
Shelly dan Sean harus kembali lagi ke kantor polisi untuk memberikan pernyataan.
Sedikitnya mereka tak percaya jika Shelly seorang korban penculikan. Pasalnya, yang cocok menjadi korban disini adalah ketiga laki laki yang tengah duduk menunduk dihadapan petugas dengan wajah yang menghawatirkan.
Pak Sukri sang petugas melipat kedua tangannya di dada. Menatap bergantian kearah ketiga pelaku dan Shelly. Mulut yang terkatup rapat ia gerakkan ke kiri dan ke kanan.
"Apa kalian yakin?" tanya Sukri.
Shelly memutar bola matanya. Bingung apa yang membuat petugas ini yakin jika keadaan sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi yang terlihat.
"Enggak mungkin kita yang jadi pelaku, pak. Li.. lihat saja kondisi kami.. wanita gila ini tiba tiba menghajar kami bergantian.." sanggah salah satu pelaku di jeda Shelly.
"Ya, dan atas dasar apa gue mukulin kalian, hah? harta? laki gue udah kaya gak ketulungan, masih muda, idaman semua wanita, ngapain nyari masalah sama kalian yang kere ahlak? boro boro bisa morotin duitnya, buat makan sendiri aja nebeng" cebik Shelly menyindir Rendi.
"Ya kan namanya juga cewek gila" tukas lelaki itu lagi yang merasa kesal karena dihajar korbannya.
"Kegilaan gue belom seberapa. Mau ngerasain yang bener bener gila?" ketus Shelly mengangkat kepalan tangannya kearah lelaki itu yang sontak melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Sudah sudah.. kalian sendiri kenapa berbuat seperti itu?" tanya petugas.
"Tau tuh, Rendi. Dia bilang cuma bakal dikasih duit gede" lanjut laki laki itu melirik kesal kearah Rendi.
"Dijanjikan berapa kalian?" tanya petugas.
__ADS_1
"Duit gede berapa sih? 50 juta gede gak?" lelaki itu balik bertanya pada rekannya yang tengah mengaduh menutupi sebelah matanya dengan tangan kanan, dan menjawab dengan mengangkat bahunya.
"Emang dia punya duit segitu?" tanya Shelly mencibir.
"Elo punya kan?" rekan Rendi melempar pertanyaan Shelly pada Rendi yang menunduk semakin dalam.
"Wah parah lo" lanjutnya yang tahu akan jawaban Rendi dari gesture.
Shelly tersenyum miring.
"Ya kan kalo udah nyekap dia, kita bakal minta tebusan sama lakik nya. Gitu kan, kek di pelem pelem" tukas Rendi membela diri, namun justru menggali kuburannya karena secara langsung mengakui kejahatan terencana nya.
"Sarap lo. Tau gitu gue ga kan ikut ikutan. Mana bonyok semua ni muka. Modal kawin satu satunya ancur kan jadinya" keluhnya kesal pada Rendi.
"Satu lagi, pak" Sean menginterupsi.
"Kenapa?" Sukri menimpali.
"Rendi ini ada hubungannya dengan tindakan Evi waktu menjebak saya memakai narkoba" aku Sean membuat Sukri menilik dalam Rendi.
"Apa itu benar?" tanya Sukri kemudian.
Rendi bergeming.
__ADS_1
Dan diamnya Rendi merupakan pengakuan tak langsung.
Shelly geram, dia lantas meraih kerah Rendi dan mencengkramnya.
"Maksud lo apa ngelakuin hal bejat kek gitu?" tanya Shelly dingin. Auranya sungguh berbeda. Bukan hanya amarah, namun kebencian yang teramat sangat.
"Gue.. gue cuma ngikutin permainan dia aja, Shell. Sumpah gue ga da maksud nyakitin elo. Lo tau efek dari obat itu kan? dia.. dia hamil.. dan dia manfaatin kedekatannya sama lakik elo buat dijebak jadi bapak ntu bayi. Gue.. gue kepaksa ngikutin rencana dia, selain jadi sumber mata uang gue, gue juga bisa nyalurin hasrat gue" terang Rendi membuat mata Shelly berkaca kaca.
Semua orang yang berada di ruangan itu menoleh jijik padanya.
"Itulah sebabnya gue nekat nyulik elo, karena sumber mata uang gue udah lo bekuk. Coba kalo-" ucapan Rendi terputus.
"Gue gak percaya dulu bisa suka sama cowok kek elo" potong Shelly mencibir. Namun matanya mengembun.
"Makanya, lo suka lagi sama gue, biar gue ga bikin ulah lagi. Plis lah Shell.." mohon Rendi dengan tak tahu malunya menggenggam tangan Shelly.
Shelly menepis kasar tangan itu.
"Najis gue suka sama cowok modelan elu. Lagian ya, gue heran sama elo-" ucapan Shelly terjeda oleh kedatangan seseorang dengan paniknya.
"Alvaro.. Ya ampun, kemana saja kamu nak" sapa sendu seorang wanita paruh baya dengan berderai air mata.
"Mama.." lirih Rendi terkejut.
__ADS_1
Wanita itu langsung berlutut dan memeluk tubuh putra bungsunya yang kabur 2 tahun lalu karena hendak dijodohkan.