
"Terus gimana nasib gue?" tanya Rendi memelas sambil menunduk.
"Lah kok nanya gue? elo yang ngatur hidup lo kenapa gue mesti nanggung derita lo? elo yang enak enakan, giliran babak belur lari ke gue. Kagak salah ngotak lo? ketuker dimana tuh otak?" sewot Shelly.
"Ya kan elo sobat gue. Tolongin napa" Rendi bersungut masih tetap pada pendiriannya.
"Ogah, nolongin anjing kejepit mah" Shelly lantas menyeruput habis jus mangga kesukaannya lalu menarik paksa Axel yang asik bermain mobile game.
Rendi kesal dan frustasi karena sahabat yang tadinya saling tolong menolong dan berbagi suka dan duka tak mau meladeninya lagi.
Memang salahnya mengikuti hasrat yang tak bisa ia tahan hingga rela menghamburkan uang demi mendapat kenikmatan sesaat.
Pikirnya biarlah dia menghabiskan seluruh uang bulanan nya, toh masih ada kedua sahabatnya yang bisa dia tumpangi makan dan tempat tinggal.
Namun perkiraannya salah.
Shelly kini berubah.
Seolah tak lagi peduli padanya.
Jika dulu gadis itu akan membelanya mati matian dan melakukan segala cara agar dirinya tak kesulitan, kini gadis itu seolah menjauhinya dengan sengaja.
Apa itu juga akibat dia yang dengan sengaja mengabaikan rasa suka Shelly dan memilih bersenang senang dengan perempuan lain dan sering dengan sengaja membuatnya cemburu.
Kini gadis itu sudah menikah dengan orang kaya, dan dia sudah tak mau lagi peduli padanya. Pikir Rendi.
"Aaaarrgghh.. gue harus kemana.." monolognya sambil mengacak rambutnya frustasi.
Rendi lantas terpikir akan sesuatu. Kini yang ada dalam pikirannya adalah menyelamatkan diri.
Rendi bangkit lalu bersenandung riang karena merasa punya harapan lain.
Waktu terus berjalan. Shelly benar benar tak memperdulikan Rendi lagi dan selalu menghindarinya jika tak sengaja berpapasan atau bahkan berada dalam satu kelas yang sama.
Shelly pun tak membatasi Axel dengan mengharuskannya terus bersamanya kemanapun. Dia hanya mengawasi bocah itu dari kejauhan.
__ADS_1
Jangan tanya tentang teman teman Shelly, karena tak ada yang cocok dengan gaya urakannya.
Shelly sendiri tak nyaman berada ditengah para gadis yang hanya menyandang status saja, karena pada kenyataannya mereka sudah merelakan kegadisan mereka pada sembarang lelaki yang menurut mereka menarik.
"Shell.." teriak Axel dari kejauhan. Dia berlari dan mendekat sembari membawa 3 lembar kertas yang dijadikan satu oleh stapler.
"Lo mau pe ka el dimana? ni gue punya daftar perusahaan. Siapa tau perusahaannya mau langsung rekrut kalo IP kita bagus" Axel antusias dengan mata kuliah yang mengharuskan mereka untuk bergabung di perusahaan tertentu sebagai pengenalan awal dalam bekerja di perusahaan dan mencari bahan makalah sesuai dengan tema yang mereka tentukan.
"Lo lupa kalo dady bakalan jadiin lo pendamping kak Harvey?" Shelly menggetok kepala Axel dengan pulpen yang tengah ia gigit.
*Bagi yang belum baca karya othor yang berjudul 'Montir Janda Ku', Harvey adalah kakak sulung Shelly yang kini mengelola perusahaan menggantikan sang dady.
"Hehe.. trus lo gimana?" Axel bertanya menghawatirkan masa depan Shelly.
"Yeee.. lo lupa kalo gue udah ada yang nafkahin? pemilik perusahaan gede pula" timpal Shelly setengah berbisik karena dia belum siap status pernikahannya terungkap sebelum lulus kuliah.
"Emang lo mau terus jadi istrinya dia?" Axel menanyakan apa yang ingin dia tanyakan melihat gelagat Shelly dan Sean yang selalu lengket jika sudah bertemu.
"Menurut lo?" Shelly bertanya balik sambil menampilkan senyum malu malu.
