
Shelly sudah diperbolehkan untuk pulang. Perban di kepala pun sudah dilepas dan luka nya perlahan membaik.
Setelah penolakan Shelly pada Sean di rumah sakit tempo hari membuat mood Sean benar benar buruk.
Bagaimana tidak, saat gairahnya sudah berada diubun ubun, Shelly tiba tiba menolaknya lalu tak mau lagi berdekatan dengannya.
Sean dan Terry bingung Shelly harus dibawa pulang kemana. Tidak mungkin Sean membiarkan istrinya tinggal di rumah lelaki lain. Lagi pula semua pakaian dan barang barang Shelly berada di rumah Rosie dan sebagian di luar kota.
Lalu Sean memutuskan untuk menempatkannya di apartemennya, agar sekalian bisa mengawasinya.
"Mas, kenapa dia ikut tinggal di apartemen kita?" tanya Shelly sambil mengernyitkan dahi kala menyadari jika Sean menaruh koper pakaian nya di kamar lain.
"mmm dia.. dia memang mas tugaskan untuk menemanimu selama mas kerja di luar kota" jawab Terry beralasan.
"Kenapa aku gak ikut mas aja kemana mana? kan enak tuh bawa istri kemana mana, jadi kalo ada yang nyoba ngejebak ya tinggal lampiasin sama istri sendiri kan?" protes Shelly membuat Sean tersentil.
"Lagian masa mas gak tahu, laki laki sama perempuan yang bukan mahramnya gak boleh tinggal serumah. Kalo selama mas di luar kota trus kita ngapa ngapain, apa mas ridha?" ocehan Shelly sembari menatap sinis pada Sean kembali menyentil Sean.
Sean terdiam. Dia menerima perkataan Shelly yang mengena di hatinya karena dia memang pantas menerimanya. Dan dia menganggap itu belum seberapa dibanding rasa sakit yang ia torehkan pada istrinya dengan alasan apapun.
__ADS_1
Sean menghela nafas kasar. Dari pada Shelly ikut dengan Terry menjauh darinya, lebih baik dia mengalah.
"Tidak apa apa, tuan. Biar saya cari rumah lain saja" ucap Sean lantas kembali menggeret kopernya.
"Mas, bisa bantu aku mandi?" tanya Shelly manja sembari mengalungkan kedua lengannya di leher Terry.
Sean yang belum keluar apartemen pun menghentikan langkahnya seketika.
Sedangkan Terry tengah berkeringat hebat. Dilema antara akal sehat dan tak sehatnya berperang.
"Ayolah mas, selama di rumah sakit mas jarang sekali bahkan tak pernah memperhatikan dan mengurusku. Apa mas membenciku? atau aku sudah tak menarik lagi?" keluh Shelly mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang menggerayang nakal di dada Terry.
Peran sebagai suami istri yang diperankan sang istri dan orang asing karena masalah kesehatan Shelly benar benar menyiksanya.
Dia tak sanggup membayangkan Shelly berhubungan intim dengan siapapun.
"Tapi.. mas.. mas harus segera pergi.. ada.. ada meeting dadakan hari ini" jawab Terry beralasan. Padahal dia sangat menginginkan mengambil keuntungan dari kondisi Shelly.
"Kenapa belum pergi juga?" ketus Shelly pada Sean yang tampak tercenung di ruang tamu.
__ADS_1
"A.. ah.. mm.. saya.. sedang berfikir barangkali ada yang tertinggal" Sean memberi alasan.
Shelly menaikkan sebelah alisnya. Masih merangkul leher Terry mesra.
"Baiklah, tampaknya sudah semua. Saya.. saya permisi" pamit Sean akhirnya. Lantas melangkah keluar dengan lunglai sambil menarik nafas dalam.
Dia menyerahkan semuanya pada sang Maha Kuasa.
Sean memutuskan menyewa unit apartemen yang jaraknya dekat dengan unit miliknya yang kini ditempati sang istri bersama pria asing.
Shelly langsung mendorong jauh tubuh Terry setelah memastikan Sean pergi.
"Anda noleh kembali ke tempat anda, pak" ucap Shelly dengan suara dan ekspresi datar.
Terry terkejut.
"Jadi kamu.."
"Maaf" Shelly memotong tebakan Terry.
__ADS_1