
tring
tring
Sebuah panggilan video masuk melalui ponsel milik Shelly.
Dilihatnya sekilas dan membuat Shelly menghentikan kunyahannya sebentar, lalu ia kembali menikmati paha ayam dengan bumbu kecap lada hitam.
"Kenapa gak diangkat? mungkin panggilan penting" ucap Rosie yang terheran dengan Shelly karena membiarkan panggilan berakhir begitu saja tanpa ia terima.
"Nanti aja. Tangannya kotor" jawab diplomatis Shelly yang dimengerti oleh Rosie.
Mereka pun melanjutkan makan dengan khidmat. Menikmati menu lama dengan bumbu baru.
"Bibii..." teriak Rosie memanggil sang a er te.
"Iya, nyaah" seorang art berusia paruh baya mengenakan kain sinjang sebagai bawahan melangkah cepat mendekat kearah majikannya.
"Kamu belajar masak dimana?" tanya Rosie dengan mulut yang tak bisa berhenti mencecapi bumbu yang tertinggal di piring. Coba kalo giginya kuat udah di gares sekalian ma piringnya.
"Eh.. itu.. anu.. den.. den tamu yang masak, nyah. Maafin bibi" jawab bi Yani dengan nada penuh penyesalan.
"Den tamu? siapa? koki baru?" tanya Rosie terheran. Sepengetahuannya dia sangat menghafal satu per satu pegawai yang bekerja di rumah ini.
"Nenek.. Shelly izin terima telfon dulu ya" ucap Shelly memotong atensi Rosie dan langsung menganggukan kepalanya. Ponsel itu tak hentinya berdering membuat Shelly merasa jengah.
Shelly pun pergi kearah teras belakang yang bersebelahan dengan ruang makan dan hanya dibatasi kaca besar.
"Itu.. den tamu.. yang duduk disebelah non Shelly, nyah" jawab bi Yani meneruskan pembahasannya dengan sang majikan sembari menunjuk Axel dengan jempolnya dan sedikit melirik padanya.
Rosie menolehkan kepala dan tatapannya mengarah pada Axel yang tengah cengengesan menampakkan gigi putih yang berbaris rapi.
"Kamu.. Axel kan?" tanya Rosie sedikit ragu.
"Iya, nek. Saya Axel kembaran beda rahimnya Shelly" jawab Axel dengan santainya.
"Kamu bisa masak?" Rosie bertanya lagi.
"Nenek belum nyoba daun apa itu Sel, yang kamu masak di kosan?" ungkap Sean sekaligus bertanya pada Axel.
"Kangkung. Oseng kangkung" jawab Axel.
__ADS_1
"Nah itu. Oseng kangkungnya.. beuuh..." Sean memberi apresiasi pada bayangan rasa oseng kangkung kala itu membuat Axel tersenyum puas.
"Kamu kok gaya bicaranya jadi sama kayak mereka" tukas Rosie memicingkan mata pada Sean.
"Hehe.. abis main sama mereka asik, nek. Gimana.. enak gak masakannya?" lanjut Axel.
"Enak.. banget malah.. kamu ajarin bi Yani ya, Axel. Ingat jangan sampai kamu mengambil tugas dan tanggung jawab orang lain. Kalo sesekali boleh, tapi kalo setiap saat.. bisa mati kekenyangan nenek" kelakar Rosie setelah memberi wejangan pada Axel dan dibalas tawa ringan Sean dan Axel.
"Ya sudah, bibi boleh kebelakang lagi" titah Rosie yang diangguki bi Yani.
Sean sudah selesai dengan makanannya, namun dia terheran dengan kursi kosong dengan piring yang masih terisi setengah dimana yang menikmati makanan itu belum juga kembali.
Sean melirik kearah jendela besar yang menampakkan wanita yang dicarinya tengah duduk menyangga kepalanya sambil menunduk dengan ponsel dalam genggamannya.
Tampaknya wanita itu sudah selesai melakukan panggilan telfon, tapi belum juga beranjak dan menuntaskan makan siangnya.
Sean memutuskan beranjak dan mencari tahu apa yang terjadi dengan wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Istri rasa teman untuk saat ini.
"Hei, are you okay?" (hei, apa kau baik baik saja?) tanya Sean sembari menumpukan kedua lutut nya didepan Shelly agar bisa melihat wajahnya.