"Hhh.. iya iya, gue tau. Lo udah cinta mati sama dia. Gaya lo bisa mup on dari si curut" cibir Axel.
"Iya, gue bersyukur lo udah gak murung lagi. Gue bener bener seneng liat lo bahagia, meski gue harus gigit jari liat keuwuan elo sama si om-" ucapan Axel terjeda kala Shelly membekap mulut Axel.
"Pelan pelan ngomongnya, tar kalo pada denger bisa dihujat massal gue" gerutu Shelly.
"Asem ih tangan lo. Abis cebok belom cuci tangan yak" sarkas Axel yang dibalas tamparan di lengan oleh Shelly.
"Tapi gue bener bener bersyukur ketemu dia meski jalannya pake tragedi segala" ucap tulus Axel yang diangguki Shelly.
Shelly memilih perusahaan yang berbeda dengan Axel. Dan itu atas keputusan mereka bersama dengan pemikiran yang sudah matang.
Ini pertama kali bagi mereka memilih perjalanan berbeda demi masa depan mereka.
Tersadar jika tak kan selamanya mereka akan terus bersama membuat mereka berfikir lebih dewasa dan mulai menjalani kehidupan masing masing meski masih tinggal dalam satu rumah.
__ADS_1
Shelly membawa surat izin melaksanakan PKL dari kampus ke perusahaan yang dia kenal pemiliknya namun tak mau memberitahukannya.
"Permisi, saya pemagang baru. Divisi Operasional disebelah mana ya?" tanya Shelly pada resepsionis yang bernama Wiwit.
"Oh, pemagang. Naik tangga aja ya, divisi operasional ada di lantai 5" ucap ketus seorang front officer sembari menilik penampilan Shelly dari atas ke bawah.
"Lantai 5? gak salah pake tangga?" tanya Shelly sedikit sewot.
"Ya memang kalo pemagang harus pake tangga. Lagian kalo pake lift juga percuma, kamu bakalan kesiangan karena harus mendahulukan pegawai. Yaudah sii tinggal naik tangga aja ribet gak usah manja"
Shelly tak menyangka sambutan karyawan yang pertama kali menghadapi tamu berkepribadian ketus seperti ini. Apa job desc nya terlalu longgar, pikirnya.
"Kalo bagian HRD di lantai berapa mba" lanjut Shelly bertanya dengan enteng.
"Kamu tuh mau ke bagian apa sih, nanya nanya mulu. Udah sana cari sendiri. Tuh disana ditempel lantai berapa untuk divisi divisi yang ada" ucap Wiwit yang masih ketus.
Shelly tersenyum miring dengan sikapnya.
Dia lantas menaikan ponselnya yang menunjukkan durasi rekaman suara.
"Yaudah makasih ya mba atas keramah tamahannya" ucap Shelly yang langsung melesat kearah tangga diselingi tawa.
Namun Wiwit mengangakan mulut karena tak percaya jika percakapan mereka direkam oleh pemagang.
"Sialan tuh cewek. Pakek nanya divisi HRD lagi" panik Wiwit yang berkeringat. Baru juga 3 bulan dia bergabung menjadi pegawai tetap di perusahaan setelah sebelumnya dia juga sempat menjadi pemagang di perusahaan ini.
Bagaimana tidak ketus jika seorang pemagang berpenampilan elegan dan cantik seperti Shelly akan merebut perhatian para karyawan dan bos di perusahaan ini.
Shelly menanggalkan penampilan urakan dan tomboy nya demi melaksanakan program praktek kerja di perusahaan yang telah ditunjuk.
Tanpa menggubris arahan Wiwit, Shelly melesat kearah lift bergabung dengan para karyawan tanpa canggung.
Benar saja, penampilan elegan nan sopannya mengatensi para karyawan karena wajah blasteran milik Shelly selalu mampu menarik perhatian kaum adam.
__ADS_1
"Maaf, apa kamu pemagang baru?" tanya seorang karyawan yang melihat tanda name tag bertuliskan 'tamu' yang biasa perusahaan berikan pada tamu dan pemagang.
Shelly menolehkan kepala pada asal suara dan tersenyum manis. Membuat siapapun yang melihatnya mendapatkan serangan jantung.