
MON MAAP YA MAK EMAK, BODI OTHOR GI KURANG BUMBU NEH
🤧🤕🤒😵
GIMANA KABAR KLEAN, MOGA SEHAT SELALU YAK❤️
OKEY HERE WE GO AGAIN
MOGA GAK NGECEWAIN YA USAHA OTHOR DI BAB INI DEMI KALIAN😘
...................
Shelly merengek pada Sean agar dibiarkan bekerja. Dia merasa suntuk dan bosan jika harus diam di rumah. Tapi dia tak mau sekantor lagi dengan Sean, alasannya tentu saja tak mau dihajar terus terusan selain di rumah. Dan Sean tak mengizinkan jika Shelly harus bekerja di perusahaan lain.
Akhirnya Sean memutuskan melanjutkan usaha resto yang pernah di handle Edrik yang kini tengah mendekam di penjara.
"Tapi nyari chef dimana coba? kalo montir sih banyak kenalanku. Lagian gak asik banget sih, tukang mesin mainannya panci sama katel. Apa kata dunia perbengkelan coba. Jatoh wibawa gue sebagai -" gerutuan Shelly seketika dibungkam kecupan Sean.
"Sama suami ngomongnya gak boleh 'elu gue'.Lagian, kamu kan ada Axel, sayang. Dia pasti seneng ngelola restoran sendiri, bukan? lagian, kamu gak usah mainan panci sama katel, mainan kamu cuma satu ini aja" ucap lembut Sean sambil merapikan pakaian Shelly dan mengusap lembut rambutnya lalu mengecup kepalanya dan diakhiri mengarahkan tangan Shelly pada cula miliknya.
Shelly mencebik sambil menahan senyum.
"Iya tapi Axel kan ada perusahaan yang harus diurus sama kak Harvey" tukas Shelly yang nyaman dengan mainannya😗
"Axel pasti bisa ngatur jadwal. Kamu tinggal pegang pembukuannya aja.. ahh.. yang.. 1 ronde lagi yok" timpal Sean memejamkan matanya merasakan nyamannya usapan lembut Shelly lalu menghiba meminta lebih.
"1 ronde dimana? masa iya mau di mobil? udah deket kantor pula ini" protes Shelly.
Yap mereka tengah berada di dalam mobil. Mereka dalam perjalanan ke kantor Sean, dan Sean meminta Shelly untuk mengantarnya ke kantor. Inginnya Shelly ikut masuk ke ruangannya. Namun Shelly menolak karena suaminya hanya akan mengerjainya bukan mengerjakan pekerjaan kantornya.
Beruntung mobil itu sudah dipasangi pembatas kaca tak tembus pandang dengan kursi depan, jadi supir tak perlu berkeringat karena melihat dan mendengar aktivitas absurd mereka.
__ADS_1
"Terus gimana nasib dedek gemoy" keluh Sean kala Shelly melepas mainannya.
Shelly balas mengecup bibir Sean dan merapikan dasi juga jas milik sang suami.
"Istirahat siang bersiaplah. Nyonya besar mu ini bakalan memporak-porandakan kantor kakak" tukas Shelly tersenyum genit didepan bibir Sean.
"Tapi.."
"Udah nyampe.. sana kerja. Cari duit yang banyak buat eneng" bantahan Sean dipotong Shelly yang langsung membuka pintu karena mereka sudah tiba 3 menit yang lalu.
Sean mencebik. Tapi dia tak bisa protes. Akhirnya hanya menurut karena itu yang harus dia lakukan daripada dipecat jadi suami karena gak bertanggung jawab.
"Ah iya, aku hari ini jadwal check up. Sebelum ke resto, aku ke rumah sakit dulu ya" ucap Shelly memberi kabar yang lupa dia sampaikan setelah membuat janji melalui telfon.
"What? check up? kenapa gak ngasih tau dari kemaren? jangan jangan kamu pengen godain dokter ganteng itu ya?" ketus Sean yang tak jadi keluar mobil.
