
"Shelly.. disuruh ngumpul diruang Presdir" seru salah seorang staff operasional.
Shelly mengangguk dan langsung bangkit dari kursi yang berada di pojok ruangan. Dia tidak diperkenankan mengerjakan apapun selain membelikan kopi dan mengcopy data yang sudah di print oleh para staff operasional atas perintah Meli Setiawati Yang Tidak Setia.
"Mampus lo, ditegor pak presdir" cibir Meli yang girang jika Shelly akan di tegur pimpinan utama.
"Kalo mau negor ngapain harus presdir yang turun tangan? kek gada kerjaan aja" balas Shelly enteng yang langsung melangkah dengan sedikit melompat lompat dan kedua tangan bertaut dibelakang tubuhnya.
Meli Setiawati Yang Tidak Setia tercenung ditempatnya.
Benar juga, kalau urusan tegur menegur pastilah direktur divisi yang melakukannya, karena dia belum resmi menjadi pegawai perusahaan. Lagipula Shelly tidak melakukan kesalahan yang merugikan perusahaan. Hanya sedikit bersitegang dengan karyawan tetap tentang masalah pribadi.
"Apa dia mau dijadikan daun muda ya?" gumamnya yang merasa menyesal tidak bersolek lebih kontras dari Shelly yang hanya sekedar membubuhkan lipstik berwarna merah menyala.
"Yah setidaknya daun muda yang memang selalu dipilih para penikmat teh" celetuk Shelly yang tiba tiba kembali ke ruangan untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan.
"Cih, memang murahan dasar. Maunya dinikmati rame rame" cibir Meli Setiawati Yang Tidak Setia.
"Yah, selama itu nikmat, apa salahnya membuat diri bermanfaat. Daripada ditinggal lalu menjadi tua dan layu yang akhirnya menjadi komposss" balas Shelly terkekeh sambil melangkah girang.
Meli Setiawati Yang Tidak Setia lantas menghentakkan heelsnya karena kesal dengan jawaban Shelly yang selalu menguras emosinya.
Baru kali ini sindiran dan cibirannya dibalas seseorang. Pemagang pula. Jatuh harga diri Meli Setiawati yang Tidak Setia.
Shelly melihat para pemagang dengan warna kostum yang sama dengannya yaitu hitam dan putih tengah berlarian menuju tangga darurat.
"Ada apa ini?" tanya Shelly pada salah satu yang bernasib sama dengannya.
"Liftnya rusak. Kita harus naik tangga" jawab salah satunya dengan ekspresi merengut.
"Oooh.. lantai berapa emang?" lanjut Shelly bertanya sambil dengan entengnya melangkah ikut menaiki undakan tangga yang melingkar.
"Lantai.. 10.." jawab salah satunya ngos ngosan karena dia berasal dari lantai 2.
gubrak
Shelly tersandung titian tangga kala mendengar jawaban pemagang yang sudah berada setengah lantai diatasnya karena berlari vertikal.
"Buset, gak kira kira nih obos nyuruh kita olag raga" celetuk Shelly yang lantas melangkahkan kakinya dengan santai menaiki undakan tangga dengan stabil.
Benar saja, sepanjang tangga itu dia banyak melewati para pemagang yang terduduk lemas dan berpegangan pada railing tangga untuk sekedar mengambil nafas.
__ADS_1
Shelly mengedikkan bahu dan melanjutkan langkahnya dengan santai hingga tiba di lantai 10.
"Permisi, pak. Ruangan Presdir sebelah mana ya?" tanya Shelly sesampainya di lantai eksklusif itu.
Terdapat dua pasang meja dan kursi yang Shelly tebak adalah tempat sekertaris dan asisten sang presdir bekerja.
Beben meniliknya dan menolehkan kepala pada arah belakang Shelly dan diikuti Shelly yang ikut menoleh kearah belakangnya sambil mengerutkan dahi.
"Kamu.. pemagang?" tanya Beben yang dijawab anggukan Shelly.
"Yang lain pada kemana?" lanjut Beben bertanya karena hanya Shelly yang baru sampai di lantai ini.
Shelly masih mengerutkan dahi sambil telunjuknya mengarah pada tangga darurat.
"Masih di tangga.. pak" ucap Shelly terheran. Dia pikir dia terlambat. Sangat terlambat. Namun sepertinya dia datang lebih awal.
Beben menghela nafas. Bagaimana tidak. Dia juga merasakan sulitnya mengatur nafas sambil berlari menaiki tangga hingga lantai 10.
"Ya sudah, kamu masuk duluan" titah Beben yang diangguki Shelly.
