Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Mengigau


__ADS_3

Akhirnya mereka pulang setelah serangkaian pemeriksaan dan beberapa scene drama kolosal saur sepuh.


Sean memutuskan pulang ke apartemen terlebih dahulu karena jaraknya lebih dekat dari kantor polisi.


Seharian ini rasanya sangat lelah. Apa lagi wanita hamil, pikirnya.


Benar saja, Shelly sudah terlelap bersandar di kursi dengan mulut menganga.


Sean tahu kegunaan mulut itu selain untuk makan dan berkoar.


Sean mengulum senyum kala pikiran kotornya mendominasi otaknya.


Jika saja supir mereka ikut mungkin dia akan kembali membuat sang supir kalang kabut.


Tiba di basement apartemen, Sean tak mau membangunkan Shelly. Secara perlahan dia membopong Shelly yang langsung mengalungkan kedua lengannya pada leher Sean, mencari kenyamanan.


Beberapakali Sean melayangkan kecupan di kening. Sean tak merasa keberatan sama sekali harus membopong sang istri kemanapun, meski kenyataannya saat berada di lift, tangan yang menyangga tubuh yang lebih berisi itu terasa bergetar.


Tampak Shelly menahan senyumnya dengan mata masih terpejam.


"Anak nakal, tunggu pembalasanku" gumam Sean kala menyadari jika dia tengah dijahili sang istri yang berpura pura terlelap.


nit nit nit nit


Sean memencet kombinasi angka pada kunci pintu digital unit apartemennya.


Namun tak bisa terbuka.


"Kamu sudah menggantinya tanpa sepengetahuanku, hah?" gumam Sean gemas dengan tingkah sang istri.


"Gak mau ngasih tau kombinasinya? cup..

__ADS_1


kasih tau gak?


cup..


Yakin mau bungkam?


cup.." Sean mengecupi bibir Shelly di depan unit apartemennya. Sedang Shelly masih setia memejamkan matanya sambil mengulum senyumnya.


"Baiklah, sesuai keinginanmu, sayang. Aku akan melakukannya disini" ucap Sean bertekad. Dia lantas membaringkan Shelly di lantai berkarpet tipis itu sambil terus mencumbunya dan hendak menindihnya.


"Hahaha... dasar mesum, ga sabaran" Shelly tergelak karena Sean benar benar merealisasikan ancamannya.


"Ekhem" suara deheman seorang pria membuyarkan gurauan keduanya.


Shelly dan Sean kompak mendongak dalam posisi Shelly berada dibawah Sean.


"Eh.. pak Terry?" seru Shelly masih betah di posisi tersebut.


"Apa.. kamu sudah memutuskan untuk mengingatnya?" tukas Terry menaikkan sebelah alisnya.


Meski Shelly tak pernah memberi harapan sedikitpun padanya, tetap saja setitik harap darinya terus membesar.


Meski otak memerintahkan untuk tak berharap, hatinya secara inisiatif menyimpan setitik harapan agar Shelly menjatuhkan hati padanya.


Tak masalah meski hanya sebagai pelarian ataupun pelampiasan. Dia sudah bertekad akan lambat laun membuatnya jatuh hati padanya.


Tapi melihat pemandangan seperti ini, pupus sudah harapannya untuk menjadi tempat pelipur lara Shelly.


"Ehe.." Shelly hanya menjawab dengan cengengesan.


"Apa maksudnya 'memutuskan untuk mengingat'?" tanya Sean sedikit menebak dalam pikirannya.

__ADS_1


"Itu.. mmm.." gagap Shelly tak bisa menjawab.


Terry lantas melempar kunci mobil Shelly yang selama ini terparkir di garasi rumah ibunya.


"Aku kesini cuma ngembaliin mobilmu. Jangan kalap lagi. Aku pergi" tukas Terry datar lantas berbalik setelah berpamitan.


"Eh.. tung.. tunggu, pak.." sergah Shelly menahan langkah Terry.


"Aku pulang" Sean malah pamit pulang ke unit sewaannya di lantai yang terpaut 1 lantai diatas unit yang Shelly tempati.


Air mukanya menunjukkan jika Sean tengah menahan kesal.


"Aduh, gimana ini" gusar Shelly yang dilema.


Dilema antara rasa tidak enak karena telah melibatkan Terry dan sedikit memanfaatkannya dalam drama rumah tangganya, juga karena telah membohongi sang suami dengan berpura pura amnesia.


"Heuuh.. punya lakik ambekan nya minta ampun" gerutunya.


"Pak, makasih dan maaf.." ucap singkat Shelly tanpa bisa panjang lebar memberikan narasi karena takut jejak sang suami menghilang. Secara, dia belum tahu lantai dan nomor unit yang Sean sewa.


Shelly lantas melesat menyusul Sean kearah lift dengan kaki telanjangnya. Sedangkan sepatunya ia tenteng sambil berlari.


Terry memperhatikan punggung itu melompat menjauh dan menghilang di belokan.


Memastikan jika ini adalah terakhir kalinya dia melihat punggung cantik itu.


Air matanya tak ia sadari membasahi pipi. Seperti perasaannya yang tak ia sadari telah ia jatuhkan sedalam dalamnya pada Shelly.


Ini memang salahnya karena mengikuti perasaan dan keinginan untuk bisa memiliki apa yang tak mungkin ia miliki.


"Selamat tinggal. Semoga kamu selalu bahagia" lirihnya mendoakan kebahagiaan Shelly.

__ADS_1


Hanya itu yang bisa ia lakukan terakhir untuknya.


Biarlah dia mencari cara untuk membujuk Mario yang tengah sakit dan selalu mengigau memanggil nama Shelly.


__ADS_2