
"Pak Terry?" seru Shelly terkejut sambil membawa semangkuk penuh bubur.
"Loh, Shelly. Kamu disini juga?" sahut Terry sambil mengaduk bubur panas milik bocah imut itu yang tampak tak sabar untuk segera melahap buburnya.
"Papa tepetan iii.. fuuhh fuuuuuh..." bocah imut itu mengerucutkan bibir merahnya meniup bubur yang masih mengepul.
Shelly dan Terry tergelak bersamaan melihat tingkah lucunya.
"Boleh gabung? keknya ga da lowongan lagi buat saya" ucap Shelly yang celingukan mencari kursi kosong.
"Please" Terry mempersilahkan dengan senyuman. "Yess" batin Terry bersorak.
"Dedek gemay syapa namanyaaa?" tanya Shelly gemas pada bocah berusia 4 tahun itu sambil mencubit pipinya.
"Iiii.. tante jan pedan pedan deeh.. Lio mo makan inii.." bocah itu menepis tangan jahil Shelly lalu kembali meniup buburnya.
"Boleh tante liat tas nya?" tanya Shelly pada si bocah yang tengah sibuk meniup dan mencicip buburnya apakah masih panas atau tidak. Lantas mengangguk.
"Let's see.. ow.. you have a book (coba kita lihat.. ow.. kamu punya buku)" seru Shelly antusias.
Bocah bernama Mario itu menoleh lalu memperhatikan Shelly yang tengah mengoceh mengomentari setiap gambar yang Mario buat dalam buku gambarnya.
Meski berupa coretan coretan benang kusut, namun Shelly berhasil membuat narasi dari tiap goresan krayon itu dan menarik perhatian Mario yang lantas mendekat dan memperhatikannya.
Shelly memberikan kode pada Terry agar mengaduk bubur itu agar uap panasnya keluar dan panasnya sedikit berkurang.
__ADS_1
Dengan ceria Shelly membuat sebuah cerita dari goresan krayon Mario yang ditanggapi tawa dan kikikan si bocah imut itu sambil menerima suapan demi suapan bubur yang sudah menghangat.
"Habiiis...." ucap Shelly kala tiba di halaman terakhir buku gambarnya, bersamaan dengan habisnya bubur dalam mangkok Mario.
Mario bertepuk tangan dengan gembiranya.
"Tante.. ladi.. celita ladi.." pintanya pada Shelly.
"Sayang, tantenya biarin makan dulu ya. Kesian tuh buburnya udah dingin. Biar ada tenaga buat cerita lagi" bujuk Terry yang diikuti Shelly dengan mengelus perutnya dan menampilkan wajah sedih.
Mario menilik wajah sedih Shelly yang dibuat buat, lalu mengusap pipinya dengan tangan mungil dan mengecup pipi Shelly.
"Tante janan cediih.. lapel ya.. makan nih abisin bial nda sedih ladi" bujuknya sambil menyodorkan mangkuk milik Shelly yang sebagian kerupuknya sudah layu.
"Mamanya mana? kok ga keliatan?" tanya Shelly pada Terry yang juga tengah mengaduk buburnya dan menaruh cukup banyak sambal hingga bubur itu berwarna merah.
"Entahlah" jawab singkat Terry mengedikkan bahu tak perduli.
"I see (aku mengerti)" timpal Shelly seketika merasa tak enak.
"Berat gak jadi single parent?" lanjut Shelly memaksakan melahap bubur dan mencoba tak memperdulikan warna bubur milik Terry.
"Siapa yang single parent?" jawab Terry mengernyit.
"Lah ini anak siapa dong?" balas Shelly.
__ADS_1
"Ponakan" jawab enteng Terry yang tak Shelly percaya.
"Ponakan jaman sekarang manggilnya papa ya, sama pamannya" celetuk Shelly.
"Ehe, sengaja" timpal Terry santai.
Shelly mengernyit. Lalu matanya beredar pada sekitar.
"Ya elah si bapak bisa aja" timpal Shelly sambil menampar lengan Terry hingga terbatuk karena tersedak.
Yap
Para wanita melirik padanya dan berbisik bisik sambil senyam senyum.
uhuk
uhuk
"Kamu itu.." geram Terry yang langsung dimintai maaf oleh Shelly.
"Eh.. maap maap.. abis aneh aja. Bawa bocah gemesin kek gini bukannya pada ngehindar, malah pada ngedeket kan?" Shelly mengomentari.
"Emang tujuannya itu. Terbukti ampuh kan? kamu langsung ngedeket" jawabnya yang dibalas lemparan tisu gulung oleh Shelly. Terry terkekeh karena berhasil mengerjai Shelly.
TAHAAAN...
__ADS_1
PANTENGIN TEROOOS😆