Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Melamar Atau Dilamar


__ADS_3

Shelly memutuskan melamar pekerjaan. Dia tak mau terlibat dalam hubungan apapun dalam dunia pekerjaan.


Luka di kepalanya memang belum sepenuhnya pulih, terkadang dia merasakan sakit yang cukup hebat kala bergerak secara mendadak ataupun terlalu lelah dalam beraktifitas.


Tapi dia juga tak bisa tinggal diam sendirian didalam apartemen.


Meski saldo rekeningnya membengkak karena kiriman Sean juga Rosie, semua itu tak berarti jika dia tak bisa keluar rumah.


"Nyet, jemput gue di apartemen" titah Shelly pada Axel yang langsung diputus secara sepihak oleh Shelly karena Axel pasti memberondongnya dengan cercaan dan pertanyaan.


Shelly mengirimkan lokasi apartemen milik sang suami tersebut karena Axel belum pernah datang ke apartemen ini.


"Gue di basement" ketik Axel pada aplikasi pesan berwarna hijau yang langsung centang biru.


Tanpa membalas, Shelly langsung melangkahkan kaki ke arah lift untuk turun ke basement.


Pintu lift terbuka, Shelly langsung masuk dan memencet tombol basement.


"Apa kamu.. anda akan bepergian?" tanya Sean yang meralat panggilan untuk Shelly. Dia sudah ada di dalam lift kala Shelly masuk.


Shelly meliriknya sekilas lalu menggumam sebagai jawaban.


Sean sudah kembali di tempatkan di kantor asalnya atas rengekannya pada sang papa yang tidak mengetahui tentang perselisihannya dengan Shelly.


Yang Sabastian, sang papa ketahui hanyalah Cindy telah mencelakakan Rosie juga Shelly, sehingga anak koleganya itu harus mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

__ADS_1


"Apa perlu saya antar?" tawar Sean berharap.


Shelly hanya diam lalu memberikan tatapan mendelik.


"Kalau begitu, anda gunakan saja mobil ini. Biar saya memakai-"


"Tidak perlu" potong Shelly menolak tawaran Sean.


Sean berfikir Shelly marah padanya karena insiden di rumah sakit dan usahanya untuk menggodanya.


Sean terdiam. Dia lupa, meski Shelly amnesia dan sifatnya berubah drastis, Shelly tetaplah Shelly yang tak bisa diperlakukan secara murahan.


ting


Tentu saja perilakunya tak luput dari pengamatan Sean.


"Axel?" tanya Sean bermonolog. Beberapa pemikiran berkecamuk dalam kepalanya. Namun dia tetap berfikiran positif. Toh itu saudaranya sendiri. Dan waktu Shelly baru siuman, Axel mati matian menyatakan jika dia saudaranya. Mungkin saja dia meminta bantuannya karena status yang disematkan Axel pada Shelly.


Sean sudah meminta izin pada perusahaannya untuk datang terlambat karena ada urusan keluarga.


Dia penasaran Shelly hendak pergi kemana dengan motor Axel.


Setidaknya dia khawatir kesehatan Shelly memburuk karena bepergian menaiki motor.


"Restoran? apa dia janjian dengan seseorang?" monolog Sean yang lantas menepikan mobilnya. Berniat turun dan mencari tahu, namun dia melihat Axel duduk menunggu di motor.

__ADS_1


"Tunggu disini. Gue gak lama" titah Shelly yang diangguki Axel.


Shelly berjalan kearah pintu restoran sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas nya.


"Permisi mas, saya pelamar yang sudah mengirimkan form online dan mau interview" ucap Shelly pada pria berseragam khas pelayan restoran.


"Ah.. pelamar ya. Mari ikut saya" ajak pegawai pria dengan warna seragam berbeda dengan pegawai lain.


Shelly mengikuti langkahnya yang mengarah kearah..


Toilet?


Shelly mengernyit.


"Saya sarankan anda membersihkannya dahulu. Saya takut anda tidak diterima sebagai pegawai, melainkan istri" tukas si pegawai menjelaskan kebingungan Shelly.


fuuhhh


Shelly menghela nafas. Selalu ada yang seperti ini. Bukan salahnya berparas cantik. Namun anugrah yang diberikan padanya tak jarang menyulitkannya.


Tapi dia memang salah karena tak memposisikan diri sebagai pelamar dengan bermake up cukup tebal.



Siapa yang akan percaya jika penampilannya yang seperti ini hendak melamar pekerjaan. Yang ada dia yang dilamar.

__ADS_1


__ADS_2