
Baskoro kembali ke mobilnya. Dia memutar kunci dan menghidupkannya.
Dahinya berkerut. Pasalnya, ada yang berbeda dengan suaranya.
Saat persneleng masih berada dalam posisi netral, dia mencoba menginjak pedal gas perlahan. Namun seperti ada yang tertahan dari gas buang.
Dia penasaran dan kembali menginjak pedal gas lebih dalam lagi.
"Apa kesumbat ya?" monolognya sambil terus beberapa kali menginjak pedal gas. Hingga..
prangg..
Sesuatu menghantam kaca mobil di belakangnya bertepatan dengan ringannya tarikan gas mobilnya.
Baskoro kembali mematikan mesin dan turun karena pemilik mobil belakang tengah mengangakan mulutnya melihat kondisi kaca mobil yang berlubang akibat tembakan dari knalpot Baskoro.
"Apa yang kamu lakukan pada mobilku.." geram seorang wanita berpenampilan sosialita abis yang langsung menghantamkan tas Prada nya pada kepala Baskoro secara membabi buta sambil berteriak histeris.
"Mampus kau haha..." Shelly terkikik melihat kenahasan lawannya. Dia langsung melesat kembali ke ruangannya.
"Shelly, darimana saja kamu?" tanya Sean dengan alis berkerut.
Shelly menunduk takut lalu menjawab "kebelet pipis, pak" dan langsung membuat wajah Sean memerah.
Bukan apa, dia membayangkan yang iya iya kala Shelly dengan entengnya menjawab itu.
"Ekhem, ke ruangan saya" titahnya tegas setelah berdehem dan langsung berbalik menampakkan ekspresi dingin.
"Sukurin lo. Keluyuran mulu sih" cebik Meli Setiawati Yang Tidak Setia.
Shelly membalas dengan memeletkan lidah padanya lalu melangkah mengikuti sang manajer sambil menunduk takut.
Tiba di ruangan Sean, Shelly langsung menutup pintu karena tahu akan disergap Sean.
grepp
Benar saja. Sean langsung memepetnya ke tembok sebelah pintu yang tertutup lalu menciumnya membabi buta.
Pagi ini tak melihatnya di ruangan staff operasional hingga hampir masuk jam makan siang membuatnya gusar.
Sean mengangkat sebelah kaki Shelly dan melingkarkan di pinggangnya lalu bergerak naik turun, membuat lenguhan dalam pautan bibir mereka keluar bersamaan.
"Aku juga kebelet pipis" bisik Sean yang terus bergerak hingga dia meledak dibawah sana.
Kedutan kedutan miliknya akibat ledakan itu membuat milik Shelly menggila dan ikut meledak.
Mereka terengah sambil berpelukan.
__ADS_1
"Apa kamu sudah siap untuk tahap selanjutnya?" bisik Sean yang menginginkan lebih dari sekedar gesekan pistonnya.
"Aku mau.. tapi.. bagaimana kalo kakak menyesal nanti. Bahkan keluarga kakak mau menjodohkan kakak dengan anak kolega mereka. Masa aku hamil sendirian" keluh Shelly yang sebenarnya juga sudah mendamba aksi lanjutan dari hubungan setengah panas mereka.
"Kita pake pengaman aja" lanjut Sean yang kembali menginginkannya. Namun pendengarannya membuat hasratnya tertahan.
Dia langsung merapikan penampilan Shelly dan dirinya kala mendengar ketukan di pintu.
Shelly yang mengerti pun langsung mengambil posisi duduk di kursi sebrang kursi Sean dan mengambil secarik kertas untuk dia jadikan korban.
tok
tok
"Masuk" titah Sean yang lagi lagi memposisikan diri didepan komputer.
"Pak, maaf. Ada telfon dari pak Presdir" ucap sekertaris menyampaikan informasi yang baru dia terima melalui sambungan telfon lokal.
"Sambungkan" balas Sean yang lantas mengangkat gagang telfon.
Shelly pura pura tak mengetahui jika Sean adalah anak presdir perusahaan ini.
Ingat jika dia menguping pembicaraan sang presdir bersama koleganya tadi pagi.
Namun dia memilih bungkam karena menunggu Sean yang bercerita padanya.
Jika dia memakai identitas aslinya sebagai anak dari presdir perusahaan pastilah dia bisa menempati posisi atas dengan instan.
Seperti halnya Shelly yang menyembunyikan identitasnya sebagai anak konglomerat untuk mencari ketulusan dan wajah asli orang orang yang ingin berteman dan berhubungan dengannya.
"Baik, akan saya laksanakan" ucapnya mengakhiri percakapan telfon.
"Ada apa pak presdir nelfon manajer?" tanya Shelly memancing.
