
4 BAB TERAKHIR INI BAB TAMBAHAN YA MAK. MON MAAP OTHOR GAK NGASIH PEMBERITAHUAN.
OTHOR LAGI MIKIR BIKIN KARYA BARU NYA DI SINI APA DI TETANGGA🙄
Shelly tersadar karena kepergian Sean dan alasannya menjauh.
Mama Tiara yang mengungkapnya pada Shelly jika Sean juga terpukul akan kehilangan anak mereka dan membutuhkan perhatian. Saling merangkul dan saling menguatkan adalah apa yang Sean inginkan. Namun tampaknya Shelly hanyut dalam pesona seorang bocah bernama Mario sehingga tanpa sadar melupakan kehadirannya.
"Ayang.. kok malah pergi sih.. mana hape nya gak aktif lagi dari kemaren" gerutu Shelly pada ponselnya di dalam kamar mereka.
Pagi tadi Mario telah dijemput oleh Terry karena permintaan anak itu sendiri.
Syukurlah kini anak itu mengerti jika sebutan 'mama' dan 'papa' yang disematkan pada Shelly dan Terry bukanlah panggilan dalam artian sesungguhnya.
Dia sendiri yang menjawab pertanyaannya sendiri berdasarkan informasi yang pernah neneknya ceritakan padanya.
Sungguh kasihan anak itu. Dituntut berfikir dewasa sebelum waktunya karena keegoisan ibunya sendiri.
Shelly mengirimkan serentetan pesan pada Sean yang menanyakan keberadaannya juga keadaannya.
"Nek, kalo Shelly gak bisa ngasih nenek cicit.. kira kira.. nenek bakalan nyari cucu menantu lain gak?" tanya Shelly sambil mengerucutkan bibir.
"Kamu itu jangan sompral kalo ngomong. Dokter kan bilangnya belum bisa, bukan berarti gak bisa. Artinya suatu saat kalau tubuh kamu udah siap, kamu bisa hamil lagi. Sebelum waktu itu tiba, banyak yang harus kamu perbaiki. Kalau kamu ingin jadi seorang ibu, mulailah bersikap sebagai seorang wanita dewasa. Perbaiki sikap urakanmu, juga jahilnya ilangin. Kek sekarang, ngapa tu bayem kamu potekin kecil kecil, dipikir rumput apa" Rosie memberi wejangan diakhiri gerutuan.
"Ehe.. ya maap. Kan kalo lagi galau suka disuruh nanya sama rumput yang bergoyang, nek. Ga da rumput, bayem pun jadi, tapi yang ditanya malah diem aja. Gemes kan jadinya" celetuk Shelly yang selalu diluar dugaan Rosie.
"Emang ya, nyelenehnya udah mendarah daging. Ga kebayang biangnya aja kek gini, gimana keturunannya coba. Bisa kena hipertensi akut nenek. Udah jangan diterusin, bisa abis bayem nenek" sergah Rosie yang gemas dengan kelakuan nyeleneh Shelly.
"Yah, nenek. Lagi asik juga. Mmmm.. nek.."
"Apa" ketus Rosie. Bagaimana tak ketus, satu ikat bayam habis jadi serpihan karena ulah tangan iseng Shelly. Sekali cuci langsung habis terbawa air bilasan. Terus dia makan sama apa, karena giginya sudah tak kuat mengunyah daging.
"Kak Sean.. ngambek ya sama Shelly" ucapnya sambil menunduk. Kali ini batang bayam yang menjadi sasaran.
Rosie menatap dalam pada Shelly. Bingung apa yang harus dia sampaikan agar cucu menantunya ini peka.
Rosie menyaksikan sendiri cucu laki laki ya itu menangis sendirian di pojokan ruangan sembari menatap pada istrinya yang tengah tertawa bersama bocah lucu itu, hingga beberapa hari yang akhirnya memilih pergi karena tampak tak disadari kehadirannya.
Shelly bahkan makan pagi, siang, dan malam bersama anak itu. Jika saja anak itu adalah keponakannya, atau bahkan pria dewasa yang pastinya sudah dia bogem karena merebut perhatian Shelly.
