Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Membalas Perasaan


__ADS_3

Shelly memutuskan menjauh dari mansion Rosie agar sang momy tak bertanya lebih jauh tentang hubungannya dengan Sean.


Tapi dia bingung mau kemana untuk berpura pura jika tempat kos nya sudah pindah.


ciiit


"Woi.. kalo gak bisa nyetir rebahan aja dirumah napa. Menuhin jalan aja tau ga" pekik Shelly kesal pada pengendara mobil yang tampak tersendat menjalankan mobilnya.


Shelly hampir menabrak bemper belakang mobil jeep modern berwarna silver karena rem mendadak.


"Kek yang kenal sama mobilnya" gumam Shelly yang lantas memutar kemudi untuk melewatinya secara perlahan.


Saat ini Shelly memakai mobil hadiah dari Sean untuk membujuk sang momy berjaga jaga memberondongnya dengan pertanyaan, maka Mercy G-Class lah harapannya untuk mengalihkan perhatian sang momy.


Shelly tak mengerti dengan Chelsea sang momy. Sedari kecil momy nya selalu tahu jika Shelly berbohong ataupun bersembunyi dimana, Chelsea selalu bisa menemukannya.


Bahkan saat dia berada di luar kota sekalipun karena terbujuk rayuan teman teman racer nya untuk mengikuti balap liar, tiba tiba saja sang momy sudah berkacak pinggang di tengah jalan menghadangnya dengan tatapan menembus kaca hitam tak tembus pandang.


Beruntung Shelly mewarisi kemampuan menyetir dari sang momy sehingga dengan mudah dia mengendalikan mobil rongsok milik temannya yang sudah hampir tak berbentuk karena modifikasi asal yang dilakukan temannya. Jika tidak, pastilah dia akan menabrak telak sang momy karena kecepatan yang tengah ia tancap tak main main.


Seperti sekarang, Chelsea tiba tiba memberitahunya jika dia sudah berada di kota yang sama dengannya. Untuk itulah dia menjauh dari rumah Rosie.


"Rendi?" gumam Shelly kala hendak melewati mobil yang menghalangi jalannya. Dan tak ia sangka Rendi lah pengemudinya.


"Nyet. Ngapain lo bawa mobil orang?" tanya Shelly mengalihkan perhatian Rendi yang tengah gugup karena tak biasa memakai mobil matic.


"Bantuin napa" gerutu Rendi mendelikan matanya.


"Bantuin gimana maksud lo?" lanjut Shelly menaikan sebelah alis.


"Bantu supirin ni mobil balik ke garasinya" tukas Rendi menjelaskan maksudnya.


"Jiah.. lagak lo bawa mobil keren tapi gak bisa pake. Trus nasib mobil gue gimana kalo gue bawa mobil elo?" cibir Shelly.


"Ya tinggal dulu aja disini. Ntar lo tinggal balik lagi sini. Gampang kan?" timpal Rendi.

__ADS_1


"Enak bener cungur lo kalo ngomong. Heran deh sama elo yang suka ngegampangin masalah orang. Lagian elo bisa tuh ngeluarin ni mobil dari garasinya, masa balikinnya kagak bisa" cebik Shelly yang tak mengerti kenapa dulu dia bisa dengan mudah menelan bujukan lelaki yang sempat ia sukai.


"Ya cewek gue yang keluarin lah" jawabnya enteng.


"Heh, napa gak nyuruh cewek lo buat balikin lagi?" lanjut Shelly. Dia merasa kesal dengan sifat mantan sahabatnya yang tampaknya tak berubah. Selalu ada wanita disekitarnya.


"Bacot lo. Mo bantuin gak? kalo engga minggir deh, gak usah sok peduli" sarkas Rendi yang tak biasa dia lakukan. Tampak gurat kekesalan dalam air muka nya.


"Hih, good luck, then" (semoga beruntung) ucap Shelly seraya melajukan jeep mewahnya meninggalkan Rendi yang kesal karena Shelly benar benar sudah tak peduli padanya.


Hari harinya kini terasa hampa, meski kehidupannya sudah tak kesulitan lagi karena sokongan seseorang.


"Sialan. Kenapa gue jadi kek gini? kenapa juga mesti ketus sama dia. Ngejauh kan jadinya. Gimana gue mo tanggung jawab sama si om coba?" gerutunya sambil terus berupaya menjalankan mobil itu dengan pelan dan hati hati.


