dekat, Shelly memutuskan berjalan kaki.
"Perasaan bukan week end deh. Kok penuh?" gumamnya yang melihat antrian mengular pada roda kang bubur.
__ADS_1
Terpaksa Shelly mengambil antrian paling belakang. Segala sesuatu harus dijalani dengan sabar, pikirnya, yang lantas terpikir kembali tentang suaminya.
Yap
Sabar
Tunggu penjelasannya nanti malam.
Dengan begitu Shelly pun merasa tenang.
"Huaaaaa... papa mau pulaaaang.. " tangis seorang anak dalam gendongan seorang laki laki berjarak beberapa orang antrian didepannya.
Shelly melongokkan kepala mendengar raungan sang anak. Pun dengan para pengantri yang lain.
"Iya, sabar. Ini bentar lagi giliran kita. Mario yang bilang ya ke mamangnya mau pake apa aja" bujuk sang ayah dengan sabar menenangkan.
Shelly memperhatikan. Mungkin nanti saat dia sudah punya anak dengan Sean pun akan seperti itu. Dengan sabar membujuk dan menenangkan anak mereka.
"Benelan Malio boleh momong cama mamangnya, pa?" tanya si bocah lucu dengan suara cadelnya sembari sesenggukan.
"Tentu saja boleh" jawabnya sambil tersenyum. Tampak dari samping bibirnya ia tarik sambil menyeka air mata yang membasahi pipi chubby bocah menggemaskan itu.
__ADS_1
"Kek yang kenal" gumam Shelly saat menilik wajah si ayah dari anak itu dari arah samping.
"Maaang.. bubul ayamnya catu.. eh.. papa mau nda? dua aja mang kesian papa nanti pinsan nda ada nang nangkut. Papa mau pake taking ayam nda? pake aja ya.. mmm.. pake tambel? tikit aja ya nanti tatit peyut. Kalo Lio.. mmm.. nda pake tacang, nda pake tambel, nda pake ayam, bial lansun slupuuuut gituh.." celoteh bocah itu menciptakan gelak tawa para pengantri dibelakangnya, termasuk Shelly.