"Menurutmu? apa yang akan kamu rasakan kalo kamu ada tapi seolah gak ada. Sama sama kehilangan tapi gak bisa saling menguatkan. Tinggal serumah tapi serasa tinggal sendirian. Ingin berpelukan tapi hanya bisa memeluk diri sendiri" terang Rosie menohok perasaan Shelly yang lantas matanya berkaca kaca, lalu menelungkupkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya.
Bahunya tampak bergetar tanda tengah menangis.
Rosie mengusap kepalanya lembut. Merasa bersalah mengungkapkan hal itu, tapi harus dia ungkapkan. Tak adil rasanya jika sang cucu menanggung semua sendiri saat semua orang berusaha menghibur Shelly, tanpa disadari jika ada yang merasa disisihkan.
"Maafin Shelly ya nek. Shelly jahat, gak peka sama ayang" ucap Shelly sesenggukan masih menelungkupkan kepalanya.
"Ya ampun 'ayang' " gumam Rosie lirih. Suasana haru seketika ambyar gara gara panggilan Shelly untuk suaminya.
Shelly gemas karena Sean sang suami tak kunjung menghubunginya. Padahal rentetan pesan chat yang dia kirim dan asalnya hanya menunjukkan tanda centang satu, kini telah bertambah menjadi dua, bahkan berubah biru.
Namun menit berlalu bahkan beberapa jam berlalu, tak ada balasan apapun darinya.
"Gawat, ngambek beneran ini mah" keluh Shelly lantas menyambar kunci mobilnya. 1 tujuannya yang pasti di sore menjelang malam pada week end seperti ini adalah apartemen. Dia ingat jika Sean bukan tipe lelaki yang hobby hang out. Dia lebih suka menghabiskan hari liburnya untuk membersihkan apartemen dan membaca buku.
Shelly ragu ragu untuk turun dari mobil. Dia takut ditolak kehadirannya. Pasti sangat menyakitkan.
Sambil menyesap kopi Shelly memikirkan cara meminta maaf. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan selama ini. Karena jika dia meminta maaf pada temannya tidak harus dibujuk. Cukup bersalaman ala bestie lalu saling berangkulan, mereka akan kembali berbaikan.
Tapi ini suami. Teman seumur hidupnya.
Sungguh Shelly lebih baik berhadapan dengan preman daripada harus memohon dan merendahkan diri seperti ini.
Tapi sekali lagi Shelly mengingatkan dirinya sendiri jika yang akan dia hadapi saat ini adalah suaminya.
"Fuhh.. here we go" Shelly menghela nafas dalam. Menyiapkan mentalnya. Mungkin benar kata nenek Rosie. Jika kita hendak masuk ke tahap selanjutnya dalam hidup, kita harus mau berubah. Anggap saja inilah awal dari perubahannya.
Dengan mantap Shelly turun dari mobil. Menghirup nafas dengan rakus beberapa kali dalam langkahnya menuju unit apartemen sang suami.
Entah kenapa jantungnya tiba tiba berdegup dengan kencang. Dan Shelly sangat kesulitan menenangkannya. Dia bahkan menertawakan tingkahnya sendiri, tak menghiraukan lirikan orang orang yang berpapasan dengannya.
ting
Pintu lift terbuka di lantai tempat unit Sean berada. Semakin kencang saja degupan jantung Shelly kala kakinya melangkah semakin dekat dengan pintu itu.
Shelly menekan kombinasi nomer kunci, namun tak bisa terbuka.
"Apa sudah diganti?" gumamnya mengerutkan alis.
Shelly kembali mencoba kombinasi nomer lain yang berhubungan dengan tanggal lahirnya, atau tanggal lahir Sean, mungkin gabungan keduanya, atau tanggal pertama kali mereka bertemu, bahkan tanggal pernikahan mereka. Semua tak ada yang cocok.
Shelly frustasi dan akhirnya memencet bel.
klek
Pintu terbuka tak lama bel di tekan.
Muncul seorang wanita cantik dengan kemeja putih besar yang Shelly yakini adalah milik lelaki, dan terlihat sangat seksi dibandingkan telanjang bulat.
Mata Shelly seketika membola dan memanas. Jangan tanyakan hatinya yang sudah terbakar. Dia tahu apa yang sedang dilakukan wanita dengan penampilan seperti itu.
