
"Mami, kenapa gak nelfon dulu?" tanya Sabastian saat mendapati Rosie tengah duduk santai di sofa bercengkrama dengan Shelly.
Rosie meliriknya sekilas, menampakkan wajah kesal lalu mengangkat ponselnya dan mengutak atik sebentar, dan..
tring tring
Voila..
Ponsel berdering diatas meja kerja Sabastian.
"Ehe.. iya mi. Ketinggalan ponselnya" ucap Sabastian menggaruk kepalanya.
"Nek, Shelly balik ke ruangan lagi ya. Nanti kalo mo pulang telfon Shelly aja" pamit Shelly yang memberikan ruang bagi ibu dan anak ini.
"Kamu tunggu sini aja. Dengarkan pembicaraan nenek sama papa mertuamu" sergah Rosie yang lantas menarik tangan Shelly agar kembali duduk di sebelahnya.
"Duduklah. Karena Sean sudah kembali ke ruangannya, kamu wakilkan dia mendengarkan apa yang nenek sampaikan" titahnya.
__ADS_1
Sabastian mengambil posisi duduk diseberangnya pun dengan Shelly yang kembali duduk di sebelahnya.
Mereka bersiap menyimak apa yang akan disampaikan Rosie.
"Ini tentang mantan calon menantumu, Tian. Dia.." Rosie menjeda ucapannya karena tampak memijat pelipis. Shelly dan Sabastian mengernyit lalu memajukan posisi duduk mereka dan sedikit membungkuk. Tak sabar mendengar kalimat lanjutan Rosie.
"Dia ada di rumah nenek dan bersikeras tinggal disana hingga.." Rosie kembali menjeda ucapannya karena tak sanggup mengungkapkannya.
"Ah, nenek.. jan setengah setengah dong ngomongnya" ucap Shelly tiba tiba sambil menepuk pahanya yang membuyarkan rasa penasaran Sabastian karena kini dia tengah mengurut dada gegara terkejut oleh sergahan Shelly.
"Kebiasaan kamu mah, suka ngagetin orang tua" gemas Rosie mengetatkan rahang dan mencubit pipi Shelly.
"Cindy minta dinikahi Sean dan bersikeras tinggal disana. Kalo enggak dia ngancem mau bunuh diri di rumah nenek" akhirnya Rosie mengungkapkan keluhannya. Sabodo dengan rasa tidak enak. Yang pasti dia kesal dengan keberadaan mantan calon cucu menantu yang tak ia restui itu.
Ternyata latar belakang keluarga besarnya tak membuat keturunan keluarga besar itu beradab.
Bagaimana tidak, semenjak menginjakkan kaki dirumahnya, dan mendeklarasikan diri sebagai calon istri ke sekian Sean, dia langsung bertingkah seolah nyonya besar di rumah itu. memerintah para asisten melayaninya dan menyuruh ini dan itu.
__ADS_1
Rosie yang sudah tak punya cukup tenaga untuk mengusirnya karena ancaman gadis itu pun tak bisa berbuat apa apa. Pun dengan para asisten yang hanya menurut saja dengan pengakuan dan perlakuan Cindy.
"Ya gak bisa gitu dong, nek.." pekik Shelly kembali mengejutkan kedua orang tua itu.
plakk
Rosie menampar lengan atas Shelly.
Shelly mengaduh lalu berbicara perlahan.
"Ya mana bisa gitu dong, nek. Nenek harusnya jambak aja tu kunti trus seret keluar, siram pake bensin trus bakar biar ga balik lagi" sarkas Shelly berbisik. Sabastian dan Rosie menautkan alis.
"Ngomong yang bener. Mana denger nenek kalo kamu bisik bisik tetangga gitu" tukas Rosie yang kembali melayangkan cubitan di pipi Shelly dengan gemas.
Anak ini gak berenti berentinya ngerjain orang tua, pikir Rosie.
Sabastian terkekeh dengan interaksi keduanya. Dia menilai jika aura dingin sang bunda menguap entah kemana bersama menantunya ini.
__ADS_1
Shelly kembali mengerucutkan bibir dan mengusap pipi.
"Shelly mah terserah nenek aja. Yang pasti Shelly bakal pertahanin apa yang jadi milik Shelly. Kalo mau perang, ya hayuk perang. Shelly jabanin. Siapa takut ngelawan kunti amatiran kek gitu" ucap Shelly yang tadinya tenang berangsur menggebu sambil berdiri berkacak pinggang.