
"Jadi.. kemana papa sama mama Mario?" tanya Shelly kala mereka duduk di meja resto sambil menikmati es krim dengan rasa yang berbeda, dan kebanyakan Mario yang memakannya setelah berperang dengan diri sendiri.
"Ayahnya single parent saat Mario dilahirkan. Dan ibunya..." kalimatnya dijeda.
"Apa dia meninggal saat melahirkan?" tebak Shelly sendu.
Terry menggeleng.
"Ibunya langsung pergi setelah pulih dari melahirkan. Dia bahkan tak mau melihat bayi merah itu. Sejak saat itu.. kakak ku hanya bertahan selama 1 tahun, dan dia meninggal dalam kecelakaan tunggal. Mario diasuh ibuku yang kini tinggal bersamaku" jelas Terry.
"Jadi bapak memutuskan pindah ke kota ini?" Shelly kembali bertanya.
"Ya, mengurus perusahaan keluarga untuk cabang kota ini. Menjadi dosen kemarin hanya sementara saja, itung itung membantu senior" jawab Terry.
"By the way, kamu gak masalah jalan dengan kami? apa suamimu tahu?" Terry bertanya karena sedari tadi Shelly selalu membuka ponselnya dan menyimpannya kembali.
"Hm ya, aku sudah bilang padanya" jawab Shelly mengedikkan bahu. Namun Terry membaca tatapan matanya yang menerawang.
Namun pupil mata itu seketika melebar kala menatap pada satu arah.
Terry mengikuti arah tatapannya.
Sepasang kekasih yang berangkulan keluar dari sebuah toko perhiasan dengan tawa pada keduanya. Menenteng beberapa tas belanjaan bermerek.
__ADS_1
"Maaf.. saya.. saya ke toilet dulu" ucap Shelly beralasan. Padahal ingin menghampiri mereka, memastikan sangkaannya salah. Meski dia yakin itu benar.
"Kak.." sapa Shelly menghentikan langkah mereka.
"Sh.. Shelly.. kok.. kamu ada disini juga?" Sean gelagapan dan berusaha menyembunyikan beberapa kantung belanjaan itu namun jelas tidak bisa.
"Ya.. insting seorang istri.." jawab Shelly enteng sambil menatap rangkulan tangan wanita itu di lengan Sean. Lalu memindainya dari atas hingga ke bawah.
Yang di pindai malah mengeratkan rangkulan dan menampilkan senyum miring.
Sean yang menyadari akan ada kesalahpahaman itu segera melepas rangkulan wanita itu.
"Siapa dia?" tanya Shelly.
Shelly tak menghiraukan uluran tangan Evi. Tetap dengan ekspresi dinginnya sambil melipat kedua tangan di dada.
"Oh.." hanya itu yang keluar dari mulut Shelly.
"Kamu.. jalan jalan?" tanya Sean lagi memecah kecanggungan. Ada raut takut dalam wajahnya.
"Hn.. seperti kubilang tadi.. insting seorang istri membawaku pada perilaku suamiku selama berjauhan" ucap santai Shelly menatap tajam Evi yang tampak cuek.
"Kamu ngomong apaan sih? kita cuma temenan kok. Dulu dia sahabat kakak, salah satu temen kerja kelompok" jelas Sean dengan nada tak suka pada sangkaan Shelly.
__ADS_1
"Temen ya.. apa seperti kita? temen segalanya?" lanjut Shelly mengalihkan tatapan tajamnya pada Sean sambil mengetatkan rahang.
"Shell.. jangan keterlaluan kamu ya" intonasi Sean meninggi.
"Mamaaaa.... " pekik Mario berlari dari arah belakang Shelly.
"Hei boy, are you finished yet? (hei sayang, apa kamu selesai?) sambut Shelly yang langsung menggendong Mario.
Terry menyusul berjalan perlahan di belakang Mario sambil memperhatikan interaksi Shelly dengan sepasang kekasih yang dia lihat keluar dari toko perhiasan.
"Siapa anak ini?" tanya Sean bingung karena Shelly tak pernah berlama lama berada di kota ini dan tak mungkin mempunyai teman. Bahkan Shelly pernah bilang jika dia tak punya saudara di kota ini.
Terry mensejajarkan diri dengan Shelly hendak memperkenalkan diri.
Sean menaikan sebelah alisnya.
"Siapa dia?" Sean kembali bertanya saat Shelly belum menjawab.
"Hanya teman" jawab enteng Shelly mengedikkan bahu.
"Mama ayo ke toko butu cama papa" rengek Mario membuat lipatan dahi Sean semakin dalam.
__ADS_1