
Shelly cukup terkejut dengan kondisinya yang baru sadar terluka. Bukan luka goresan, namun sayatan yang cukup dalam.
Saat hendak digiring ke UGD, Shelly memperhatikan arah lari wanita yang memakai boot heels itu.
Reflek Shelly merobek sedikit bagian bawah rok nya, lalu melilitkan sobekan kain itu pada bagian atas lukanya untuk menghentikan pendarahan.
"Nyonya.. biar saya balut dengan perban dulu lukanya" sergah sang perawat.
"Kelamaan, mbak. Telfon polisi, ada penculikan anak. Suruh cari mobil dengan nomor polisi xx xxx xx" titahnya menyebutkan nomor plat mobilnya yang langsung melesat mengikuti jejak penculik Mario.
Sang perawat mengikuti arahan Shelly karena dia juga memang melihat aksi wanita penculik itu dan hendak mencari tahu namun teralihkan perhatiannya kala melihat ceceran darah disekitar lantai tempat Shelly berpijak.
"Halo, dengan kantor polisi.."
"Maaf sus, liat anak laki laki umur 5 tahunan gak ya?" tanya Risa dengan panik. Saat menyadari Mario tak ada di ruangan, Risa kalang kabut mencarinya dan mendengar suara teriakan seorang anak yang sangat ia hafal suaranya. Oleh sebab itu dia ingin memastikan pendengarannya.
"Anak laki laki.. apa yang barusan diculik waktu ngejar ibunya?" perawat itu balik bertanya dengan nada ragu.
Seketika tubuh Risa melemas, kedua tangannya yang bergetar ia gunakan untuk menutup mulut yang menganga diiringi deraian air mata.
"Diculik?" lirihnya tak percaya.
brukk
Tubuh Risa luruh ke lantai, tak sadarkan diri.
"Bu.. bu.." sementara Risa ditangani rekan sesama perawat yang melihatnya jatuh pingsan, perawat itu lantas meneruskan laporannya.
Meski sedikit terlambat mengejar karena mengatasi lukanya terlebih dahulu, Shelly masih bisa melihat mobil mana yang Cindy masuki sembari membopong Mario yang terus menangis histeris dan meronta.
"Bertahanlah boy" gumamnya gusar. Dia takut wanita iblis itu menyakiti Mario.
tring
tring
Dering ponselnya mengalihkan fokusnya.
Tertera nama sang suami pada layar yang menyala dan berdering.
__ADS_1
"Sialan, gue lupa sama ayang" gerutunya lantas menggeser tombol hijau dan me- loud speaker nya.
"Sayang, ikutin GPS aku ya" ucap Shelly langsung kala panggilan baru terhubung.
Sean yang hendak protes karena jam menunjukkan Shelly terlambat 1 menit pun mengerutkan dahi.
Dia lantas membuka aplikasi yang menunjukkan lokasi ponsel Shelly berada.
"Kamu.. mau kemana, kenapa jalurnya gak kearah kantor?" tanya Sean terheran. Panggilan itu masih terhubung, Shelly sengaja tak mematikan sambungan telfon agar Sean bisa mendengar apa yang terjadi dan mudah ia arahkan.
Shelly mengubah panggilan suara ke panggilan video agar lebih meyakinkan sang suami yang cemburuannya nauzubillah.
"Sayang.. kamu ngebut?" tanya Sean panik kala melihat penampakkan Shelly pada layar dengan latar jendela samping Shelly yang bergerak cepat.
"Mario diculik. Kakak panggil bala bantuan, perawat udah nelpon polisi keknya. Lacak lokasi ponsel aku" titah Shelly sambil sibuk mengemudikan mobil otewe antiknya mengikuti DODGE DURANGO yang dikendarai Cindy.
Mobil dengan jenis SUV itu tampaknya hanya dikendarai oleh Cindy seorang tanpa ada yang membersamainya. Terlihat dari bayangan penumpang yang hanya diisi dibagian depan saja. Dan penumpang sebelahnya yang bertubuh mungil tampak tengah meronta di kursinya.
"Cewek sialan. Apa dia kabur dari penjara?" geramnya bergumam.
"Cindy. Tolong cari tau apa yang terjadi di tahanan beberapa hari ini. Kenapa dia bisa ada di rumah sakit" pinta Shelly lagi yang langsung Sean teruskan mencari informasi tanpa menutup sambungan telfon.
nut nut
nut nut
Shelly melirik ke layar, tampak ada panggilan lain masuk menghubunginya. Dan itu adalah Terry.
"Damn, dia pasti kalut" gumam Shelly.
"Sayang, sebentar ada telfon dari pak Terry masuk" Shelly meminta izin. Namun segera Sean cegah.
"Sambungkan bertiga" tegasnya.
Shelly memutar bola matanya. Tentu saja Sean tak akan membiarkannya berkomunikasi dengan pria lain tanpa ada dirinya.
Shelly mengatur panggilan grup lalu memulai panggilan grup.
__ADS_1
"Shell.. kamu dimana?" tanya Terry langsung menodongnya kala baru tersambung.
"Ini sekitaran jalan kolonel masturi. Nopol mobil x xxxx xx, DODGE DURANGO warna hitam. Pengemudinya wanita, bernama Cindy, sepertinya dia kabur dari tahanan" terang Shelly.
"Apa? seorang buronan? kalian mengenalnya?" cecar Terry.
"Ya, dia yang pernah mencelakai Shelly dan nenek waktu itu" jawab Sean.
"Wanita itu? sebenarnya ada apa ini?" Terry penasaran dengan cerita dibalik kisah hidup Shelly yang tampaknya cukup rumit.
"Panjang pak, kalo mo cerita. Nanti aja kalo mo tidur" celetuk Shelly membuat kedua pria itu melempar pandangan yang berbeda.
"Hehe.. canda" ralat Shelly yang merasa tak tahu situasi kala membuat candaan.
"Sialan, dia masuk ke area festival mobil" umpat Shelly yang lantas mengikuti mobil itu masuk ke area festival.
Shelly hafal trik nya. Sambil melewati kerumunan, perlahan Shelly mengarahkan mobilnya ke pintu keluar sambil memindai arah mobil yang dikendarai Cindy.
"Kak, apa kakak sudah dekat?" tanya Shelly pada suaminya yang memanglah sedari tadi langsung turut melesat kearah titik Shelly pada GPS.
"Sekitar 100 meter lagi" jawab Sean.
"Tunggu di pintu keluar, kita tukeran mobil" Shelly mengungkap strateginya.
"Enggak. Mobil itu biar Ujang yang bawa, kamu pindah mobilku" tolak Sean.
Shelly benar benar jengah dengan sifat posesifnya.
'Kak, ini lagi gawat. Bukan waktunya buat mikirin yang begituan" tukas Shelly terlihat sedikit kesal. Dia tak sadar tengah melakukan panggilan grup.
Terry dan Sean sama sama mengernyitkan dahi.
"Yang mikir begituan sebenernya siapa? dasar otak ngeres" timpal Sean membalas sindiran Shelly.
UDAH HAMPIR TAMAT NIH
DUKUNG TERUS SAMPE AKHIR YA
😙😙😙
__ADS_1