
Shelly menyalami dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu sambil tersenyum ramah.
"Mama.. kemarin sakit, harus dirawat, jadi gak bisa ketemu Mario" jawab Shelly beralasan. Tak mungkin dia menjelaskan perihal masalahnya yang rumit pada anak sekecil itu.
"Halo, bu. Apa kabar. Apa ibu ini ibunya pak Terry?" sapa Shelly lanjut bertanya.
"Baik, kabar ibu baik. Hanya sedikit lelah. Iya saya ibunya Terry, dan kamu ini adalah.." jawab wanita itu yang memanglah tampak kelelahan.
"Saya Shelly, bu. Mantan mahasiswa di kampus tempat pak Terry mengajar. Apa ibu hanya berdua datang ke sini?" Shelly celingukan mencari keberadaan mantan dosennya itu.
"Ah, iya. Kita cuma berdua saja. Mario hanya check up kesehatan aja setelah kemarin kena tyfus dan dirawat selama 2 minggu. Eh malah Terry yang sekarang dirawat karena kelelahan. Dia harus bolak balik ke luar kota lalu ke sini buat rawatin Mario. Hhh... anak itu.. bukannya cepet cepet nikah buat bantu ngurus Mario" keluh wanita itu setelah memberi penjelasan yang membuat Shelly sedikit terkejut.
"Iya, ma. Kecian papa cakit ga da mama" celetuk Mario sendu.
"Nak Shelly ini yang selalu Rio panggil 'Mama' ya? kok bisa? apa nak Shelly ini kekasih Terry?" tanya wanita yang bernama Risa.
"Bukan bu. Saya bukan pacarnya. Maaf, tapi saya sudah nikah dan lagi nunggu momongan lahir" sanggah Shelly mengibaskan kedua tangannya didepan tubuhnya dengan senyum kaku.
"Waktu itu gak sengaja ketemu pak Terry lagi beli bubur, terus kebetulan Mario minta ditemenin beli buku, eh malah manggil mama. Katanya gak enak ada papa ga ada mama, ya saya iyain aja. Maaf kalau gak berkenan bagi ibu" jelas Shelly yang merasa tak enak.
__ADS_1
"Oh gitu ya. Ibu sampe bingung, Rio selalu bilang mau ketemu mama katanya, tapi setau ibu, dia gak pernah tau apalagi ketemu mamanya" jawab Risa yang tampak kecewa.
Obrolan kemudian mengalir diselingi celotehan Mario yang seketika tampak ceria setelah 2 minggu lebih selalu murung, manangis dan merajuk. Risa dan Terry sampai kewalahan membujuknya.
"Ah, sudah tiba giliran Mario. Baiklah sampai jumpa lagi, nak Shelly" pamit Risa. Namun Mario kembali merengek kala mengerti harus berpisah dengan Shelly.
"Ndak mau, Lio mauna tama mama" rengek Mario kembali membuat Risa bingung.
"Mario sayang, mama juga harus periksa. Nanti kalo udah selesai, mama nengokin papa Mario ya" bujuk Shelly yang merasa iba pada bocah yang mulai ia sayangi itu.
"Janji?" Mario mengacungkan kelingkingnya sambil sesenggukan menghentikan tangisnya.
"Mampus gue main janji aja ma bocah. Ayang gue gimana nasibnya? mana gue janji duluan lagi" gerutu Shelly membatin.
Beruntung Shelly segera mendapat bagiannya untuk diperiksa karena beberapa orang yang tak hadir saat dipanggil perawat. Jadilah dia selesai lebih cepat.
Waktu masih cukup pagi untuknya kembali ke kantor sang suami, jadilah dia memutuskan untuk menjenguk Terry terlebih dahulu. Untung dia sempat meminta nama ruangan dan nomor bed tempat Terry dirawat.
Shelly terheran, kenapa seorang keturunan pemilik perusahaan mengambil ruang rawat kelas 2?
__ADS_1
Shelly menghentikan niatnya mengetuk pintu kala mendengar rengekan Mario dari dalam ruangan Terry.
"Papa jahat.. mama udah janji mau dateng.. napa papa biyang mama gakan dateng.. huuuu..." tangis anak itu menyayat hati Shelly.
"Papa udah bilang itu bukan mama Rio, udah ya nanti papa nyari mama yang lain ya.." bujuk Terry lemah.
"Nda mau.. Lio nda mau mama yang lain.. papa juga bukan papa Lio.. tapi Lio suka.."sanggah Mario mempertahankan rengekannya.
"Mario sayang, dengerin papa ya.." bujuk Terry lemah. Terdengar dari suaranya ada nada kesedihan.
"Nda mau.. Lio nda mau dengel papa.." pekik Mario semakin histeris.
klak
Bugh
Mario langsung berlari kearah pintu dan membukanya. Tak menghiraukan seruan Risa dan Terry yang memanggilnya.
Namun tanpa mereka duga, Mario berlari menabrak tubuh seseorang kala baru membuka pintu.
__ADS_1
"Mama..." pekik Mario kala mendongak dan melihat pada orang yang dia tabrak.