Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Gengsi


__ADS_3

15 menit lagi waktu istirahat tiba. Kegelisahan Sean tampak pada sikapnya yang seringkali mengangkat tangan kirinya untuk menatap tajam pada jam tangan Rolex nya. Memerintahkan jarum panjangnya untuk segera bergerak keatas namun seperti mengolok oloknya, jarum itu diam di tempat.


"Maaf tuan, apa ada hal darurat yang perlu segera anda lakukan?" tanya sang asisten laki laki yang baru bekerja beberapa bulan ini.


"Hm.. ya, ada" jawab tegas Sean yang lantas membuka jam tangan mahal itu dan memberikan padanya.


Sang asisten yang bernama Ujang Colins itu mengernyitkan dahi kala menerima jam tangan super mewah baginya itu.


"Te.. terima kasih t-"


"Kamu cari tukang servis jam yang bagus" potong Sean menyurutkan rasa semringah sang asisten.


"Apa jam nya bermasalah tuan? apa perlu saya kembalikan pada toko?" saran sang asisten yang mendamba jam tangan yang dirancang bagi pembalap itu.



ROLEX COSMOGRAPH DAYTONA PLATINUM


*Beuuuh... kapan othor dapet beginian😣


"Apa kamu gak lihat kalau jarum panjangnya tak bergerak? pasti jam nya bermasalah. Sana perbaiki" ketus Sean yang tak biasanya ketus.


Ujang Colins menilik dengan tangan bergetar, takut menggores setitik pada jam yang lebih pantas di pigura saja.

__ADS_1


"Tapi tuan.. jarum detiknya bergerak.." timpal Ujang Colins.


"Hah? masih hidup?" Sean terkesiap. Lalu kursinya ia geser mendekat pada Ujang Colins yang lantas memperlihatkan pergerakan cantik si jarum yang menunjukkan detik nan bergerak mulus.


Mereka berdua berdekatan memperhatikan pergerakan itu dan mulai menghitung...


"52..54..56..58.. yeeee....." euphoria menggema di ruangan itu. Sean dan Ujang Colins saling berpelukan mengucap syukur karena jarum yang mereka nantikan berhasil..


"Tapi kenapa jarum panjangnya masih belum sampai keatas?" Sean kembali bertanya membuat suasana kembali hening.


πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ€§


Di Rumah Sakit


Betapa senangnya bocah itu setelah melakukan sedikit drama pada kedua orang yang telah mengurusnya sedari bayi.


"Halo jagoan kecil.. apa kamu habis menangis?" tanya lembut Shelly yang langsung menggendong Mario dan membawanya masuk, meski belum dipersilahkan masuk.


Berhubung Terry berada di ruang rawat kelas 2, jadilah dia harus berbagi kamar dengan orang lain yang berjumlah 4 bed. Dan Terry ditempatkan di ujung sebelah kiri, sehingga tak mengetahui siapa yang datang kecuali mendengar suaranya.


"Shelly?" seru lirih Terry yang tak percaya jika Shelly benar benar datang memenuhi janjinya.


Dia pikir Shelly hanya berjanji untuk sekedar membujuk anak kecil demi terlepas dari rengekannya.

__ADS_1


"Nak Shelly, kamu sudah datang?" sambut Risa yang juga tak percaya dengan kedatangan wanita yang menjadi bintang pembicaraan di rumah nya. Terutama oleh Mario.


Shelly mendekat lalu mencium takzim tangan nya.


"Ibu, apa kabar. Kebetulan cepat selesai periksanya. Halo, pak. Bisa tumbang juga?" Shelly membalas sapaan Risa lalu beralih menyapa Terry yang tengah tertegun tak percaya dengan kedatangannya.


"Ekhem" hanya itu jawabannya.


"Adeeeh.. sakit gitu aja gengsi. Kalo sakit kurap terus harus di rawat, baru boleh gengsi. Paling pada nanya, emang apanya yang kurap sampe dirawat segala. Hayo, bapa bakal jawab apa?" goda Shelly membuat Terry mencebik.


"Jawab pak, malah diem" pinta Shelly tanpa rasa malu karena kehadiran ibu sang mantan dosen yang tengah terkekeh. Dia tak percaya jika anaknya yang super jutek jika dikenalkan dengan anak kenalannya itu bisa di kerjai seorang wanita yang tampak cuek.


Risa memang tak mengetahui jika Terry merupakan mantan seorang player saat masih remaja. Yang Risa ketahui, Terry sang anak selalu menghindar kala hendak dikenalkan dengan salah satu anak koleganya.


"Ya mana saya tau. Emang ada sakit kurap dirawat?" tukas Terry lantas balik bertanya.


"Yee, si bapak mah gak gaul sama anak muda sih. Jelas ada lah" jawab Shelly enteng.


"Apa?" Terry penasaran.


"Kurapalkan mantra untuk mendapatkanmu namun tak kesampean. Eaaaa...." jawabnya nyeleneh.


"Kamu.. mana ada penyakit kayak gitu dirawat" gemas Terry yang merasa dikerjai Shelly dan sedikit menahan tawa.

__ADS_1


"Kan gila, pak"


__ADS_2