Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Amarah Sean


__ADS_3

POV SEAN


Perhatian!


Bab ini mengandung kekerasan. Harap bijak dalam membaca.


......................


Dia pergi..


Aku tak percaya membiarkannya pergi. Meski mulutku berkata 'jangan', namun tubuhku membiarkannya.


Separuh hidupku pergi dariku. Lalu apa yang tersisa.


Entah berapa banyak air mata yang kutumpahkan.


Entah berapa lama aku duduk bersimpuh, berharap dia kembali dan memaafkan kesalahan yang tak mungkin termaafkan.


Aku menoleh pada sumber penderitaan kami yang tampak menatapku dengan tatapan yang meremehkan.


"Kamu.." desisku pada wanita ular itu.


Aku bangkit dan mendekatinya yang tengah terkekeh dibalik bantal yang menutupi setengah wajahnya.


Kusingkirkan dengan kasar benda empuk yang menghalangi wajah ularnya.


hekk


Aku mencekik dan mengangkat tubuh mungil yang hampir telanjang itu. Menekan ibu jariku pada pangkal tenggorokannya. Berharap penderitaan kami lenyap seiring lenyapnya wanita iblis ini.


Bisakah?


Kurasakan mataku memanas, seiring dadaku yang membara karena luapan amarah yang tertahan.


Namun tak ada raut kesakitan dalam air mukanya. Membuatku lebih menekan ibu jariku.


Wajahnya mulai membiru.


Namun senyum iblis terpampang diwajahnya.

__ADS_1


Membuatku semakin membencinya.


"Bunuhlah aku, maka kamu akan membunuh anakmu"


degg


Cekalanku melonggar, saat mendengar kata kata penuh bisa nya.


Tidak.


Aku tak akan terjebak lagi.


Aku kembali menekan ibu jariku.


"Maka bawalah anak iblismu bersamamu" desisku tak peduli.


Yang kini aku yakini adalah, benih itu bukanlah milikku. Dan aku tak akan pernah mengakuinya.


Aku tak percaya, Evi yang ku kenal dulu begitu polosnya, selalu dijauhi teman sekelas karena status sosial dan penampilan yang menurut siswa lain, culun, membuatku ingin melindunginya. Dan mungkin aku adalah teman pertamanya.


Aku menganggapnya seorang adik, karena aku tidak mempunyai adik.


Monster yang menghancurkan kehidupan seseorang.


Bayangan akan hancurnya hati istriku membuatku menutup mata tentang siapa mahluk yang kini tubuhnya aku kuasai.


aaaak...


Terdengar dia mulai kehabisan nafas.


Dengan mudahnya aku melempar tubuh yang mulai melemah itu ke meja kaca.


prangg..


Nafasku memburu, mataku memanas seiring luruhnya air mata ini.


Aku tak perduli tubuhnya yang terkena serpihan kaca. Karena dia sudah menancapkan ribuan pedang pada rumah tanggaku.


tring

__ADS_1


tring


Bunyi dering ponsel mengalihkan perhatianku.


Aku langsung mengambilnya, berharap istriku yang menelfon dan memaafkanku.


"Nenek?" gumamku.


glek


Aku menelan kasar saliva. Aku tahu beliau pasti akan mencecarku. Tapi itu harus aku terima, karena kesalahanku membuka peluang bagi orang ke tiga kedalam rumah tanggaku.


"Kak.. kak Sean cepet pulang.. hik.. Shelly.. nenek.." terdengar isakan Axel di sebrang sana.


"Axel? apa yang terjadi?" tanyaku sedikit panik karena seorang Axel menangis.


Tak mungkin Shelly melakukan sesuatu yang buruk pada nenek kan? batinku yang coba kuenyahkan.


"Shelly sama nenek jatuh dari tangga.. cepet kesini.." raungnya.


Seketika tubuhku melemas.


Tidak


Tidak boleh terjadi apa apa pada kedua kesayanganku.


Aku segera meraih pakaian yang tergelatak di lantai karena ulah bejatku malam ini.


Kulirik tubuh yang tak berdaya diatas serpihan kaca itu lalu segera kutinggalkan.


Satu yang ku khawatirkan saat ini adalah, apakah mereka baik baik saja? semoga.


Dengan panik aku menyusuri lorong rumah sakit yang sepi, karena ini hampir tengah malam.


Tiba di sebuah ruangan dengan lampu merah menyala di atas pintu, aku menemukan beberapa art nenek, seorang pria yang sepertinya pernah kulihat entah dimana, lalu Axel yang tengah tergugu dengan pakaian yang..


dilumuri darah yang mengering.


Tidak..

__ADS_1


Apa yang terjadi..


__ADS_2