Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Anakku


__ADS_3

Belum sempat Shelly sampai di gerbang keluar, pergerakan yang tak cukup jauh di sebelah kirinya membuat Shelly mengurungkan niatnya untuk menunggu di luar gerbang keluar karena Cindy tampak menyeret anak itu keluar dari mobil dan berjalan kearah lebih dalam lagi.


"Sialan tuh cewek, baca pergerakan gue" gerutu Shelly.


"Kenapa, ada apa?" tanya Sean dan Terry bersamaan.


"Mereka turun dari mobil. Tapi ada yang aneh" ucap Shelly memberikan informasi yang dilihatnya. Matanya tak lepas mengikuti arah pergerakan Cindy.


Shelly melepas seat belt lalu turun dari mobil.


"Shelly.. jangan turun.. siapa tau itu jebakan" sergah Terry saat tampak pada layarnya Shelly membawa serta ponselnya keluar dari mobil.


"Harusnya itu omongan gue" batin Sean.


"Kak, ikutin aku. Pak Ujang bersiap di mobil" titah Shelly.

__ADS_1


Sean yang sudah berada tak jauh dari Shelly sebelumnya sempat menghubungi Axel dan pihak kepolisian yang sudah dikenalnya karena kasus yang menimpa sang istri terakhir kali.


"Apa yang aneh?" bisik Sean saat sudah berada disamping Shelly yang mengendap.


"Setan eh setan mesum.. kakak ih, ngagetin aja" latah Shelly yang berjenggit kaget karena kemunculan Sean yang tiba tiba ada disebelahnya.


"Mario gak berontak lagi, kak. Dia kek yang nurut aja gitu ditarik sana sini" lanjut Shelly yang kembali memfokuskan pandangannya pada pergerakan dua orang yang tengah diintainya.


Terlihat Cindy memasukan Mario kedalam sebuah mobil sport dan menguncinya. Lalu dia masuk ke sebuah bangunan yang mana adalah pit station sekaligus tempat panitia festival mobil yang sedang digelar.


"Mario sayang, kamu gak pa pa nak?" tanya Shelly khawatir. Sean memindai sekitar, mencari keberadaan orang yang mungkin sekongkol dengan Cindy.


"Mama.." Mario menggerakkan mulutnya mamanggil Shelly dengan sebutan mama yang biasa dia panggil tanpa terdengar suaranya. Mario tampak menahan tangis namun air matanya kembali luruh ke pipi chubby nya.


"Sayang.. tangan kamu.." Sean terkejut dengan tangan Shelly yang terus mengeluarkan darah meskiun tak banyak. Dia sedari tadi tak melihatnya karena posisinya berada disebelah kiri Shelly, sedangkan tangannya yang terluka adalah tangan kanan nya.

__ADS_1


"Aku gak pa pa kak" Shelly menepis tangan Sean. Namun Sean melakukan hal yang sama dengan Shelly, merobek sebagian kaos T shirt nya dan membalutkan luka Shelly agar tak terkena debu, sambil mengetatkan ikatannya agar menghambat laju keluar darah.


"A..ahh.." Shelly mengaduh, namun harus dia tahan agar tak tumbang ditengah jalan. Tak dia pungkuri jika sedari tadi kepalanya mulai terasa pusing.


"Sungguh romantis. Sayang sekali kamu hidup kembali, Shelly" ucapan tiba tiba Cindy di belakang mereka mengejutkan keduanya.


"Apa yang kamu mau, Cindy. Lepaskan anak ini" desis Shelly yang lantas menoleh pada beberapa lelaki bertubuh kekar mengelilingi mereka. Sean pun terlihat waspada akan pergerakan tiba tiba mereka.


"Aku? hehehe... aku mau apa yang kamu miliki, Shelly. Termasuk benih yang ada di rahim mu" jawabnya terkekeh licik.


Sontak Shelly menyentuh perutnya. Berharap wanita gila itu tak melakukan sesuatu yang lebih mengerikan dari mendorongnya di tangga.


"Wanita iblis. Lepaskan anak itu. Terserah kamu mau kabur kemanapun" tegas Sean yang melangkahkan kakinya kedepan Shelly, melindunginya dari para pria bertubuh kekar yang suatu saat bisa bergerak tiba tiba untuk mencelakainya.


"Axel, cepatlah datang" harapnya dalam hati.

__ADS_1


"Melepaskan anak ku sendiri? apa itu mungkin? apa kalian juga akan semudah itu melepaskan dan memberikan anak kalian pada orang lain?" pengakuan Cindy mengejutkan mereka.


__ADS_2