
"Sialan lu, Shell. Pake bilang darurat segala" ketus Axel yang lantas menengadahkan telapak tangannya.
"Minta duit" ucapnya.
"Hehe.. anak baik. Nih buat jajan" Shelly memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Pelit lu. Masa elu yang enak enakan ngasih duit segini?" Axel protes karena merasa harga 1 malam menginap di hotel tak cukup dengan uang yang Shelly beri.
"Sialan lo, gue berasa dijual germo tau" gerutu Shelly yang lantas memberikan seluruh isi dompetnya.
"Gitu baru cakeep. Ntar kalo mo ewokan lagi kasih tau gue yak" cengenges Axel yang dibalas tendangan di pantat.
Dan terjadilah...
😗😗😗😗😗
"Kapan kuliahmu beres?" tanya Sean memeluknya dari belakang setelah pertarungan sengit. Terpisah dari sang istri benar benar menyiksa. Tak mengerti kenapa ada yang bisa berjauhan dengan keluarga terutama istri karena pekerjaan. Apakah mereka mempunyai pelampiasan lain? karena bagi Sean, 3 hari tak bertarung enak saja sudah sangat menyiksanya. Bagaimana dengan yang harus berbulan bulan bahkan setahun sekali baru pulang?
Sungguh Sean tak sanggup jika harus seperti itu.
__ADS_1
Jika dahulu sebelum merasakan enaknya bercinta dia bisa menahannya, maka kini dia takut terjebak tawaran berzina karena kebutuhan yang satu itu.
"Secepatnya aku akan bereskan. Setelah itu aku akan ikut kakak kemanapun" janji Shelly seraya membalikan tubuhnya menghadap Sean dan mengecup bibirnya sekilas.
Dia pun tak bisa berlama lama berjauhan. Sangkaan akan suaminya yang tergoda oleh pesona wanita lain terus menghantui malam malamnya.
Sean mengeratkan pelukan dan kembali menyatukan diri.
Shelly bisa menyelesaikan kuliahnya 6 bulan lebih awal. Ada kebanggan dalam dirinya karena termotivasi oleh sang suami. Ingin segera bersatu dan jauh dari benalu seperti Cindy yang masih bersikukuh tinggal di rumah Rosie meski harus melakukan semua sendiri.
"Shelly, selamat ya. Kamu lulusan terbaik ke 5 tahun ini. Kebetulan perusahaan saya membutuhkan orang orang berpotensi seperti kamu. Jika berkenan, maukah kamu bergabung dengan perusahaan saya?" ucap Terry sembari menyalami lalu menyodorkan amplop besar dengan kop perusahaannya tercetak jelas pada amplopnya.
Shelly menutup mulutnya yang menganga dengan sebelah tangan.
Terry mengangguk dan tersenyum.
"Tapi.. " Shelly tampak ragu. Mungkin banyak tawaran yang bagus untuknya, pikir Terry.
"Kamu pikirkan saja dulu. Jika sudah mantap dan memilih perusahaan saya, kamu langsung hubungi saya saja" ucap Terry kemudian.
__ADS_1
Shelly mengangguk dan tersenyum. Lalu menjabat tangannya dan mengucapkan terimakasih.
"Mai gaaat senyum nyaaa..." batin Terry yang berharap tangannya tak bergetar seperti jantungnya.
"Gak ada ludah lagi?" kelakar Terry yang dibalas tawa Shelly.
"Ya Tuhan.. bolehkah aku mengharapkan wanita milik orang lain ini?" harapnya dalam hati.
Tujuan utama Shelly setelah lulus hanya satu, yaitu bersatu dengan sang suami.
Dia berencana melamar pekerjaan di kota yang sama dengan Sean.
Shelly terus mengembangkan senyumnya selama perjalanan. Terus membayangkan bagaimana menjalani kehidupan hanya berdua dengan cintanya.
Mengenakan baju khas wisuda, Shelly ingin mempersembahkan perjuangannya pada sang suami.
Mobil tiba di depan rumah tetangga Sean karena tepat di depan rumah Sean terparkir mobil SUV yang entah milik siapa.
"Pagi pagi gini udah ada tamu?" gumam Shelly yang lantas melepas seat belt lalu turun.
__ADS_1
Saat menutup pintu mobil, terdengar suara tawa dari arah rumah. Tawa yang sangat ia rindukan, keluar dari rumah itu bersamaan dengan keluarnya seorang wanita cantik berpakaian khas kantoran yang juga tengah tertawa. Tampak akrab.
"Kak.." seru Shelly menampilkan senyum terpaksanya memanggil sang suami.