Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Kepanikan Tiara


__ADS_3

"Jadi... kalian sudah menikah?" tanya Tiara menginvestigasi sembari berjalan perlahan mengitari kursi sofa yang tengah Shelly dan Sean duduki bak terdakwa yang tengah diadili. Mereka menundukkan kepala.


Shelly dan Sean lantas saling beradu pandang. Sean tak mau membuka mulutnya dan memberikan keterangan yang tak Shelly setujui.


"Kita... temenan aja kok, tan" jawab Shelly yang kembali menunduk.


Sean membelalakan mata.


"Temen? lalu ini apa?" tanya Tiara sambil melempar dua buah buku kecil berwarna merah dan hijau ke atas meja.


"Itu.. surat izin khilaf, tan" Shelly kembali menjawab membuat Sean melipat mulutnya. Menahan tawa yang hampir menyembur.


Sabastian lagi lagi menggelengkan kepala.


Tiara tak bisa berkata kata. Menantunya ini memang limited edition. Ada rasa senang karena mereka sudah resmi secara agama maupun negara. Tapi...


"Lalu kenapa kalian gak minta persetujuan kami. Atau minimal memberi kabar, kan mama bisa ketemu dulu sama orang tua kamu, Shelly" lanjut Tiara.


"Justru itu yang Shelly hindari, tante" sergah Shelly yang kemudian di ralat Tiara.


"Mama.. panggil mama, karena kamu sudah jadi menantu mama. Aduuuh.. mimpi apa mama kok tiba tiba udah punya menantu" Tiara menahan antusiasme nya. Dia harus menjaga image nya. Jangan sampai gadis ini besar kepala dan semena mena terhadapnya karena menyukai gadis itu.


"Kalo gitu, secepatnya kita bikin resepsi biar orang orang-"


"Ma.. tolong hargai keputusan Shelly. Bukan tanpa sebab dia belum mau dipublikasikan. Semua demi janjinya pada orang tuanya. Dan Sean mengerti akan hal itu. Toh dia juga tinggal disini sama nenek dan Sean juga sekarang tinggal disini. Kalo mama mau umumin Shelly sebagai calon menantu mamah pada orang orang, Sean setuju biar mereka gak menaruh harapan sama Sean"


tring


tring


Dering ponsel terdengar, menjeda adu argumen dalam ruangan itu. Dan ternyata sebuah panggilan video dari sang momy.


"Gawat.. pake vidkol segala sih" gumam Shelly.


"misi, mama tante.. Shelly terima telfon dulu" pamitnya meminta izin menerima telfon dan melangkah kearah belakang rumah.


"Mama tante.. anak ini.." lirih Tiara tak percaya dengan panggilan Shelly untuknya.


"Hai honey.. udah pulang?" tanya Chelsea langsung saat Shelly baru menggeser tombol hijau.


"Ya, mom. Shelly udah pulang magang. What's up?" (ada apa?) jawab Shelly yang sedikit panik.

__ADS_1


"Honey, kamu lagi ada dimana? apa kamu pindah tempat kos lagi?" tanya Chelsea dengan dahi berkerut karena melihat latar di belakang Shelly yang menampilkan ornamen mewah pada dinding.


"And who's that?" lanjut Chelsea bertanya kala melihat penampakan seseorang mengintip di belakang Shelly.


Shelly menoleh kebelakang tubuhnya namun tak ia temukan siapapun.


"No one, momy. Jangan nakutin Shelly deh. Momy kan tau gak ada yang lebih nyeremin dari momy" timpal Shelly cuek.


"Kamu sekarang ada dimana, biar momy samperin sekarang. Ngomong macem macem sama momy. Gak tau gitu kalo momy kangen" gerutu Chelsea.


"Ini.. ini lagi dirumah temen mom. Shelly mau ngambil data yang kebawa sama dia" kilah Shelly yang Chelsea ketahui jika anak gadisnya ini menyembunyikan sesuatu.


"Momy lagi di kota M, ni. Momy jemput ya. Kita hang out bareng. Just send me your location" timpal Chelsea yang tampaknya memang tengah berada di mobil yang bergerak.


"Momy, you're kidding, right?" (momy, kamu bercanda kan?) Shelly panik mengetahui jika sang momy berada di kota yang sama dengannya.