"He's just a jerk. (Laki laki itu memang brengsek) Gue gak tau kenapa masih suka sama orang itu. Ngapain juga dia nelpon kalo cuma buat ngeliatin kelakuan bejatnya" keluh Shelly meluapkan apa yang ia pendam 5 menit yang lalu. Selama ini dia hanya curhat pada Axel seorang. Namun saat ini yang ada didepannya adalah Sean. Orang yang baru diikrarkan sebagai 'teman baru'. Dan Shelly berharap Sean bisa ia percaya.
"Mungkin" Shelly menjawab sambil mengedikkan bahu.
"Bisakah kamu melupakannya dan menyukai orang lain?" bujuk Sean lembut. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menyelipkan juntaian rambut panjang Shelly kebelakang telinganya.
Sean sedikit terkejut dengan sikapnya sendiri. Secara selama ini dia tak pernah dekat dengan wanita manapun, apa lagi sampai mempunyai hubungan manis, dan perilaku manisnya terjadi begitu saja secara reflek.
"Suka sama yang lain? hehe.. maksudnya om?" cebiknya lembut sambil mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, lantas kedua pasang mata berbeda warna itu saling bersitatap.
Sean memutuskan tatapan itu lebih dahulu karena dia yakin jika wajahnya telah berubah warna.
blush..
"Hahaha... om baper ya.. hahaha...." goda Shelly menertawakan sikap Sean yang tertunduk malu.
Sean terperangah dengan sikap nyeleneh istri kontraknya ini.
"Sialan, ngetawain ya kamu" gerutu Sean yang gemas lalu menggelitik pinggang Shelly, membuat gadis itu tertawa nyaring menahan geli hingga mereka terjungkal berdua ke lantai.
__ADS_1
Sean sontak langsung berdiri kala menyadari tubuhnya tak sengaja menindih tubuh sintal Shelly dan kedua telapak tangannya menumpu pada gundukan terlarang milik istri kontraknya.
Kini rona merah muncul di wajah Shelly. Entah kenapa dia tak berontak kala ketidak sengajaan itu menimpa dirinya saat ini. Seringkali dia mendapat ketidak sengajaan tanda kutip seperti ini dan berakhir disidang pihak kampus atau er te setempat karena dia menghajar habis habisan pelaku seperti dosen mesum terakhir kali.
"ekhem.. sorry.." ucap Sean penuh penyesalan. Dia lantas menyodorkan tangan kanannya untuk membantunya berdiri.
Shelly tahu jika pria didepannya ini orang yang tulus. Tatapan matanya yang memberitahunya.
Tangan dengan jari lentik itu meraih uluran tangan Sean dengan senyum mengembang.
Namun tanpa Sean duga saat Shelly berhasil berdiri, dia membalikan tubuh Sean membelakanginya lalu melompat ke punggung nya.
"Majuuu..." pekik Shelly merentangkan sebelah tangannya kedepan.
Sean tak menyangka Shelly tak marah padanya. Dia malahan seolah mengajaknya bermain.
Jadi begini kalau menikah dengan cewek yang usianya jauh dibawah cowok seperti dia dan Shelly yang terpaut 7 tahun, akan ikut terbawa lebih muda jiwanya karena harus mengimbangi pasangannya.
Sean tersenyum lebar lalu berlari membawa sang istri di punggungnya menuju garasi super luas milik sang nenek.
Dia tahu apa yang bisa menarik perhatian Shelly.
Sebuah penampakkan modern yang pasti Shelly suka.
Jeep Mercedes Benz G Class.
"Uwoooow... momy should see this.." (wooow.. momy harus melihat ini) ucap Shelly takjub dan langsung melompat turun untuk berlari mendekat.
Matanya membola dan kakinya melangkah mengelilingi jeep keluaran terbaru dari Mercedes Benz itu.
"Apa ini milik nenek?" tanya Shelly sambil mengintip kaca hitam tak tembus pandang itu.
Sean yang tengah bersidekap pun merogoh kantong celananya dan meraih kotak kecil lalu menekan salah satu tombol kala melihat tingkah Shelly.
nit
nit
Kunci otomatis terbuka saat remot itu di tekan.
__ADS_1
"Masuklah. Mobil ini milik istriku" jawab Sean menggoda Shelly yang langsung menoleh padanya dengan tatapan yang..