"Dateng lewat mana tuh cewek? santai amat. Ah palingan juga dari lantai 9" monolog Beben.
tok
tok
Shelly membuka pintu lalu melangkah masuk tanpa menutupnya kembali.
"Selamat.. pagi, pak. Apa bapak ada perlu dengan saya?" tanya Shelly yang sempat menjeda karena waktu sudah tak lagi pagi, namun belum beranjak siang.
"Pagi. Yang lain-" pertanyaannya terpotong kala muncul sosok sosok lain yang melangkah masuk dengan sempoyongan dan tertatih. Jangan lupa nafas dan suara mereka yang tampak habis dijalan.
Namun berbeda dengan Shelly yang tampak cuek dan acuh.
Sabastian mengangakan mulutnya, tak percaya dengan keadaan yang sangat berbeda.
"Kalian naik tangga darurat kan?" tanya Sabastian yang dijawab anggukan kesepuluh pemagang termasuk Shelly.
"Lalu kamu?" tanya Sabastian menunjuk dan menilik Shelly yang tak tampak kesusahan sedikitpun. Hanya beberapa helai rambut yang keluar dari ikatannya.
"Ya sama pak. Masa saya teleportasi" jawab Shelly enteng membuat Sabastian terkesiap akan sikap yang dirasa kurang sopan.
__ADS_1
Sabastian lantas kembali ke meja dan mencari data para pemagang, sambil membiarkan kesembilan orang itu menetralkan nafas dan jantungnya.
Mereka lantas berbaris mensejajarkan diri dengan Shelly yang sudah sedari tadi bersikap berdiri sempurna.
"Lalu kenapa kamu gak kesusahan seperti mereka?" lanjut Sabastian yang entah apa maksudnya bertanya seperti itu.
Shelly memutar bola matanya seraya menjawab "karena saya berfikir pake otak, sama sama ke lantai 10 tenaga diabisin di awal, ya mesin juga jebol kalo langsung digas tanpa pemanasan dulu. Sama seperti istilah nikah dan kawin, sama sama ngejebol gawang, bedanya kawin pake urat kalo nikah pake surat" jawab Shelly nyeleneh yang dirasa tak nyambung oleh Sabastian.
"Kenapa kamu menjawab seperti itu? apa kamu tidak takut dengan saya?" tanya Sebastian sembari mengeluarkan aura yang ditakuti para karyawan.
Tentu saja tak berlaku padanya, karena momy nya lebih menakutkan.
"Karena pertanyaan bapak tidak relevan dengan dikumpulkannya kami disini. Menurut saya, bagaimana cara kita sampai disini bukanlah urusan bapak selama kami menempuh jalan yang tidak merugikan perusahaan. Dan maaf, saya disini hanya magang, mengumpulkan data untuk laporan makalah saya. Jika saya rasa tidak relevan dengan judul makalah saya maka saya akan mencari perusahaan lain yang bisa saya jadikan sumber bahasan saya" Shelly menjawab dengan tegas.
cekrek
Sabastian diam diam mengambil foto para pemagang, lalu memanggil satu per satu sesuai urutan tumpukan biodata.
Dan Shelly bagian terakhir.
"Kamu sendirian di divisi operasional?" tanya Sabastian yang sedikit menebak jika ini adalah gadis yang dimaksud sang istri karena sesuai dengan karakter yang istrinya deskripsikan.
"Iya pak" jawab singkat Shelly.
"Apa saja yang kamu pelajari di departemen operasional?" tanya Sabastian yang ingin menguji kemampuannya.
"Cara memesan kopi dan mem fotocopy dokumen dengan cepat" jawab enteng Shelly.
"Apa itu yang kamu lakukan selama.. hampir 2 minggu ini?" lanjut Sabastian yang terheran dengan jawaban Shelly.
Shelly hanya bisa mengangguk mantap. Satu lagi, sikap cueknya tak pernah ketinggalan.
"Lalu apa yang akan kamu tulis dalam laporanmu?" lanjut Sabastian.
"Nah itu, saya juga bingung pak. Apa yang saya lakukan gak ada dalam mata kuliah saya" jawab enteng Shelly.
Sabastian menelengkan kepala. Ada sedikit ketertarikan dengan kepribadian gadis dihadapannya ini.
Apa dia juga yang berhasil menarik perhatian sang anak?
Pasalnya para pemagang wanita yang lain adalah tipe wanita cantik dan anggun. Tipe tipe yang pernah ia dan sang istri sodorkan pada Sean namun tak pernah diliriknya.
__ADS_1