__ADS_1
"Ya, siapa ya?" tanya sang wanita seksi itu pada Shelly.
"Honey, ada siapa?" tanya suara baritone dari arah dalam yang tampaknya sedang mendekat dari suara langkah kakinya. Dan Shelly tak mengenali suaranya.
"Entahlah. Wanita ini hanya diam. Apa dia temanmu?" tanya si wanita seksi itu kala seorang pria meraih tubuhnya dan memeluknya mesra dari belakang. Mengecupi leher hingga bahunya yang terbuka dengan penuh hasrat.
Mata Shelly lebih membola kala melihat penampilan pria itu yang setengah telanjang.
Dari caranya mengecupi sang wanita, bisa dipastikan mereka tengah melakukan pemanasan.
"Kalian.. threesome?" tebak Shelly mengangkat sebelah alisnya. Amarahnya mulai menguasai kepalanya.
"Tadinya seperti itu. Tapi syukurlah kamu sudah datang" jawab sang pria dengan tatapan nakalnya.
"Hey bro, your b1tch is here" lanjut si pria berseru pada kawannya yang menunggu di dalam.
"Masuklah, dia sudah menunggumu. Aku akan beraksi sekarang" imbuh si pria yang tampak sudah tak bisa menahan birahinya dan langsung membawa si wanita kearah sofa dan melucuti kemeja kebesaran itu.
Mata Shelly memerah kala melangkahkan kakinya ke arah kamar.
Apa suaminya belakangan ini menghibur diri dengan cara menjijikan seperti ini?
Mata merah itu mengumpulkan cairan panas dan siap untuk ditumpahkan.
Perlahan Shelly membuka daun pintu itu, lalu setetes cairan berhasil lolos dari mata cantiknya yang membola.
Seorang pria tengah duduk di pinggir ranjang dengan tanpa sehelai benangpun.
"Hello, baby.." sambut suara serak si pria ke dua.
Dan itu bukanlah suaminya.
Shelly segera berbalik dan berlari keluar apartemen sebelum hal buruk menimpanya lagi setelah ia dilecehkan terakhir kali oleh Rendi.
Tak perduli dengan seruan lelaki itu, Shelly tak berminat menoleh. Secepat kilat berlari kearah lift yang kebetulan pintunya terbuka. Shelly pun langsung masuk dan terduduk lemas menyandar pada dinding lift.
"Syukurlah... syukurlah itu bukan kamu" gumamnya sambil menangis lirih. Tak bisa dia bayangkan jika Sean menjadi seperti itu, dan itu adalah salahnya.
Tanpa menghiraukan penumpang lift, Shelly tergugu di lantai sambil menelungkupkan kepalanya pada kedua tangan yang ia lipat di lututnya.
Tak perduli lift itu membawanya ke lantai paling atas sekalipun, dia ingin mengeluarkan uneg unegnya.
Lama Shelly menangis dan meraung. Tiba di lantai paling atas, lift itu kembali membawanya ke lantai paling dasar karena belum kunjung habis rasa sedihnya.
Bahkan di satu lantai, sepasang pasangan muda menghentikan niat mereka untuk masuk kedalam lift karena mengira jika penampakkan Shelly yang duduk menunduk di lantai dengan rambut panjang tergerai, ditambah suara tangisan yang pilu, merupakan penunggu lift yang baru baru ini ceritanya santer beredar di kalangan para penghuni apartemen.
"Sayang.. kamu dimana.. hik.. maafin aku.. hik.. maaf.. I miss you so much.. hik.. come back to me, please.. I love you.. I realy realy love you.." ucapnya dalam tangisnya. Shelly benar benar merindukan Sean.
Lift itu kembali membawanya ke lantai paling atas. Yaitu roof top. Lantai yang hanya bisa diakses oleh penghuni yang dengan sengaja menyewanya untuk acara tertentu.
gulang guling...
Lantai tanpa atap itu dihias seseorang sedemikian rupa menjadi bersuasana romantis.
Di satu sudut terdapat sepasang kursi makan terpisahkan oleh meja makan bundar yang telah diisi berbagai peralatan makan yang mewah dan menu makan malam yang menggugah selera ala eropa. Dengan dekorasi lampu tumbler di pagar samping, juga taburan kelopak bunga mawar putih di sekitar area makan. Di sudut lain terdapat layar lebar yang berhadapan dengan ranjang yang tampak hangat di sore yang dingin ini, sedingin hatinya.
