Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Rongsokan


__ADS_3

MAAP YAK KALO UP NYA ATU ATU


REVIEW NT SEKARANG LAMA.


KALO UP SEKALIGUS 4 BAB MALAH KE LONCAT BAB YANG GAK LOLOS RIVIEW


🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️


YANG KESEL KENA PRANK OTHOR JAN NGAMBEK YAK😗😗😗


Shelly terlihat keluar tak lama dia masuk. Lantas meminta bantuan Axel.


"Pinjemin gue jaket lo" pinta Shelly menengadahkan tangannya.


Ada yang berbeda dengan penampilan Shelly.


Make up nya tak setebal sebelumnya. Axel segera membuka dan menyerahkan jaket jins belel nya yang langsung dipakai Shelly. Lalu meraih satu lembar gelang karet berwarna hitam yang selalu melingkar di pergelangan saudaranya itu dan memakaikannya untuk mengikat tinggi rambut panjangnya.


"Sialan, kalo gitu malah tambah cantik kan?" gemas Sean menggigit kesepuluh kuku jarinya. Dugaannya benar jika Shelly tengah melamar pekerjaan di restoran elit miliknya yang tak diketahui siapapun termasuk keluarganya.


Dia menyerahkan pengelolaannya pada sepupu jauh yang berprofesi sebagai chef yang sudah bersertifikat internasional. Dia hanya mengecek pembukuan satu bulan sekali.


"Ed, jangan macem macem sama pelamar itu, ato lo bakal kena sial" ketik Sean pada sepupu jauhnya yang bernama Edrik.


"Lo tenang aja. Gue gak bakal kayak elo" balas Edrik yang merasa lebih tertantang.

__ADS_1


"Sialan ni bocah. Kalo gue pecat, kemana lagi nyari koki jujur kek dia" gerutunya bermonolog di dalam mobil.


tok


tok


Shelly mengetuk pintu sebuah ruangan yang tadi ditunjukan si pegawai laki laki yang dia temui di meja kasir.


"Masuk" terdengar suara dari arah dalam dan Shelly pun mendorong pintu itu.


"Anda.." Shelly cukup terkejut karena yang dia temui di depan tadi merupakan orang yang ingin Shelly temui untuk melakukan interview.


Edrik tersenyum lalu mempersilahkannya untuk duduk.


"Jadi... anda baru lulus 4 bulan yang lalu?" tanya Edrik menatap deretan tulisan dari beberapa lembar kertas putih yang berasal dari amplop coklat.


"Selama 4 bulan ini sudah melamar kemana saja?" lanjut Edrik bertanya.


"Menikmati hidup" jawab singkat Shelly sambil mengedikkan bahu.


"Sebenarnya.. kualifikasi anda sangat tinggi jika bekerja disini" ucap Edrik yang lantas menaruh berkas itu kembali kedalam amplop.


Shelly kembali mengedikkan bahu.


"Saya tak berniat untuk lama bekerja disini kalaupun diterima. Hanya mengusir bosan dan.. ingin mencari vibes baru. Meski saya pernah part time di beberapa restoran biasa. Tapi itu terserah pada anda selaku pemilik-"

__ADS_1


"Wakil pemilik" potong Edrik meralat.


"Wakil pemilik, ternyata" lanjut Shelly yang mendapat perhatian Edrik karena keterkejutannya.


"Apa anda kecewa?" tanya Edrik memancing.


"Kenapa harus kecewa? Bukan urusan saya bukan? wajar jika saya mengira anda pemiliknya" jawab Shelly menyanjung.


"Oh ya? mengapa begitu?" tanya Edrik mulai tertarik dengan anggapan Shelly.


"Karena mobil yang diparkir di depan, dengan tanda yang sesuai dengan ruangan yang anda tempati. 'Owner'" jawab Shelly mengulang tanda yang tertera pada papan kecil yang bertuliskan khusus pemilik restoran.


Edrik tertawa ringan.


"Anda cukup jeli. Tapi tempat itu dan ruangan ini memanglah milik pemilik restoran ini. Saya hanya memanfaatkan lahan saja daripada kosong. Ok, kalau begitu anda saya terima bekerja disini. Dan berdasarkan kualifikasi anda, saya tempatkan anda sebagai 'personal executive chef assistant'" putus Edrik kemudian.


Shelly mengernyitkan dahi. Dia merasa belum pernah mendengar jabatan seperti itu untuk seseorang yang bukan lulusan tata boga.


"Apa anda membeli mobil itu dalam keadaan rongsok?" tanya Shelly tak menanggapi jabatan untuknya.


Dia hafal dengan mobil yang bertengger apik di parkiran khusus pemilik.


"Ya, anda benar. Aku berhasil merogoh kocek cukup dalam untuk mengembalikannya ke semula. Dari mana anda tahu?" tanya Edrik terheran.


"Saya bisa membuatnya kembali menjadi rongsokan, karena sebelumnya.. saya yang membuatnya menjadi rongsokan" jawab enteng Shelly menaikan sebelah alisnya dengan tatapan dan senyuman sinis.

__ADS_1


Edrik bergeming.


"Jadi ini maksud Sean dengan kata 'sial'?" bathin Edrik.


__ADS_2