Shelly merasa lega karena merasa masalahnya untuk sementara teratasi.


Dia menyewa sebuah kamar kos dengan perlengkapan lengkap. Jadi dia tak perlu membeli barang barang lagi karena semua sudah disediakan. Hanya tinggal membawa pakaian saja.


Shelly memberi kabar pada Axel yang belum juga dibacanya melalui aplikasi chat berlogo hijau.


Waktu tak terasa berlalu dengan cepat. Shelly tak sengaja tertidur dalam penantiannya menunggu sang momy yang tak kunjung menelpon.


Jam menunjukkan pukul 9 malam. Shelly sudah tertidur selama 4 jam. Beberapa kali panggilan dalam mode silent tak ia angkat. Beberapa kali panggilan dari Axel, Sean, dan sang momy.


Entah apa yang membuatnya selelap itu.


"Sayang, kamu kok gemukan" bisik seorang lelaki dengan suara parau dengan tangan yang menggerayangi bukit teletubies Shelly yang memanglah padat.


Nafasnya yang memburu meniupi tengkuk dan telinga Shelly, menggelitiknya dengan kecupan kecupan liar.


"Kak.. ennggh.. darimana kakak tau aku tinggal disini.." ucap Shelly yang terusik tidurnya karena sentuhan yang membangkitkan gairahnya.


"Aku gak mungkin gak tau, sayang" jawabnya yang lantas membuka kancing kemeja Shelly agar bisa lebih mengeksplore tubuhnya.


Seketika Shelly membulatkan matanya. Memaksa kesadarannya kembali dari mimpi indah, seindah sentuhan yang tak biasa.

__ADS_1


Seingatnya, Sean sang suami tak pernah memanggilnya 'sayang', lalu suara itu, bau tubuh itu..


trek


Shelly menyalakan lampu meja di samping tempat tidurnya.


"Rendi?"


"Shelly?"


Pekik mereka bersamaan.


Shelly lantas menutup kemejanya dengan kedua tangannya karena sudah separuh dibuka oleh lelaki yang ia sangka adalah sang suami.


"Ngapain lo disini?" lanjut Shelly panik.


Mata Rendi tampak merah, sepertinya dia dalam pengaruh obat karena tak tercium bau alkohol dari mulut maupun tubuhnya.


"Ini adalah tempatku. Sarang bercinta ku. Dan aku bebas melakukan apapun dengan penyewanya. Dan kamu adalah salah satunya, jadi aku bebas melakukan apapun denganmu. Aku jamin kamu akan merasakan kebahagiaan yang mencandu denganku" jawab Rendi dengan suara serak karena sudah terpengaruh birahi yang memuncak.


Shelly lantas bergegas mengancingkan kembali kemejanya lalu turun dari tempat tidur.


Nahas tubuhnya kembali disergap Rendi yang sudah dipengaruhi obat haram dan tenaganya mendadak kuat. Tangkisan Shelly bahkan tak bisa menyingkirkan tangan Rendi yang erat mencengkram kedua tangan Shelly diatas kepalanya. Dan kedua kaki Shelly ditahan kaki Rendi untuk menghindarkannya dari serangan tiba tiba Shelly pada area vitalnya.


"Lepasin gue" desis Shelly sambil menitikan air mata. Tatapan mengancamnya tak berpengaruh pada Rendi yang tengah dikuasai birahinya.


"Elo kalah Shell. Sekarang gue bakalan dapetin elo" ucap Rendi sembari menyeringai lalu menciuminya dengan rakus.


Sebelah tangannya masih mencengkeram kedua tangan Shelly diatas kepalanya, dan sebelahnya lagi ia gunakan untuk mengoyak kemeja yang baru Shelly kancingkan lagi membuat butiran kancing itu bertebaran.


Shelly memekik dan berteriak menghiba sembari menangis.


"Plis Ren, lepasin gue.. jangan lakuin ini Ren.. lo sobat gue, jangan sakitin gue Ren, pliis.. hahaaa.." tangis Shelly pecah. Dia tak boleh kehilangan mahkotanya.


"Kita bukan lagi sahabat, ingat? lagi pula bukankah kamu sangat menyukaiku? sekarang aku akan membalas perasaanmu.

__ADS_1


NGEVOTE DULU YOOOK😣


__ADS_2