Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Membantu


__ADS_3

Minggu ke dua Shelly dirawat. Penampilan Shelly berubah total. Entah dari mana keahlian merias dirinya berasal. Yang pasti para perawat dibuat sibuk karenanya. Bagaimana tidak, meski kepalanya masih di perban, dia meminta layanan meni-pedi dengan alasan dia ditempatkan di ruang VVIP, dan otomatis semua layanan yang ia butuhkan harus disediakan.


Sean tak merasa bermasalah dengan itu. Apa yang diminta Shelly pada perawat selalu langsung disampaikan kembali padanya.


Terry dan Mario tak begitu sering datang ke rumah sakit. Hanya jika Mario merengek saja mereka datang berkunjung dengan alasan Terry sibuk dengan pekerjaan.


Terry cukup tahu diri karena dia hanya orang asing yang kebetulan terjebak dalam drama amnesia Shelly.


"Bang.." Shelly memanggil Sean dengan sebutan itu karena Sean pada akhirnya mengaku jika dia asisten pribadi Terry yang ditugaskan menjaga Shelly 24/7.


"Ya, saya, nyonya" jawab Sean merendah.


"Ck, jangan panggil nyonya dong. Kesannya saya itu wanita tua. Kamu gak lihat saya masih kenceng.. padet.. seksih..." jelas Shelly menggigit bibir bawahnya sambil terus menatap cermin yang selalu tak lepas dari genggamannya.


Akhirnya dia memilikinya juga setelah Terry merengek pada Sean agar ponselnya dikembalikan. Bukan pelit atau tidak bisa beli ponsel baru. Tapi karena para relasinya mengetahui nomor kontaknya itu tak pernah berubah dan sudah tersebar hingga ke mancanegara.


Sean menelan ludahnya untuk yang kesekian kali saat Shelly memperagakan menggoda dan merayu melalui cermin.


"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Sean lembut. Dari gelagat istrinya ini, sudah ia duga jika Shelly tengah terangsang.


Sean perlahan mendekat.

__ADS_1


Shelly menoleh padanya lalu meniliknya dari atas hingga....


Ahh author gak tega nyebutnya🤭


Dan bertahan menatap pada satu yang bengkak dibawah sana.


glekk


Shelly menelan ludah.


Apakah milik suaminya tampak besar seperti itu? pikirnya mulai liar.


"Panggil.. apapun yang kamu mau.. emm.. apa.. kamu bisa bantu saya.." jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya.


"Ya, silahkan" tukas Sean kembali sedikit melangkah mendekat.


Shelly gemas ingin melahap apapun yang ada didekatnya.


"Bisa.. bisa hubungi suamiku? aku.. aku butuh dia.." pinta Shelly membuat Sean dongkol.


"Maaf, tapi.. tuan sedang tidak bisa dihubungi. Beliau sudah memerintahkan pada saya untuk membantu anda. Apapun yang anda butuhkan, akan saya penuhi" pancing Sean yang kembali melangkah mendekat hingga jarak mereka cukup dekat.

__ADS_1


"Tapi.. hanya suami saya yang bisa memenuhi kebutuhan saya" timpal Shelly memposisikan diri duduk dengan kaki menjuntai ke lantai.


Dia masih harus sering istirahat, karena khawatir jika terlalu banyak bergerak, maka akan berpengaruh pada kesehatannya. Dokter menyarankan agar Shelly tak membuat gerakan yang tiba tiba atau melakukan olah raga berat.


"Apapun bisa saya lakukan untuk anda. Dan suami anda sudah mempercayakannya pada saya. Katakan, apa yang bisa saya lakukan?" tanya Sean dengan suara seraknya.


Kini mereka sudah hampir tak berjarak. Sean berdiri diantara kedua paha Shelly yang sedikit membuka.


"Tapi.." ucapannya terjeda. Fokus menatap manik mata yang terasa tak asing baginya.


"Dia tak akan tahu" ucap Sean yang nekat meraih dagu dan menciumnya.


Shelly terdiam.


Sungguh memang dia sangat menginginkan sentuhan. Terlebih hormon ibu hamil yang cukup besar untuk melakukan aktifitas panas pasangan.


"Aku gak bisa menghianati suamiku" tolak Shelly secara verbal. Namun bibirnya ******* bibir Sean.


"Aku hanya membantu anda. Bukankah kita harus membantu orang yang membutuhkan bantuan?" diplomasi Sean meruntuhkan pertahanan Shelly.


"Cukurin dulu" pinta Shelly menghiba.

__ADS_1


__ADS_2