Shelly bangkit dan melangkah keluar karena terpana dengan suasana romantis itu. Berharap sang pemilik acara tak keberatan dengan kunjungannya.
Jika saja dia mendapat kejutan manis seperti ini dari sang suami, alangkah bahagia hidupnya. Akan dipastikan dia tak akan pernah melepasnya seumur hidup.
wush
Angin sore nan dingin menghempas tubuhnya, membuat Shelly melingkarkan kedua tangannya pada bahu yang terbuka, berharap tangan itu bisa menghalau tiupan angin yang dingin.
Namun tubuhnya terasa hangat.
Shelly terkesiap lalu menoleh pada tubuhnya yang kini terbalut cardigan rajut berwarna coklat, lalu topi base ball nya diganti seseorang dengan penutup kepala yang hangat padanya.
Shelly memutar kepalanya dengan mata membulat nan basah.
"Happy Anniversary.. cup" ucap Sean diakhiri kecupan di bibir Shelly.
"Ayang..." lirih Shelly yang tak percaya dengan keberadaan sang suami di depan matanya ini.
Shelly langsung memeluk Sean dengan erat. Berharap bukan fatamorgana yang bisa mengecewakan dan membuatnya sedih.
Tergugu di pelukannya, bersyukur jika pada akhirnya bisa bertemu separuh hatinya.
Sean membalas pelukan, dan mengeratkannya untuk menyalurkan rasa rindu yang tertahan hampir sebulan ini. Dari mulai Shelly dirawat, hingga pulang ke rumah dan dimonopoli Mario.
Sedih
Terpuruk
Sedikit kecewa karena terabaikan.
Namun dia tak boleh lemah. Biarlah Shelly mengobati perasaan kehilangan dengan caranya sendiri. Diapun mengalihkan rasa sakitnya dengan membuat sesuatu yang sempat tertunda.
Tadinya Sean akan menjemput Shelly malam ini dan mempersembahkan kejutan ini yang bertepatan dengan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
Namun Tuhan membimbing istrinya itu untuk datang dengan sendirinya.
Niatnya ingin memberi kejutan, malah dia yang terkejut dengan penampakan Shelly yang tiba tiba di dalam lift saat Sean hendak memasukinya di lantai basement.
__ADS_1
Sean ingin memeluknya saat itu juga, namun tampaknya Shelly tengah tak menyadari akan kehadirannya.
Bahkan Shelly tak perduli jika dianggap sebagai setan penghuni lift.
Sean diam dan mendengarkan segala keluh kesah orang yang paling dia cintai. Wajahnya bahkan memerah kala Shelly menyatakan jika dia sangat mencintainya.
Kata kata yang ada dalam skenarionya untuk dia ucapkan malam ini.
"Kamu.. kamu.." ucap Shelly tergagap saat isakannya sudah reda.
Sean merapikan rambut Shelly dan menyeka air mata yang membasahi pipi.
"Kamu lapar?" timpal Sean yang dibalas anggukan cepat Shelly sambil tertawa.
Bukannya membawanya duduk di kursi untuk memulai makan malam mereka, Sean mencium bibir Shelly dan ********** rakus. Menjelajah mulutnya seperti baru menemukan oase di padang pasir.
Shelly kewalahan meski dia juga merindukan dan mendamba sentuhan suaminya kembali, mencubit tongkat sakti milik Sean karena kehabisan nafas.
"Auh..." Sean mengaduh kala tongkatnya yang sudah berat diujung terasa panas.
"Engap, kak" keluh Shelly terengah.
Mereka lantas tertawa bersama. Barulah Sean mengajaknya duduk untuk makan.
Bukan duduk di kursi secara terpisah dan berhadapan, namun Sean membawanya duduk dipangkuannya.
"Sayang, kursi itu masih ada" tukas Shelly yang heran dengan tingkah Sean yang tampaknya tak mau melepasnya.
"Biarkan dia jadi tamu kehormatan ulang tahun pernikahan kita" jawab enteng Sean yang lantas menyuapkan makanan pada Shelly yang tengah terkekeh.