"Aeh.. suuzon mulu sama istri. Ya enggak lah. Aku udah ganti dokter sama yang cewek. Lagian aku juga gak mau anu ku di acak acak dokter cowok. Lagian heran deh sama dokter cowok yang ngambil spesialis kandungan. Nih kalo gak percaya" Shelly lantas memperlihatkan ponselnya yang menunjukkan status pendaftaran online nya yang menampilkan nama dokter yang menanganinya.
Sean merasa lega. Ternyata istrinya memang beda dengan para istri lain yang penasaran pada dokter tampan dan melakukan modus periksa kehamilan demi bertemu dokter tampan itu.
"Ya lord, manggilnya napa jadi aa-eneng" gumam Shelly sambil terkikik.
"Pak, ke rumah sakit dulu ya" titah Shelly pada sang supir melalui sambungan intercom yang dipasang dalam mobil jika ingin berkomunikasi dengan sang supir.
"Baik" jawab singkat sopir yang lantas melajukan mobil ke arah rumah sakit yang dituju.
"Bapa kalo belum sarapan, cari sarapan atau tempat ngopi dulu aja, saya takutnya lama ngantri di dalem" titah Shelly pada sang sopir saat keluar dari mobil.
"Ya, bu. Makasih" jawab supir yang memilih mencari tempat ngopi di sekitaran rumah sakit.
Shelly mendapat nomer antrian lumayan nomer besar, dan saat ini cukup masih jauh pada bagiannya. Dia harus bersabar menunggu.
__ADS_1
"Masih 20 orang lagi. Bakalan bete nih" gumam Shelly mengeluh. Dia lantas melihat mesin penjual makanan dan memilih beberapa jenis camilan dan minuman yang bisa mengusir rasa bosannya.
"Pantesan si Axel demen sama mesin beginian. Rame juga ternyata" kikik Shelly yang terus dan terus memilih camilan pada mesin itu seperti mesin penjapit mainan.
"Mamaaa.. makanannya diabisin tante ituu.." rengek seorang anak yang hendak membeli camilan pada mesin itu namun hampir habis diborong Shelly.
Shelly terkesiap lalu menoleh.
"Eh.. maaf.. adek mau apa? nih ambil aja yang adek suka. Gratis" tukas Shelly yang merasa tak enak karena dia hampir menggasak habis isi vending machine itu.
"Beneran tante?" tanya semringah sang bocah perempuan berusia sekitar 6 tahunan itu.
"He em" jawab mantap Shelly menampilkan senyumnya. Namun senyum itu seketika pudar kala sang bocah itu memanggil kawan kawannya.
"Temen temen, sini ada makanan gratiiis" pekiknya yang langsung diserbu teman teman nya yang sama sama menunggu giliran periksa.
"Buset ni bocah gak kira kira ngerampok gue" tukas Shelly yang terduduk di lantai karena aksi rebutan para bocah yang menjadi tontonan menarik para pengantri yang tengah saling berbisik menertawakan.
Semua camilan yang berhasil Shelly borong, ludes tak bersisa.
"Hhh.. harus nyari receh lagi" keluhnya karena kehabisan uang receh.
"Gak mauu... Lio gak mau peliksa.. Lio cuma mau mama.. mana mama Lio.." teriak seorang bocah dengan suara yang Shelly sangat hafal.
Shelly mencari asal suara yang ternyata tak jauh darinya.
"Mario?" sapa Shelly sambil mendekati bocah yang sempat mengambil hatinya.
"Mamaa... itu mama Lio nek.. Lio mau cama mamaa.." pekik Mario sambil meronta dari gendongan seorang wanita paruh baya.
Shelly lantas bergegas mendekat takut bocah lincah itu terjatuh karena rontaan nya dari gendongan wanita yang usianya sudah tak muda lagi.
__ADS_1
"Mario awas jatuh. Sini duduk aja yok" bujuk Shelly yang lantas membuat Mario menurut dan duduk di kursi diantara Shelly dan wanita yang dipanggilnya nenek sembari sesenggukan dan langsung memeluk Shelly saat Shelly sudah duduk.
"Mama..hik.. kemana aja.. hik.. Lio.. kangen..hik" tanya Mario sesenggukan.