
"Shell.. apa apaan ini?" tanya Sean dengan intonasi tinggi mencekal lengan Shelly kala dia berbalik pergi sembari mendelikkan mata kearah Sean dan Evi.
Shelly menghempas cekalannya lalu menjawab "bukankah bebas melakukan apapun dengan teman? selama itu TAK BERLEBIHAN" tegasnya sedikit menyindir Sean.
Shelly kembali melangkah menjauhi pasangan tak jelas itu, disusul Terry yang berpamitan pada Sean dengan menunduk dan menampilkan senyum tak enak. Dia lantas berlari kecil menyusul Shelly dan Mario.
"Mama tenapa nanis?" tanya polos Mario sembari mengusap air mata Shelly.
"Mama.. kelilipan, sayang" jawab Shelly berbohong.
Terry hanya mengekor dibelakang mereka. Memberi kesempatan pada Shelly untuk menenangkan diri.
"Hei.." Terry meraih lengan Shelly yang terus berjalan.
"Hah?" tanya Shelly menoleh tampak tersadar dari lamunan.
"Toko bukunya sebelah sini" Terry mengedikkan kepala ke arah kirinya, arah toko buku yang mereka tuju.
"Ah, iya" Shelly memutar langkahnya mengikuti Terry.
Selama di toko buku, Shelly kerap kali kedapatan melamun. Tatapannya kosong, bibirnya tertutup rapat, ekspresinya murung.
Bahkan keceriaan Mario tak berdampak padanya.
Setelah makan siang yang hening dengan Shelly yang hanya memainkan makanan tanpa mau melahapnya, mereka pun pulang.
__ADS_1
Terry tak mau mood Shelly mempengaruhi keponakannya.
Shelly masuk ke rumah dengan segala pemikiran.
"Pulang? aku pulang ke rumah siapa?" bathin Shelly sambil menatap ruangan yang terasa sepi dan asing.
Shelly meremas perutnya yang terasa perih.
Menggigit bibir bawahnya agar mengalihkan rasa sakitnya.
Setetes cairan lolos dari matanya.
Rasa sakit itu tak seberapa dibanding hantaman batu pada dadanya.
Hingga malam menjelang, Sean belum juga kembali. Dia bahkan tak bisa dihubungi.
Berkali kali Shelly mengirimi pesan permintaan maaf juga menanyakan kapan pulang. Biarlah dia mengalah dahulu, bagaimanapun dia juga telah salah karena jalan dengan lelaki lain meski tak tampak intim, tetap saja kehadiran dan keceriaan Mario mampu membuat orang orang salah paham pada dia dan Terry.
Namun pesan itu setia dengan centang satu nya.
Shelly tertidur setelah menatap ponsel cukup lama. Berharap centang satu itu berubah dua dan berwarna biru.
Dia sangat merindukan suaminya. Bahkan terbawa hingga mimpi, jika dia tengah melakukan penyatuan dengan sang suami.
"Engh.. engh.." Shelly seketika membuka matanya.
__ADS_1
"Engh.. eennggh.." Shelly beranjak dari tempat tidur kala kembali mendengar erangan dari arah luar kamarnya.
ceklek
Shelly membuka pintu lalu langkahnya membawanya pada sumber suara yang membuat matanya memanas, jangan tanya dengan hatinya.
Mata Shelly membola, sebelah tangan menutup mulutnya kala menyaksikan sang suami yang setengah telanjang tengah menindih tubuh seorang wanita di sofa sambil bergerak gerak.
Bagaimana mungkin suami yang sangat mencintainya bercumbu dengan wanita lain di rumahnya sendiri? Sebejat itukah seorang Sean selama ini? pikir Shelly yang kini kalap.
prangg
Shelly memecahkan vas bunga tepat di lantai sebelah sofa dengan emosi memuncak.
Sean dan Evi yang tengah menikmati bercumbu terperanjat.
Sean lebih terkejut lagi saat melihat orang yang tengah berada dibawahnya.
"Evi?" seru Sean terkejut. Dia lantas melihat dirinya sendiri yang hampir telanjang, lalu kembali melihat Evi yang hanya memakai dalaman saja.
"Jadi benar ini yang kamu maksud teman?" sentak Shelly mengalihkan perhatian Sean dari Evi.
"Sa.. sayang.. ini.. "
ππΌββοΈππΌββοΈππΌββοΈπ€Έπ»ββοΈππΌββοΈππΌββοΈKABOOOOR
__ADS_1