Shelly hanya menurut, membuka mulutnya dan mengunyahnya. Sesekali Sean menyuap pada diri sendiri lalu mengecup bibir Shelly.
Selesai dengan makan malam nan romantis, Sean membawa Shelly pada ranjang dingin yang akan segera mereka panaskan.
Menyalakan dan menyetel layar lebar itu dengan filem kesukaannya.
"Disney?" tanya heran Shelly.
"Yup. I Love Disney's" jawab Sean mantap.
"Hah.. yang bener aja.. kita mo romantis romantisan loh, apa ga akan nyetel pilem horor kek, atau pilem p0rno gitu?" cebik Shelly meledek suaminya yang ternyata kekanakan.
"Ck, ngapain nonton pilem begituan kalo kita bisa bikin adegan sendiri" balas Sean menaik turunkan alisnya.
Shelly mengulum senyum. Terbayang langsung adegan panasnya bersama sang suami yang selalu dinantinya.
"Sejak kapan kakak menyiapkan semua ini" tanya Shelly penasaran dalam dekapan Sean.
"Sebenarnya waktu itu sudah direncanakan, dibantu Evi. Sayang dia ngambil kesempatan itu buat ngehancurin hubungan kita. Kamu ingat kalau waktu itu kamu baru wisuda, dan aku ingin memberi kejutan untuk mengucapkan selamat" jawab Sean sambil mengeratkan pelukannya.
Sekali lagi dia menyesal pernah membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan rumah tangganya.
"Maafkan aku" ucap Shelly dalam dekapan erat Sean.
Sean mengernyit. Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf lagi dan lagi? batinnya.
"Maaf kalo aku mengabaikan kakak. Seharusnya kita seperti ini dan menghadapinya bersama. Bayi itu milik kita, tak seharusnya aku bersedih sendirian. Maaf kalo aku gak bisa ngehibur kakak" ucap Shelly penuh sesal. Air matanya kembali menggenang.
Sean menghapus nya dengan mengecup matanya.
"It's okay. Apapun yang bisa bikin kamu lebih baik, aku akan korbankan apapun" ucapnya tulus.
Shelly lantas memulai pergumulan itu. Dia sudah sangat merindukan suaminya.
Disaksikan film 'The Beauty and the Bis', didalam selimut yang tebal, mereka membuat ranjang itu panas dimalam yang dingin.
"Apa yang terjadi dengan apartemen?" tanya Shelly menjeda pergerakan Sean.
"Aku sudah menjualnya" jawabnya singkat sambil melenguh.
"Lalu?" lanjut Shelly yang belum puas dengan jawaban Sean.
"Uangnya aku pake buat nambahin beli penthouse. Bisa kita lanjut?" jawab Sean yang sedikit terganggu dengan pembahasan itu. Dia ingin meresapi dan merasakan sensasi bercinta di luar ruangan seperti ini. Disaksikan layar lebar juga taburan bintang.
Shelly tersenyum seraya membalikan posisi.
"Lanjoooot...."
...TAMAT...
PUAS TUH TAK KASIH 2K+ KATA MAK EMAK😚
TERIMAKASIH YANG UDAH SETIA NONGKRONGIN OTHOR YANG PEMBACANYA BELUM SEBERAPA TAPI OTHOR GA KAN NYERAH
DO'A KAN OTHOR BIAR TERUS BERKARYA DAN MEMBERIKAN HIBURAN YANG KALIAN SUKAI.
MOHON MAAF JIKA DI SEBAGIAN BAB TIDAK BERKENAN DENGAN HARAPAN READERS.
TERIMAKASIH JUGA ATAS SUPPORT JEMPOL, HADIAH DAN VOTE NYA.
OTHOR HARAP READERS MENGAPRESIASI HASIL KARYA OTHOR DENGAN BINTANG LIMA DAN ULASAN YANG POSITIF.
JIKA TIDAK SUKA OTHOR HARAP TIDAK MEMBERIKAN BINTANG SATU 👌🏻
__ADS_1
HARGAI JERIH PAYAH ORANG LAIN SEKECIL APAPUN ITU
SEE YOU ON MY NEXT NOVEL😘😘😘