
"Mama.. banun ma.. buka matana.. engng.. papa bukain mata mamana pa.." rengek Mario pada Terry kala Shelly tak kunjung membuka matanya setelah beberapa hari dipindahkan ke ruangan VVIP.
Masa kritisnya telah lewat, namun tampaknya Shelly benar benar kelelahan.
Terry yang memaksa keluar dari rumah sakit pun segera menjenguk Shelly karena khawatir pada Mario sang ponakan rasa anak nya. Dia tak mau sampai ibunya yang kembali kelelahan karena mengurus mereka berdua. Jadilah dia menyewa 1 kamar di hotel yang berada tepat di sebelah rumah sakit itu untuk dirinya dan Mario beristirahat agar tak terlalu jauh bulak balik menjenguk Shelly karena rengekan Mario yang selalu ingin melihat Shelly.
"Papa.. papa.. kata mama, aulola bisa banun dali bobo panjangna gala gala ditium pangelan. Papa tium mama bial mama na banun gih" pinta Mario pada Terry yang seketika wajahnya memerah. Bukan hanya karena merasa malu dan deg deg an, juga karena mendapat tatapan mematikan dari Sean yang tak mau meninggalkan Shelly barang se senti pun.
Terry tampak gugup.
"Papa tepetaaan.. tium mama na bial banuuun.." Mario kembali merengek karena tak sabar ingin Shelly segera bangun dan bercengkrama dengannya.
"Gak boleh, sayang. Papa gak boleh cium mama" tolak Terry dengan wajah yang lebih merah karena kata sakral satu itu yang langsung terbayang adegannya mencium wanita idamannya.
Sean yang sedari tadi hanya menonton drama ayah dan anak jadi jadian ini mendelikkan mata.
"Harusnya om yang cium, bukan dia" ketus Sean yang langsung mengecup tangan Shelly yang ia genggam, lalu bangkit untuk mencium bibirnya, namun segera dicegah Mario dengan pekikannya.
__ADS_1
"Janaan.. nda boleeh.. om na jahad nda boleh cium cium mamaaa.... huaaa.. papa.. suluh pelgi om jahad na paa... " tangis Mario memenuhi ruang rawat Shelly.
Sean tak mengindahkan larangan Mario karena dia merasa berhak atas istrinya, dan anak itu bukanlah siapa siapanya.
Sean masa bodo dengan teriakan dan larangan Mario. Dia malah sengaja mengecupi wajah Shelly. Meski Mario menangis meraung raung, Sean tak perduli.
Shelly miliknya. Hanya miliknya.
"Aduuuh.. berisik amat sih.. ga bisa ya orang tidur dengan tenang" keluh Shelly mengerutkan alisnya dengan mata masih terpejam.
"Mama.."
Sean dan Mario terperanjat bersamaan dan langsung berlomba memeluk Shelly.
"Om.. sanna ihh.. Lio mo peyuk mama.. ini mama Lio.. om janan peyuk peyuk.. iihh.." protes Mario mendorong kepala Sean namun Sean tetap tak mau mengalah.
"Gak mau. Kamu aja yang minggir. Shelly punya om" tepis Sean menyerukkan wajahnya pada ceruk leher Shelly.
__ADS_1
Aksi rebutan itu hanya bisa Terry tanggapi dengan gelengan kepala.
"Ya ampun, pak, maaf harap tenang ya. Bapak, bisa ke ruangan dokter dulu? beliau ingin bicara emat mata dengan bapak" ucap perawat menyampaikan pesan dari dokter pada Terry.
Terry yang tengah melipat kedua tangan di dada mengernyit sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Maksudnya saya?" tanya Terry.
"Iya. Bapak suaminya nyonya Shelly, bukan?" tukas sang perawat memastikan.
"Enak aja. Saya suaminya Shelly. Kenapa nyangka dia yang jadi suaminya?" ketus Sean tak suka dengan anggapan sang perawat.
Apa dia tidak pantas menjadi suami Shelly? pikir Sean geram.
"Hah.. a.. eee.. m-maaf.. saya pikir anda adalah.. saudaranya nyonya Shelly" cicit sang perawat yang seketika merasa tidak enak dengan sangkaannya.
"Tadinya mo digaet kan lumayan, ternyata pawangnya" lanjut sang perawat kecewa.
__ADS_1