"Ada sedikit masalah dengan staff, dan aku harus menegurnya sebelum kesalahannya lebih besar lagi" jawabnya diplomatis.
"Oooh... rajin ya presdir, mau turun langsung kebawah kek wakil rakyat yang lagi pencitraan" celetuknya sembari asik menorehkan tinta diatas secarik kertas. Sean menautkan alis, menunggu kalimat lanjutan yang seharusnya ada.
"Kek tadi aja, ngurusin apa aja yang dilakuin pemagang selama hampir 2 minggu ini. Harusnya kan bukan urusan presdir. Apa beliau kurang kerjaan?" tambah Shelly dengan tenang. Lalu dia tampak selesai dengan coretan tintanya dan mengangkatnya menghadap sang suami.
"Tadaaa...." senyum lebar ia tampilkan dibalik gambar absurd yang dia buat dengan sangat teliti.
Sean mengangakan mulutnya kala melihat hasil maha karya absurd sang istri.
Bagaimana tidak. Dia membuat karikatur milik Sean. Bukan wajah Sean, namun pusakanya🤦🏻♀️
Shelly tergelak sembari berlari keluar dari ruangan meninggalkan kenang kenangan untuk sang manajer tercinta.
__ADS_1
Sean mengumpati diri sendiri.
Seandainya mereka ada di rumah dengan kelakuan Shelly yang minta dijebol seperti ini, dia tak akan membiarkan waktu sedetikpun terlewat untuk memberinya pelajaran.
Sean lantas tertawa ringan. Merasa harinya lebih berwarna dengan kehadiran Shelly dihidupnya.
Namun tawanya seketika surut kala mengingat pesan papanya tadi melalui sambungan telfon.
"Apa Shelly siap berhadapan dengan keluargaku? meski siap, apa dia setuju untuk terus terang pada mereka tentang status kita? lalu gimana kalo mama dan papa ingin bertemu dengan orang tua Shelly? yang pasti mama dan papa pasti ingin segera mengumumkan statusku dan mempublikasikan pernikahanku. Aaaarghh..." Sean bermonolog dan mengacak rambutnya frustasi.
Seandainya sesederhana itu alasannya, dia mungkin bisa menikmati hubungan mereka dengan bebas.
Mengekspresikan perasaan diantara mereka pada seluruh dunia.
Waktu istirahat tiba. Inginnya Sean mengunci Shelly di ruangannya. Namun dia masih menghargai keputusan Shelly untuk tak mempublikasikan hubungan mereka. Bukan hanya pada orang lain, bahkan pada orang tua mereka sendiri.
"Shell, kenapa sih kamu selalu dipanggil manajer?" tanya salah satu staff di kafetaria.
"Yee si mba gak tau aja tadi pagi juga waktu disuruh ngadep presdir dia ngejawab mulu. Mana songong lagi" celetuk salah satu pemagang dari divisi lain.
Shelly tak menanggapi, dia terus mengunyah makanannya hingga habis.
"Mumpung belom diangkat jadi karyawan. Salah sendiri perusahaan ngebiarin karyawan nge buly pemagang. Lagian kita kita kan gak mungkin dipecat. Kalopun dipecat ya tinggal bongkar aja kelakuan karyawannya" sindir Shelly.
"Lo nyindir gua hah?" pekik Meli Setiawati Yang Tidak Setia tiba tiba dari arah sampingnya.
"Heh.. kalo gak ngerasa ya gausah nge gas gitu kan" ucap enteng Shelly sambil menyuap potongan kentang.
"Lo minta di-"
"Pak presdir, selamat siang" sapa Shelly yang bangkit dari kursinya lalu membungkukkan badannya memberi hormat, membuat Meli Setiawati Yang Tidak Setia menjeda ancamannya dan langsung bersikap sempurna sambil menunduk.
Takut sang presdir menandainya dan mengawasi gerak geriknya.
Pasalnya Meli Setiawati Yang Tidak Setia dan Shelly kerap membuat keributan di kantor ini. Namun bagi para karyawan hal itu mereka jadikan hiburan.
pppfftt...
Bwahahahahahaha....
Tawa Shelly menggelegar di seluruh kantin, sedangkan yang lain hanya menutup mulut mereka untuk menahan tawa mereka.
Meli Setiawati Yang Tidak Setia bingung dan celingukan.
"Lo nyari presdir di kolong, neng.. hahaha... gua pikir nyali lo segede gaban, taunya segede upil hahaha...." Shelly terus tertawa seraya meninggalkan kafetaria.
"Shelly.. bayar dulu, main pergi aja" tegur salah satu staff yang menyusul kepergian Shelly.
__ADS_1