
"Jadi.. kalian benar.. suami-istri?" tanya Edrik tak percaya.
"Maaf mengecewakanmu" jawab Shelly sambil mengedikkan sebelah bahu nya.
"Gua bilang juga apa" bisik Susan pada Rio yang meratapi nasibnya yang kembali dipatahkan sebelum berkembang.
"Ternyata benar kamu" desis Sean pada Evi yang masih Shelly kunci lengannya ke belakang tubuhnya.
Mata Sean menyorot tajam, nafasnya memburu membayangkan betapa dia sangat murka pada wanita ular yang telah menjebaknya.
"Halo sayang, bisakah kamu beritahu jalangmu ini untuk melepaskanku? aku janji akan.. aahhh..." bujuk Evi pada Sean yang dibalas tekanan pada lengannya oleh Shelly.
"Siapa yang kamu panggil '******', ******" tekan Shelly mengeratkan kunciannya.
"Hahahaha..... seandainya kamu tahu kalau dia sangat menikmati tubuhku" ucap Evi sembari tertawa jahat.
Edrik membelalak, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Sedangkan Sean, wajahnya memerah menahan amarah yang bisa membuatnya membunuh wanita ini seketika.
Shelly lantas membalikkan tubuh Evi lalu mencengkram lehernya.
"Kamu sesenang itu? bagaimana jika anakmu yang berusia 9 tahun itu mengetahui tentang perilaku bejat ibu yang dia banggakan, huh? apa kamu masih akan tertawa?" desis Shelly membuat tawa jahat Evi terhenti seketika. Berganti dengan ekspresi marah.
Sean dan Edrik serempak menoleh pada Shelly, lebih terkejut lagi dengan kenyataan lain yang Shelly ketahui.
__ADS_1
Seringai terbit di wajah Shelly.
"Bersiaplah, karena sebentar lagi seluruh keluargamu akan tahu kebusukanmu- aakk.." Shelly tersentak mengaduh kala Evi tiba tiba mencengkram perut Shelly.
"Lakukanlah, tapi sebelum itu, anakmu yang akan merasakan akibatnya terlebih dahulu.
Sean terkejut lalu berusaha melepas cengkraman Evi, namun Evi semakin mengeratkan cengkramannya.
"Lepaskan dia, Evi" sentak Sean.
"Coba saja. Atau kau akan kehilangan anak kalian" ancam Evi tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Shelly.
Shelly mengaduh dan melepaskan tangannya dari leher Evi.
Tanpa diduga, Shelly dengan keras mendorong kedua bahu Evi sehingga cengkraman di perutnya terlepas dan tubuh belakangnya terhempas menabrak tembok.
"Sayang, kamu gak pa pa?" tanya Sean khawatir.
"Menurutmu?" jawab Shelly sambil terus menekan kaki nya ke leher Evi.
"Shell.. tolong lepaskan dia.. kita.. kita bicarakan baik baik.." bujuk Edrik panik dengan keberingasan kedua wanita di depannya ini. Sedangkan para pegawai saling berangkulan dan menutup mulut mereka masing masing dengan sebelah tangan.
Tak dipungkiri jika mereka pun tak suka dengan sikap sewenang wenang Evi selama ini.
"Bicaralah.. dan jelaskan semuanya di pengadilan nanti" ucap Shelly sembari menoleh pada sebelah tangannya yang dilingkari jam tangan.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, beberapa pria berseragam datang menyergap.
"Diam ditempat. Restoran ini kami amankan untuk penyelidikan produksi kosmetik berbahan dasar obat obatan terlarang" seru salah satu petugas polisi dengan tegas.
Semua terkejut dengan penyergapan itu. Suara riuh para karyawan dan beberapa pengunjung yang menjadi penonton panik karena restoran itu seketika ditutup dan tidak seorangpun boleh keluar setelah mendapatkan keterangan.
"Apa anda yang bernama nyonya Shelly Andromeda?" tanya petugas lain mendekati Shelly yang enggan menurunkan kakinya.
"Ya, benar. Saya Shelly Andromeda yang melapor. Semua bukti ada di bagian belakang restoran ini" jawab tegas Shelly tanpa mengalihkan tatapannya dari Evi yang tengah terpojok.
"Geledah tempat ini" titah sang komandan pada beberapa anak buahnya.
"Anda bisa menurunkan kaki anda, nyonya" lanjut sang komandan pada Shelly.
Perlahan Shelly menurunkan kakinya, dibantu Sean agar sang istri tak terjatuh.
uhuk
uhuk
Evi terbatuk lantas tiba tiba menyerang Shelly.
Nahas sang komandan dan Edrik yang berada didekatnya tak bisa menahan pergerakan tiba tiba Evi.
"Matilah kamu..." pekik Evi.
__ADS_1
bugghh..