
Sean yang baru datang melebarkan senyumnya kala mendapati sang istri tengah menunggunya di teras sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar.
Tampaknya sudah mandi.
Tumben. Pikir Sean.
Karena biasanya dia akan berleha leha di kamar dan bermain dengan gadget nya, atau mengutak atik mobil.
Namun kini Shelly tampak cantik dan manis meski mengenakan piyama terusan dengan panjang diatas lutut, rambut panjang digerai tertiup angin sore melambai lambai juga sapuan tipis make up.
"Hai, cantik. Godain abang dong" kelakar Sean saat keluar dari mobil yang diambil alih seorang sekuriti untuk di parkirkan ke garasi.
Shelly mendecak kesal karena digoda sang suami.
"Gitu deh, sukanya ngeledekin aja" gerutu Shelly yang lantas mengambil alih jas yang ditenteng Sean, lalu sebelah tangannya merangkul lengan Sean, menggiringnya langsung keatas, ke kamar mereka.
Tak lupa Sean melayangkan kecupan di bibir karena terpukau dengan kecantikan Shelly.
Cindy yang tengah membawa minuman hangat dari dapur untuk menyambut sang pujaan hati tak mau kalah.
__ADS_1
Dia yang sudah segar karena mandi sore dan mengenakan pakaian tidur berbahan satin se paha, berjalan santai kearah Sean yang tengah diapit Shelly.
"Kak, selamat datang. Ini aku bikinin minuman jahe, biar lelah kakak bekerja seharian terobati dan merasa rileks" ucapnya lembut sembari menyodorkan secangkir minuman yang masih mengepul.
Shelly mengernyitkan dahi menatapnya dari atas ke bawah.
"Sialan, dia lebih seksi" kesal Shelly dalam hati.
Sean menatapnya datar seperti biasa.
"Makasih, tapi gak perlu. Istriku sudah menyiapkan semua kebutuhanku" tolak Sean yang langsung melanjutkan langkahnya menjejaki anak tangga sambil sesekali mencium pipi Shelly.
"Tau dari mana aku nyiapin semua buat kakak?" bisik Shelly menggelitik telinga dan menggoda Sean.
"Bukankah begitu?" Sean bertanya balik. Dia sudah tak sabar bertempur dengan istrinya setelah batal menandai tangga darurat sebagai salah satu tempat petualangan bercintanya dengan Shelly.
Sean lantas langsung membopong Shelly dan membawanya berlari menaiki undakan tangga yang tinggal beberapa pijakan lagi dan langsung membuka pintu kamar lalu menutup dengan kakinya dengan kencang.
blam
__ADS_1
Terdengar kikikan Shelly dan tawa Sean dari dalam kamar yang entah mereka langsung berbuat apa. Membuat Cindy merasa iri dan mengetatkan rahang.
"Liat aja. Sekuat apa kamu menahan godaanku" monolognya.
Saat Shelly tengah kedatangan tamu bulanan, Cindy yang mengetahuinya dari menguping perintah Shelly pada salah satu art untuk membelikannya pembalut karena persediaan habis, merasa mempunyai kesempatan untuk menjebak Sean dengan pesona tubuh moleknya.
Nahas Cindy mendapati dirinya pun didatangi si bulan.
Seminggu berlalu dan keberadaan Cindy benar benar tak kasat mata di rumah besar itu.
Selain harus melakukan segala keperluannya sendiri seperti mencuci baju, menyetrika, memasak dan berbelanja karena Shelly mengunci kulkas dan menitipkannya pada art yang bertugas memasak setelah selesai menyiapkan sarapan, agar Cindy tak seenaknya memakai bahan makanan yang ada di kulkas.
Jika ingin makan silahkan belanja dan masak sendiri. Sindirnya saat kedapatan Cindy tengah menghardik sang koki.
Ada rasa kasihan dalam diri Shelly, tapi dia tak punya cara lain selain membuatnya tak betah.
Siapa suruh gak tahu diri. Batin Shelly membenarkan sikapnya.
Padahal Sean sudah dikirim sang papa mertua ke luar kota dan di naikan jabatannya menjadi direktur operasional.
__ADS_1