Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)

Friends With Benefits (Teman Tapi Mesra)
Bulan Sabit


__ADS_3

"Matilah kamu..." pekik Evi.


bugghh..


Evi terpental ke tembok belakang karena tendangan telak yang dilayangkan Shelly kearah dadanya.


Shelly sudah memprediksi pergerakan Evi, dan kini saatnya dia membalaskan rasa sakit hatinya dengan melancarkan pukulan bertubi tubi sembari menduduki perut Evi yang tengah terkapar secara membabi buta sambil berteriak.


"Kamu yang harusnya mati, cewek sialan. I told you not to mess with me (sudah ku peringatkan untuk tak macam macam denganku)" raung Shelly sambil menitikan air mata.


Meski amukan Shelly sempat ditahan Sean dan petugas polisi, namun amarahnya membuat kekuatannya berlipat sehingga beberapa kali terlepas dari cekalan Sean dan kembali melayangkan pukulan pada Evi yang sudah tak bergerak.


"Sayang, hentikan.. hentikanlah.." bujuk Sean lirih. Dia sangat mengerti perasaan tersakiti istrinya. Amarah yang dia pendam selama ini akhirnya bisa dia lampiaskan.


Beruntung petugas kepolisian mengerti hal itu, jika yang Shelly lakukan hanyalah usahanya membela diri semata. Dan dia menyaksikan sendiri bagaimana kegilaan Evi bisa membuat orang lain terluka parah.


Di kantor polisi, Sean memberikan bukti sampel darahnya yang masih dalam pengaruh obat Evi saat itu, juga sampel darah Evi di kontrakan Sean saat dia kembali ke kota itu untuk memeriksa keadaan sambil menyiapkan dokumen kepindahannya kembali ke kota ini.

__ADS_1


Saat dia kembali, memang tampak bercak darah yang hampir mengering disekitar pecahan kaca dari meja yang pecah. Dan ternyata itu adalah darah dari rahim Evi yang keguguran dan positif mengandung obat dengan jenis yang sama dengan yang terkandung dalam darah Sean.


Sean sengaja membawa bukti itu ke restoran kala melakukan laporan tentang penemuannya yang sama dengan Shelly tentang praktik pengolahan lipgloss berbahan narkotika, dan pihak kepolisian memberitahukan tentang laporan yang sama dengan pelapor bernama Shelly.


Sean bersyukur, akhirnya masalahnya selesai.


Setelah serangkaian pemeriksaan, termasuk tes urine Sean yang menyatakan negatif mengandung narkotika, Sean dinyatakan sebagai korban dan mereka diperbolehkan pulang. Sedangkan Evi, dia dibawa ke rumah sakit khusus tahanan, pun dengan Edrik yang ikut ditahan karena melancarkan praktik penyebaran dan produksi kosmetik berbahan barang haram.


"Apa kalian baik baik saja?" tanya Sean memeluk dan menciumi kepala Shelly di dalam mobil yang di kemudikan supir pribadi Rosie.


"Hm.. kita baik baik aja" jawab Shelly memejamkan matanya karena lelah. Sebelah tangannya mengusap lembut perutnya.


Shelly mengangguk sebagai jawaban.


"Mau makan apa?" lanjut Sean bertanya.


"Seafood keknya enak deh" jawab Shelly mengubah posisi duduknya bersandar pada dada sang suami.

__ADS_1


Sean kembali mengecup kepala Shelly.


"Kita ke hotel terdekat ya pak" pinta Sean pada sang supir yang kemudian dianggukinya.


"Kok hotel?" tanya Shelly terheran.


"Orang laper malah diajak ngamar" lanjut Shelly menggerutu.


"Kita makan nya di resto hotel, sayang. Udah makan kan pasti ngantuk. Ya lanjut ngamar" jawab Sean terkekeh.


Sean mengeratkan pelukannya. Ingin menyalurkan rasa rindunya yang tertahan selama ini.


"Maafkan aku.. maafkan aku sayang. Aku tahu permintaan maaf ku gak akan mengembalikan hatimu yang sudah retak. Setidaknya, aku berusaha untuk menyusunnya kembali ke sedia kala. Meski tak sesempurna awal, tapi aku masih punya kekuatan bulan untuk mengembalikannya ke sedia kala" bujuk Sean yang dibalas pukulan di dada nya.


"Kamana atuh bulan" cebik Shelly membuat Sean terkekeh.


Sean lantas mengecup sebelah tangan Shelly dan menyimpannya di tempat sakral.

__ADS_1


"Bulan sabit yang ini butuh pencerahan" tukas Sean.


__ADS_2