"No, I'm not. C'mon it's week end, I'll take you to have some fun. Where's Axel?" (Beneran. Ayo kita bersenang senang. Mana Axel?) jawab Chelsea yang kemudian menanyakan Axel yang tak biasa tak ikut tampil dalam layar.


"Pah.. itu kayaknya ibunya Shelly deh. Tapi.. ngomongnya inglis-an gitu, terus.... gak usah jadi ya ngambil Shelly jadi mantu" bisik Tiara yang tak mau terdengar Sean.


"Kok gitu sih? ini kan mereka udah resmi, mah" timpal Sabastian sambil menyeruput kopi sore nya dan menunjuk pada surat izin khilafnya Shelly dan Sean.


"Tapi... " rengekan Tiara menjeda. Sesuatu mengganjal pikiran istrinya ini.


"Shelly ada apa, mau kemana?" tanya Sean heran sekaligus panik karena melihat ekspresi Shelly yang panik.


"I have to go" (aku harus pergi) jawabnya terburu buru.


"Maaf, non Shelly. Ada telfon untuk non Shelly" seru bi Yani yang muncul dari arah ruang makan yang berbatasan dengan ruang tengah.


Dahi Shelly berkerut. Setau dia, tak pernah dia memberi nomor rumah Rosie pada siapapun. Bahkan dia tak mengetahui nomornya.


Shelly melangkah dengan heran kearah letak telfon kabel itu.


"Halo.." sapanya ragu ragu.


"Shelly Andromeda.. turn your cell phone on, right now" (Shelly Andromeda, nyalakan ponselmu sekarang) raung Chelsea pada sambungan telpon kabel itu.


"aaa...." Shelly terbata. Dia lantas menghela nafas lalu kembali menyalakan tombol power ponselnya untuk mengaktifkan kembali.


"Okay, momy. Don't yell at me" keluhnya murung.

__ADS_1


Sean baru melihat ekspresi Shelly yang ketakutan seperti ini. Pun dengan kedua orang tua Sean yang sempat menilai kepribadian Shelly yang tangguh dan tak takut pada siapapun.


Ternyata Shelly yang pemberani punya kelemahan juga.


Ibunya


Itulah kelemahan Shelly yang baru mereka ketahui.


Sabastian jadi penasaran seperti apa rupa dan karakter sang besan.


"Lagian udah nelpon juga ngapain vidkol segala" lanjut Shelly menggerutu dan mengangkat sambungan video call yang dilakukan sang momy.


"There you are... I miss you so bad.." ucap Chelsea girang. Dia tak peduli jika Shelly mengerucutkan bibirnya. Baginya, Shelly tetaplah gadis mungilnya.


"Jadi.. apa kamu gak akan mengirimkan lokasimu, honey?" lanjut Chelsea bertanya.


"Ngapain ngirim juga. Momy aja udah tau nomor telpon rumah ini" jawab Shelly dengan mode merajuk.


"Ya ampun, anak momy kalo udah merajuk tambah kiyut deh. Ya udah, mmm.. setengah jam lagi momy sampai. Pastikan Axel ada, okay. Momy bawa makanan kesukaan dia" Chelsea langsung memutus sambungan telfon bergambar itu secara sepihak.


"What? setengah jam lagi?" tanya Shelly pada ponselnya.


"Mampus" gumamnya.


"Kenapa?" tanya Sean khawatir sambil mendekati sang istri.


"Gawat, momy mo dateng" gumamnya lirih sehingga hanya bisa didengar oleh suaminya.


"Apa? momy mu mau dateng?" pekik Tiara.


Shelly salah menduga jika gumamannya ternyata terdengar juga oleh Tiara.


Shelly terkesiap, lalu mengangguk cepat.


Dia tak bisa menutupi kepanikannya.


"Gawat" kini Tiara yang bergumam dengan panik.


Shelly dan Sean mengerutkan dahi.


"Ayo pah, kita pulang" lanjut Tiara menarik paksa tangan Sabastian yang hampir terjungkal dari kursinya.

__ADS_1


"Gawat kalo sampe ketemu. Bisa jatuh cinta kamu, pah" batin Tiara.


__ADS_2