
POV Sean
Shelly masih setia memejamkan matanya. Mungkin dia lelah. Biarlah dia beristirahat untuk sementara.
Ku buka kotak beludru berwarna biru tua.
Sebuah kejutan yang ingin ku persembahkan pada wanita yang paling berharga dalam hidupku.
Separuh hatiku
Separuh nyawaku
Kupasangkan bagian kecil di jari manisnya.
Cantik
Seperti dirinya
Seperti hatinya
Lalu kupasangkan bagian besar di jari manisku. Seperti inilah kami.
Jika dipisahkan, hanya berupa ukiran abstrak. Tak berarti.
Jika disatukan, kami melambangkan bersatunya cinta.
Aku menggenggam tangannya erat. Tak hentinya mengecupi tangannya yang lemah.
Aku tak merasa malu untuk menunjukan kelemahanku.
__ADS_1
Tangis ku, asa ku, cinta ku, hanya untuknya.
"Bangunlah sayang.. aku menunggumu.. pukul lah aku jika kamu ingin menghukumku. Aku memang salah, membiarkan pintu terbuka hingga orang lain dengan mudah memasukinya, meski tak kuizinkan.
Tapi aku berani bersumpah, aku tak pernah memikirkan orang lain selain kamu, sayang. Aku tak pernah menyentuh wanita lain meski terlihat seperti itu.
Bangunlah.
Kita nikmati masa masa pertumbuhan calon anak kita.
Aku berjanji, akan menjadi apapun yang kamu mau, asalkan kamu kembali padaku, dan memaafkanku.
Hukumlah aku se berat beratnya. Kemudian terima aku kembali. Karena aku tak berarti tanpamu, juga anak kita"
POV Author
"MAMA..." pekik seorang anak tiba tiba diambang pintu ruang ICCU. Menginterupsi curahan hati Sean.
"Adik manis, kenapa ada disini? anak kecil gak boleh kesini nanti ketularan sakit loh" bujuk Sean lembut.
"Mama Lio ada dicini.. Lio mau cama mama, ooom..." Mario terus menangis dan menggoyang tangan Shelly yang dipasangi selang infus.
Sean celingukan kearah jendela yang menampakkan wajah lelaki yang sedari awal menemani mereka di rumah sakit.
Jika saja dia bukan orang yang berperan besar dalam keselamatan istrinya, sudah pasti Sean akan mengusirnya karena parasnya yang matang dan tampan itu.
Dikarenakan hanya 1 orang yang diizinkan masuk ruangan itu, maka Sean memberikan kesempatan pada laki laki yang tak ingin Sean tahu namanya.
"Masuklah, temani anakmu" izin Sean membuat mata lelaki itu berbinar.
Sean tak suka.
__ADS_1
Beberapa hari ini lelaki itu selalu tidak ia beri kesempatan untuk mendekati sang istri.
Cemburu?
Pasti.
Egois?
Iya.
Tapi anak itu mengalahkan keangkuhannya, keegoisannya. Mungkin saat nya nanti, saat anak mereka telah lahir, dia harus banyak mengalah seperti saat ini.
"Papa.. kecian mamana di tojos tojos jayum pa.. lepacin pa.. mamana nanti tatit kecian paa..." rengek Mario yang masih bisa Sean dengar sebelum menutup pintu itu.
Sampai saat ini dia masih penasaran dengan hubungan antara Shelly istrinya, lelaki itu dan anak nya.
Seingatnya, lelaki itu jalan bersama Shelly dan juga bocah itu saat berada di kota Sean mengelola cabang perusahaan keluarga.
Tak mungkin Shelly tiba tiba berkenalan di kota itu dan langsung jalan, bukan? pikirnya.
Ataukah mereka memang sudah saling kenal dan kebetulan bertemu lalu jalan?
Sean berperang dengan pemikirannya.
Toh dia yang salah karena tidak menemani Shelly saat Shelly datang untuk memberinya kejutan kelulusan.
Dia bahkan tak tahu jika Shelly sudah wisuda.
Suami macam apa dia. Pikirnya.
Lanjoot besyoook😉
__ADS_1